BCA Luncurkan Buku Batik Pekalongan

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meluncurkan buku berjudul "Batik Pekalongan : Dari Masa ke Masa”. Buku yang ditulis oleh Budi Mulyawan itu didukung penuh oleh BCA sebagai salah satu inspirasi bagi kemajuan teknik membatik di Indonesia.“Dengan buku ini kami berharap bisa berkontribusi membantu masyarakat luas mengenal lebih dalam Batik Pekalongan yang sungguh kaya akan kreasi,” ujar Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja dalam acara Forum Kafe BCA VI yang bertema “Khasanah Batik Pesona Budaya”.

BCA ingin memberikan rekam jejak falsafah batik kepada generasi muda supaya dapat mengenal lebih dekat batik dari masa ke masa. Melalui hal tersebut diharapkan batik dapat menjadi salah satu warisan budaya yang perlu dilestarikan.

Menurutnya, aspek sosial budaya yag terangkum di balik sehelai kain batik menawarkan nilai tambah yang tinggi di pasar domestik maupun internasional. Tidak hanya menjual kain batik dan produk batik yang bermutu tinggi, tetapi juga merepresentasikan jiwa dan identitas bangsa Indonesia.

Sepanjang 2015 lalu, nilai ekspor batik mencapai angka US$178juta atau menigkat 25,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini batik asal Indonesia banyak menyasar Jepang, Amerika Serikat dan Eropa sebagai destinasi ekspornya.

Beragam inisiatif yang dilakukan BCA, lanjut Jahja, berkontribusi menyediakan wadah bagi peningkatan kualitas para perajin Batik serta kemajuan budaya dan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. “Kami baru saja meresmikan kampung Batik Gemah Sumilir Wiradesa, sebagai salah satu Desa Wisata Binaan BCA,” ucapnya.

Di tempat yang sama Budi Mulyawan mengungkapkan, buku tersebut berisikan mengenai pembabakan waktu dari masa ke masa mengenai Batik Pekalongan mulai dari tahun 1820-2009. Di dalam buku yang tebalnya 212 halaman juga digambarkan mengenai jejak-jejak batik di Pekalongan. Selain itu dijelaskan juga mengenai wajah batik Pekalongan masa kini. “Saya berharap buku ini menjadi penyambung lidah para pengrajin ke masyarakat luas mengenai batik Pekalongan,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)