Citi Dorong Generasi Muda Mandiri Secara Finansial

Jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2017 mencapai 7,01 juta penduduk, dengan tingkat pengangguran terbuka di perkotaan lebih tinggi dibanding di pedesaan.

Solusi atas masalah tersebut salah satunya adalah dengan menggerakkan ekonomi lokal lewat generasi muda. Hal ini yang dilakukan Citi Indonesia melalui payung kegiatan kemasyarakatan Citi Peka (Peduli dan Berkarya) bersama lembaga nirlaba Indonesia Business Links (IBL) dalam program Skilled Youth. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Pathways to Progress yang dilaksanakan di berbagai negara di dunia.

Di Indonesia program tersebut telah diselenggarakan sejak tahun 2015, telah menjangkau 492 siswa dari sekolah menengah kejuaraan dan atas, termasuk SMK yang berlokasi di Cikarang Barat, Karawang, dan Bekasi. Kali ini Skilled Youth Phase II kembali diselenggarakan “Kami menergetkan partisipannya naik dua kali lipat dibandingkan tahun pertama, karena sosialisasinya semakin luas,” ujar Elvera N. Makki, Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia.

CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi mengatakan program ini adalah sebagai komitmen untuk mengurangi pengangguran di kalangan generasi muda melalui sejumlah aktivitas seperti peningkatan keahlian bekerja, panduan kewirausahaan, dan pembangunan karakteristik yang relevan. “Mereka bisa mandiri secara keuangan karena bisa memulai usahanya sendiri, bahkan bisa membuka lapangan kerja bagi orang disekitarnya,” ujarnya. “Dalam program ini kami menekankan edukasi dan literasi finansial yang akan dimasukan ke dalam modul untuk para penerima manfaat,” lanjutnya.

Pemerintah melalui Bappenas RI juga mendukung program ini, Direktur Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Bappenas Mahatmi Parwitasari Santoso menyatakan, lewat program seperti ini anak muda bisa mendapat bekal hard skill dan soft skill yang belum tentu diperolah di sekolah, mulai dari peningkatan keahlian bekerja, panduan kewirausahaan, dan pembangunan karakteristik yang relevan. Modul-modul ini dapat memperkuat kompetensi generasi muda untuk siap bekerja atau memulai usaha awalnya,” ujar Mahatmi.

Isna Afrida, 24 tahun, salah satu anak muda penerima manfaat dari program tersebut mengaku skala usahanya sebagai produsen jilbab naik tiga kali lipat sejak mendapat pembinaan lewat program tersebut. Isna yang berdomisili di Karawang kini sudah mengantongi omset Rp 20-30 juta per bulan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)