Coca Cola Foundation Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Perpuseru

 

Perpustakaan kini tak lagi sekedar tempat baca buku, tetapi lebih dari itu, perpustakaan juga berkontribusi atas perubahan, salah satunya perubahan ekonomi disuatu wilayah. Bagaimana bisa? Setiap orang yang membaca buku di perpustakaan diharapkan mendapatkan inspirasi usaha, bahkan sekaligus ilmu mengenai life skill yang bisa digunakan untuk membangun usaha sendiri. Inilah yang gerakan yang digagas oleh Coca Cola Foundation, didukung Bill & Melinda Gates Foundation, namanya Perpuseru.

Perpuseru bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi, dengan tujuan dapat memberikan dampak pada kualitas hidup masyarakat. Kegiatannya telah berjalan sejak November 2011, pada fase program yang pertama, Perpuseru bermitra dengan 34 perpustakaan di 16 provinsi di Indonesia, yang terdiri dari 28 perpustakaan kabupaten/kota, 1 perpustakaan provinsi, 3 perpustakaan desa/kelurahan dan juga 2 taman baca masyarakat (TBM).

Kini, Perpuseru telah ada di 586 perpustakaan desa dan 104 perpustakaan kabupaten di 18 Provinsi di Indonesia. Menurut Chief Executive Coca Cola Foundation, Titie Sadarini, jumlah tersebut sudah melebihi dari target “Kami sebelumnya menargetkan 550 perpustakaan sampai akhir 2018, tetapi di tahun 2016 saja sudah hampir 600 perpustakaan,” ujar Titie.

Menurut Titie, masing-masing Perpuseru tidak hanya diisi buku tetapi juga komputer dan akses internet, serta beragam kegiatan seperti pelatihan komputer, desain, dan latihan ketrampilan lainnya. “Kini rata-rata kunjungannya 100 orang per hari,” ujarnya. Melihat antusiasme tersebut, Titie mengaku, pihaknya akan terus menyiapkan jaringan baru lagi hingga akhir 2018 sekitar 10 ribu titik Perpuseru di seluruh Indonesia.

Kehadiran Perpuseru telah menginspirasi sejumlah orang untuk memulai bisnisnya sendiri, salah satunya dalah Harratul Lisan (27 tahun) asal Desa Tlogosih, Demak, Jawa Tengah. Harra yang merasa tidak cocok menjadi guru, memutuskan berhenti dari profesi itu dan mengikuti kegiatan pelatihan komputer dasar dan desain di Perpuseru di desanya. Kini, ia memiliki 5 orang tim yang membantunya menjalankan bisnis kaos sablon, dalam sebulan Harra memproduksi rata-rata 100 kaos pesanan.

Sementara itu di Kabupaten Karangasem, Bali ada Ni Wayan Srimentik yang terinspirasi membuat dupa herbal dan menjualnya lewat toko online setelah membaca soal pemasaran online di Perpuseru di desanya. Sebelumnya Wayan dan sesama warga di desanya terkenal sebagai gepeng atau pengemis di Denpasar. Kini mereka meninggalkan profesi tersebut dan bertekad membangun kembali nama baik desanya yang terkenal sebagai desa pengemis.

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Muh Syarif Bando, mengatakan mendukung kegiatan ini, “Karena sekarang bukan saatnya lagi kita mengeluhkan soal rendahnya budaya baca, tetapi lebih baik bergerak jadikan perpustakaan tempat yang seru untuk segala kegiatan produktif,” ia menambahkan.

Adinia Wirasti, publik figur yang memberikan kontribusinya dalam Perpuseru mengungkapkan, dirinya berkontribusi dengan cara mengajak teman-teman disekitar dia, anak-anak muda untuk memanfaatkan kemampuan mereka mengakses informasi, nongkrong dan mengobrol menjadi sebuah kegiatan yang produktif, “Salah satunya dengan dukung kegiatan seperti Perpuseru ini, makanya saya selalu posting kegiatan Perpuseru lewat akun media sosial saya agar menginspirasi yang lainnya,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)