Astra Kembangkan Desa Wisata Tanon

Trisno, Inisiator dan Penanggung Jawab Desa Menari dan 2 Penari Cilik (Photo: Anastasia/SWA).

Desa Wisata Tanon atau Desa Menari merupakan desa hasil binaan Astra. Lewat Kampung binaan Astra (KBA), Trisno, sang inisiator, menyulap desa yang tadinya masuk dalam kategori desa tertinggal menjadi desa yang memiliki kemandirian ekonomi. Ia merupakan salah satu pemenang Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards 2015 untuk kategori Lingkungan.

Desa Tanon merupakan desa yang terletak di lereng Gunung Telomoyo, Getasan, Semarang. Dengan total penduduk berjumlah 151 jiwa dan sebagai besar berprofesi sebagai peternak, sisanya petani, dan pekerja kasar. Dari segi pendidikan, minat orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi cenderung rendah. “Rata-rata mereka setelah SD bekerja sebagai buruh bangunan dan tenaga lepas lainnya dan tentunya pendidikan yang rendah menyebabkan tingginya angka pernikahan dini,” kata Trisno, Penanggung Jawab Desa Menari.

Awalnya, dia berfokus pada pengembangan peternakan sapi melalui manajemen peternakan. Namun, selama 3 tahun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, karena pola pikir masyarakat yang belum mau menerima perubahan.  "Akhirnya kita ganti formulanya ke sektor wisata. Tapi, sektor peternakan dan pertanian yang merupakan profesi warga sehari-hari tetap kita pertahankan sebagai salah satu atraksi wisata"

Kegiatan yang ditawarkan di Desa Menari ini meliputi, Outbond Deso, Paket Wisata Wirausaha, Paket Pagelaran Seni, dan Paket Pendidikan Luar Sekolah, “Kami menjual aktivitas warga, misalnya aktivitas mengenal sapi, dari mulai merumput hingga memerah susu kami tawarkan disini. Ke depan, kami akan menambah proses pengolahan biogas. Begitupun dengan pertanian, dari menanam hingga memanen,” ujarnya.

Dari segi pendapatan, warga desa mendapatkan tambahan pendapatan sebesar rata-rata Rp 100-150 ribu per event. “Kami menggunakan sistem bagi hasil, tergantung income yang masuk,” kata dia. Selama 3 tahun ini, Desa Tanon tercatat telah mendapatkan penghasilan sebesar Rp250 juta. Trisno melanjutkan, program yang dijalankan berada dalam sektor wisata, tapi yang saat ini didorong adalah sektor UMKM, sejalan dengan 4 pilar corporate social responsibility (CSR) Astra, yakni kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Di sektor kewirusahaan, desa ini memproduksi sabun susu, kripik pegagan,dan kerajinan. “Target saya kedepan adalah membuat perusahaan sosial berbasis keluarga, di mana sahamnya adalah kepala keluarga. Kami mencoba untuk mengakomodir semua usaha yang ada di sini dan melakukan pemasarannya pada satu pintu,” Trisno menjabarkan. Lebih jauh, perihal penjualan dan distribusi, dia bilang melalui media sosial, konsep sovenir, dan bantuan Astra.

Sementara itu untuk pendidikan, diadakan pelatihan non-formal seperti, kursus bahasa inggris, pembuatan kerajinan, pembuatan tepung sayur, dan pelatihan packaging souvenir. Dalam hal kesehatan, Trisno mengaku melaksanakan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PUBS) secara rutin, screening diabetes secara berkala, dan senam sehat.

“Di tahun 2017 ini program besarnya adalah distribusi air. Dimana kita menaikan air ke titik tertinggi Desa Tanon dengan disupport oleh tenaga ahli dan support dari Astra sebesar Rp 150juta,” dia menambahkan.  Total dana yang diberikan Astra pada tahun ini adalah sebesar Rp 285 juta guna pembangunan dan pemberdayaan desa. Selain itu, tercatat 36 orang menerima beasiswa penuh Astra untuk melanjutkan pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi.

Tahun 2018 mendatang, Trisno mengaku akan lebih memfokuskan diri pada penataan ekonomi dan pendidikan. Harapannya adalah agar proses menjadi desa mandiri segera terwujud.” Kami akan fokus pada pengembangan kewirausahaan membuat tepung sayur dan packaging souvenir. Harapannya kedepan, roda ekonomi akan berputar di desa kami, sehingga laju urbanisasi bisa ditekan,” kata dia.

Dengan menyasar koorporasi, pada tahun ini sudah ada 2 rombongan dari Singapura dan Filipina yang mengunjungi Desa Tanon.  Tercatat pada tahun 2013 desa ini didatangi 2.500 pengunjung dan tahun 2014 mencapai 3 ribu pengunjung. “Kemarin sempat ada yang datang dari Perancis dan Belanda, rencananya akan ada 2 peneliti dari German yang akan tinggal disini," dia melanjutkan. Untuk menarik wisatawan lebih luas, Trisno membeberkan akan menjadikan Festival Lereng Telemoyo yang pertama diadakan tahun ini sebagai festival tahunan desa.

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!