Dukungan MSIG Indonesia dalam Pengembangan Pendidikan di Wilayah Paliyan

Pandemi Covid-19 mengharuskan para orang tua dan tenaga pendidik untuk mampu menemukan solusi kegiatan edukatif yang aman dan membangun bagi anak-anak di rumah. Namun, keterbatasan akses internet dan sumber pendidikan di luar sekolah yang dialami sejumlah besar anak-anak dari kategori kurang mampu di Indonesia menjadi kendala besar dalam dunia pendidikan nasional.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkap masih ada 12.000 sekolah yang tak memiliki akses internet di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T), serta 48.000 sekolah dengan jaringan internet yang buruk di penjuru daerah.

Merespons hal tersebut, MSIG Indonesia menyelenggarakan kegiatan pendidikan pelestarian keanekaragaman hayati. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya edukatif tetapi juga merangsang kreativitas siswa sekolah dasar. Kegiatan kreatif seperti menggambar, melukis, mewarnai, melipat-menempel dan lain sebagainya, menjadi sarana yang dinilai ampuh menstimulasi perkembangan otak kiri anak sekaligus menjadi sarana hiburan bagi anak-anak yang tidak bisa bermain keluar rumah selama masa pandemi.

Takashi Ogita, Direktur MSIG Indonesia menyampaikan, kondisi pandemi Covid-19 yang berlangsung selama 2 tahun terakhir telah memberikan dampak signifikan secara material maupun non material, tidak hanya kepada orang dewasa tetapi juga anak-anak. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa keberhasilan program yang dilaksanakan di Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan ini, tidak hanya ditinjau dari sisi kuantitas lingkungan hidup yang berhasil direstorasi, tetapi juga harus seiring dengan pemulihan kualitas sumber daya manusia di sekitarnya, sehingga siap untuk menghadapi tantangan pasca Covid-19.

“Inisiatif ini merupakan kontribusi nyata MSIG Indonesia untuk berperan dalam penanggulangan Covid-19 dan pengembangan pendidikan di wilayah Paliyan, Yogyakarta, yang sejalan dengan misi kami untuk menciptakan masyarakat yang dinamis dan turut serta menjaga masa depan bumi,” ungkapnya.

Menurutnya, antusiasme siswa sekolah dasar di Paliyan terhadap kegiatan ini terlihat dari jumlah siswa yang berpartisipasi hingga penutupan kompetisi pada akhir Agustus 2021 yang lalu sejumlah 1.265 siswa atau sebesar 89% dari jumlah sekolah dasar di Paliyan. Para pemenang kompetisi menggambar ini, masing-masing mendapatkan smartphone sebagai sarana pendukung untuk menjalani kegiatan belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah.

MSIG Indonesia juga melakukan penyerahan donasi berupa 6.000 buah (1.500 set buku) edukasi protokol kesehatan Covid-19 pada anak kepada 12 sekolah di Paliyan, Yogyakarta, sebagai persiapan pelaksanaan sekolah tatap muka pada wilayah tersebut.

Adapun ke-12 sekolah dasar yang menerima donasi pendidikan dan melibatkan siswanya dalam kompetisi menggambar antara lain MI Yappi Banjaran, SD Muhammadiyah Karangduwet, SDN Paliyan I, SDN Paliyan II, SDN Paliyan IV, SDN Paliyan V, SDN Trowono I, SDN Karang Asem yang berlokasi di kecamatan Paliyan serta MI Yappi Karang, SDN Kepek I, SDN Kepek II dan SDN Jetis I di kecamatan Saptosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

"Kami memahami kebutuhan atas sarana edukasi berupa panduan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang akurat dengan pemaparan yang sesuai bagi anak-anak sekolah dasar, sehingga mereka dapat dengan mudah memahami dan mengingat protokol yang harus mereka lakukan ketika bertatap muka di sekolah," harap Takashi.

Ia mengatakan, buku-buku tersebut disusun berdasarkan riset mandiri yang dilakukan oleh penulis buku anak, tenaga pendidik yang kredibel dan memiliki pengalaman dalam menyusun buku bagi anak-anak, serta sejumlah sumber informasi lainnya. Selain itu, merupakan hasil riset dari lembaga kesehatan nasional dan internasional yang kredibilitasnya dapat dipertanggung jawabkan, sehingga akurasi informasi dan cara penyampaiannya telah sesuai dengan kebutuhan anak-anak usia sekolah dasar di Indonesia.

Sebelumnya, MSIG Indonesia telah menyerahkan 225 paket edukasi pelestarian keaneakaragaman hayati yang terdiri dari buku ensiklopedia pelestarian keanekaragaman hayati ‘Bumi Kita’ yang diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer-Gramedia, pensil warna, buku gambar, stiker edukatif, kertas lipat dan alat tulis, yang diharapkan menjadi sumber edukasi bagi para siswa di wilayah tersebut untuk melatih kreativitas sekaligus membangun pemahaman pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar sejak dini.

"Buku-buku edukasi keanekaragaman hayati yang kami pilih dalam kegiatan ini diharapkan bisa menjadi sumber pengetahuan yang menarik bagi siswa, sehingga melatih minat baca siswa sejak dini," lanjut Takashi.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)