Cara Sahabat Wanita Bangkitkan Batik Banyumasan

Popularitas batik Banyumasan yang tenggelam di antara batik Pekalongan, Solo dan Yogyakarta mengetuk Yayasan Sahabat Wanita untuk membangkitkan batik pedalaman khas Banyumas – Purwokerto ini. Yayasan yang berada di bawah Putera Sampoerna Foundation ini, memberikan pelatihan membatik dari Oktober 2014 – Mei 2015.Pelatihan ini diharapkan dapat membuat masyarakat Banyumas memilih membatik menjadi salah satu sumber penghasilannya.

Komitmen pengrajin batik yang memudar menjadi alasan pengadaan pelatihan ini. Pengrajin batik di Banyumas semakin sedikit karena lebih memilih membuat batik Pekalongan, Solo dan Yogyakarta yang banyak diminati pasaran.

Menyikapi hal tersebut, pelatihan ini bukan hanya memberikan pengetahuan membatik tetapi juga membekali warga dengan ilmu penjualan dan akan bekerja sama dengan dinas setempat untuk memudahkan penjualan batik.

Pelatihan Batik - 1

Saat ini popularitas batik Banyumasan kalah dibandingkan batik dari Pekalongan, Solo dan Yogyakarta. Popularitas yang menurun ini disebabkan oleh semakin sedikitnya jumlah pengrajin batik Bayumasan, karena memilih membuat batik Pekalongan, Solo dan Yogyakarta.

"Harapan dengan adanya pelatihan ini, dapat membuat peserta  tidak hanya memproduksi batik jika  ada pesanan, tetapi juga dapat memproduksi batik sendiri untuk dijual,” papar Nur Aini Wijayanti, Program Officer Yasayan Sahabtat Wanita.

Pelatihan Batik - 2

Pelatihan ini memiliki 50 peserta yang terdiri dari 35 pembatik dan 15 pembuat produk turunan dari batik. Peserta ini berasal dari daerah yang memiliki sentral pembuatan batik di Banyumas, berdasarkan rujukan dari dinas setempat. Latar belakang peserta ada yang sudah memiliki pengalaman membatik dan juga yang belum memiliki pengalaman membatik sebelumnya. Peserta akan menerima pelatihan selama 6 jam dalam sehari, yang berlangsung selama3 hari berturut dalam sebulan.

“Awalnya saya diajak teman-teman saya, tetapi memang saya senang dan hobi membatik. Saya merasa puas ketika menggambar pola akhirnya dapat menjadi sebuah kain. Saya berharap dapat mengembangkan kemampuan membatik saya dan akhirnya bisa menjadi bisnis. Kan ada yang berasal dari hobi dan bisa jadi bisnis,” ucap Ami, salah satu peserta pelatihan.

Program yang merupakan pemberdayaan wanita ini, membekali peserta yang dititikberatkan pada proses desain awal motif Banyumas, serta peningkatan keterampilan membatik tulis dan kombinasi printing tulis. Peserta juga dikenalkan kembali filosofi serta motif pakem batik Banyumas. Kemampuan membatik ini juga diperkaya dengan pelatihan pembuatan produk turunan seperti ornamen dekorasi rumah, aksesori, souvenir, produk fungsional seperti dompet, tas, tas laptop, Ipad case, tempat telpon selular.

Selain itu peserta juga dibekali dengan dengan embangun jaringan dan pengenalan akses pemasaran hasil produk batik dan produk turunan batik. Kegiatan lain, pelatihan ini juga disertai dengan program Pendampingan yang meliputi kewirausahaan, pengelolaan keuangan, business plan, penguatan kelompok, program kerja kelompok, perhitungan harga produksi dan penetapan harga jual, sales dan marketing, pemasaran, penjualan online, quality control, peningkatan kreatifitas, dan pendampingan pengembangan brand produk.

Pelatihan - 2

Penyelenggaraan pelatihan ini bukan merupakan hal yang mudah. Diperlukan usaha yang lebih untuk memelihara semangat para peserta untuk tetap konsisten mengikuti pelatihan ini. Selain itu, minimnya batik yang benar-benar menggunakan pakem Banyumasan, menjadi kesulitan tersendiri dalam memperkenalkan batik Banyumasan.

“Sekarang, motif Banyumasan itu sekarang sudah jarang sekali. Jadi, kami harus pintar-pintar mebcari motif yang benar-benar menggunakan pakem Banyumasan,” kata Nur’iah, pelatih pembatik.

Batik Banyumasan sendiri tidak terlepas dari pengaruh budaya seperti, Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Dahulunya batik ini dikembangkan oleh para pengikut Pangeran Diponegoro yang tersingkir dan kemudian menetap di daerah Banyumas. Kerajinan batik ini berawal dan berpusat di daerah Sokaraja.

Batik Banyumas identik dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non-geometrik yang didominasi oleh warna dasar kecoklatan dan hitam dengan warna pelataran kuning tua. Berbagai motif berkembang hingga saat ini, diantaranya adalah lumbon, sekasurya, sidoluhung, jahe pugor, cempaka mulya, kawung jenggot, madu bronto, satria busana, sekar jagad, sidomukti, dan piring sedapur.

“Pada tahun 1970-an batik Banyumas sempat populer. Namun kini, keberadaannya semakin tergeser. Meski trend batik sedang naik daun, tapi batik Banyumas serasa sulit menembus kecenderungan tersebut. Batik Banyumas masih kalah pamor dengan batik Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta,” jelas Bambang Widodo, Budayawan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)