Empat IKM di Waru Resmi Masuki Supply Chain AHM

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto saat memberikan sambutan di acara peresmian IKM Unggulan di Waru yang berhasil masuk supply chain AHM

Dalam membangun bisnis, kita harus menjalankan falsafah telur. Bahwa telur yang pecah dari luar akan menghasilkan kematian, sedangkan telur yang pecah dari dalam akan menghasilkan kehidupan. Hal ini terus disampaikan YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra), CSR Group Astra yang khusus mendedikasikan diri untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan IKM (Industri Kecil Menengah). Henry C. Widjaja, Ketua Pengurus YDBA menegaskan hal itu juga saat mendampingi Menteri Perindustrian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian RI Gati Wibawaningsih dan Chief of Corporate Communications, Social Responsibility dan Security PT Astra Internasional Tbk, Pongki Pamungkas dalam rangka syukuran 4 IKM Sektor Unggulan Logam di Desa Ngingas, Waru, Jawa Timur (27/02/2017).

Pada kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan terima kasihnya pada YDBA, yang menurutnya telah berhasil menjadi eskalator bagi para IKM untuk naik kelas dengan membimbing mereka agar bisa menjalankan produksinya sesuai dengan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin). “YDBA secara konsisten membimbing 13 IKM yang kemudian lolos 4 IKM yang berhasil menjalankan proses produksi yang baik dan benar. Semoga kawasan ini menjadi sentra untuk industri otomotif yang makin maju,” tuturnya.

Menperin juga mendorong kerjasama antar sektor, juga dengan vendor agar industri ini makin maju lagi. Menurutnya keberadaan IKM peranannya sangat penting maka itu pembinaan secara konsisten sangat penting agar manajemen produksi mereka lebih baik dari waktu ke waktu. Henry menambahkan YDBA secara reguler memberikan pelatihan, penampingan dan mengkoneksikan IKM dan UKM binaannya dengan pasar. “Kami terus mendorong IKM dan UKM binaan kami secara intensif mengikuti ini, jadi target kami bukan kuantitas, tapi kualitaslah yang terpenting,” tegasnya.

Henry mengatakan tidak mudah bagi IKM memang untuk bisa menembus menjadi supply chain PT Astra Honda Motor. Awalnya ada 13 IKM yang ikut, tapi setelah 3 tahun pembinaan tertinggal 4 yang secara konsisten dan tabah mengukuti arahan dan pembinaan mulai dari 5R hingga manajemen secara keseluruhan. “Kalau orientasi mereka hanya order, sulit, mereka harus fokus dulu untuk meningkatkan kualitas produksi dan manajemennya,” katanya. Ketika mutu produk meningkat, order akan datang. Henry menyebut, selain Sektor Unggulan Logam, YDBA juga memiliki binaan di Sektor Unggulan Pertanian, yang kini sedang terus dilakukan penjajagan agar bisa masuk ke pasar modern. Giant salah satunya yang sudah berhasil menjadi partner YDBA dalam memasarkan petani binaannya. Lalu ada Sektor Unggulan Kerajinan, meski belum berhasil sudah melakukan penjajakan dengan IKEA belum lama ini. “Tidak mudah menjadi pemasok IKEA, karena para pengrajin binaan YDBA harus bisa dipastikan mereka bisa memasok 340 toko IKEA di seluruh dunia,” katanya.

Keempat IKM yang berhasil menjadi bagian dari supply chain AHM itu adalah PT Elang Jagad, CV Borneo Putra, UD KS Pro dan UD Karya Jaya. Mereka ini berhasil lolos masuk menjadi suplier tier dua. Keempatnya memasok kepada PT Rahmat Perdana Adhimetal (RPA) yang telah lama menjadi suplier tier satu dari AHM. Jadi IKM itu pada tahap awal akan memasok 5000 unit sparepart AHM, lalu 20 ribu dan sekarang 200 ribu. Sparepart itu berupa washer plain, spring seat dan seal spacer yang akan digunakan pada Honda Beat, Scoopy, Vario dan New CBR. Saiful Mulyo, pemilik dari RPA mengungkapkan dulu dia ketika mengawali usaha juga seperti keempat IKM itu, bahkan hanya dari satu mesin saja dan produksi dikerjakan sendiri. “Saya pikir falsafah telur yang disampaikan Pak Henry, harus pecah dari dalam, saya harap teman-teman harus tetap semangat,” ujarnya.

Tantangan Mahalnya Bahan Baku

Hanya saja IKM mendapat tantangan cukup berat dengan membanjirnya sparepart dari Cina yang harganya sangat murah. Ini diungkapkan oleh Bendahara Koperasi Sentra Industri Ngingas, Samsul Anam, saat ini ada 300 IKM di Ngingas yang omsetnya tergerus 50 persen dalam 3 bulan terakhir akibat melonjaknya harga bahan baku plat baja yang menjadi bahan baku produksi mereka. “Di Ngingaas ada lebih 300 UKM, ada yang membuat alat listrik, sparepart sepeda motor dan sebagainya. Kesulitannya kami saat ini bahan baku, luar biasa mahal,” Samsul mengungkapkan kesulitan anggotanya pada Menperin. Menurutnya, dalam 3 bulan terakhir harga bahan baku melonjak dari Rp 7500 per kilo menjadi Rp 11 ribu.

“Bagaimana kami bisa bersaing harga Rp 11 itu itu sudah harga sparepart dari Cina,” ungkap pria yang juga pemilik PT Aji Batara Perkasa Mandiri. Sedangkan mereka hanya bisa menaikan harga produk 10 persen. Ia menyebut sebelum kenaikan ini rata-rata omset IKM Rp 500 juta-1 miliar lebih, tapi sejak akhir 2016 hingga awal 2017 omsetnya turun sampai 50 persen.

Mohammad Iqbal, Sekretaris Pengurus YDBA problem utama IKM sebenarnya bukan mahalnya bahan baku, tapi pada mindset mereka. “Mereka lebih fokus mengejar order, sedangkan untuk menjadi vendor Astra mereka harus memperbaiki proses produksinya sesuai dengan prinsip-prinsip QCDI yaitu Quality, Cost, Delivery, Inovation dan budaya kaizen,” katanya. Dengan menjadi suplier tier dua seperti keempat IKM yang sudah lolos tersebut, dukungan bahan baku akan didapat dari suplier tier satunya. Iqbal mengatakan ini sejalan dengan filosofi Astra: sejahtera bersama bangsa.

 

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)