Desa Susu Percontohan, Upaya Frisian Flag Kurangi Bahan Baku Impor

PT Frisian Flag Indonesia bakal membangun sebuah desa susu percontohan di Lembang, Bandung dengan total investasi 10 juta Euro (Rp 130 miliar). Program ini bukan sekedar bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), namun mereka juga ingin mengurangi impor bahan baku susu dengan menggenjot produktivitas susu peternak lokal.

Marco Spits, Presiden Direktur Frisian Flag Indonesia (FFI). (foto by: Lila Intana)

Marco Spits, Presiden Direktur Frisian Flag Indonesia (FFI), mengatakan, selama ini bahan susu untuk produk Frisian Flag masih diimpor dari Belanda. Sebab ketersediaan susu segar dalam negeri masih rendah, apalagi belakangan harga daging terus meningkat sehingga peternak memilih memotong sapi dibanding memerah susu.

Dalam program senilai 10 juta euro tersebut, FFI juga dibantu oleh Pemerintah Belanda. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk peningkatan kualitas susu melalui optimalisasi rantai penerimaan susu dan perbaikan  Milk Collection Point (MCP)  atau tempat pengumpulan susu dari parapeternak yang dikombinasikan dengan peningkatan kemampuan manajemen.

Kemudian peningkatan pengetahuan kualitas dan kuantitas susu kepada peternak dan karyawan koperasi melalui pelatihan, pendidikan dan praktek di lapangan dan tentunya peningkatan produktivitas usaha peternakan sapi perah yang berkelanjutan, melalui pelaksanaan konsep desa susu percontohan.

“Program pengembangan peternakan rakyat yang merupakan komitmen jangka panjang Frisian Flag ini akan memfasilitasi  transfer of knowledge  - alih pengetahuan kepada para peternak sapi lokal untuk bisa mendapatkan informasi yang lebih baik lagi dan mampu mendorong para peternak sapi perah lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi susu sapi sehingga mampu meningkatkan produksi susu dalam negeri dan mampu memenuhi kebutuhan industri susu Indonesia,” katanya.

Program Kemitraan Peternak Sapi Perah yang berkelanjutan ini akan dilaksanakan dalam kurun waktu 2013 hingga 2017.

“Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan lebih dari 10.000 peternak sapi perah di Pangalengan dan Lembang,” ucap Marco Spits.

Melalui desa susu percontohan di wilayah Lembang, nantinya akan disediakan lahan yang mampu meningkatkan skala kepemilikan peternak. Akan ada lebih dari 10 peternak yang menggabungkan ternak sapi mereka ke dalam sebuah lahan peternakan dimana di dalam lahan tersebut akan tersedia layanan konsultasi profesional bagi para peternak dan tersedia  MCP - tempat pengumpulan susu dengan fasilitas pendingin sehingga kualitas susu dapat dipertahankan. Sementara di Pangalengan akan dibangun minimal 15 unit  MCP facilities .

“Upaya pemberdayaan peternakan rakyat di Lembang dan Pangalengan ini, diharapkan dapat

berkontribusi lebih dalam memenuhi kebutuhan susu segar sebagai bahan dasar industri susu nasional sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap susu impor sebagai bahan baku,” tambahnya.

Berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Kementrian Pertanian RI, diketahui bahwa populasi sapi perah Indonesia sebanyak 597.213 ekor dengan rata –rata produksi 11,51 liter/ekor/hari. Produksi susu dalam negeri baru mencapai 775,78 ton (20%). Sementara kebutuhan dalam negeri sebanyak 3.946,46 ton, sehingga untuk menutupi kebutuhan tersebut, maka industri masih melakukan impor susu. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)