HSBC Sosialisasikan Story Teller Lewat Kids Read

Di penghujung tahun 2014, HSBC meluncurkan rangkaian program sosial berbasis pendidikan. Dengan merangkul British Council Indonesia Foundation, HSBC menciptakan program Kids Read yang melibatkan karyawannya sebagai volunteer. Sebelumnya, program ini sukses diterapkan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Baru setelah itu diperkenalkan di Indonesia menyusul Hongkong, Bangladesh, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Korea Selatan.

dsc_3923

Ildefonso Netto, Chief Risk Officer HSBC Indonesia, menerangkan bahwa program ini baru difokuskan di 6 SD negeri di Jakarta, meski ke depan tak menutup kemungkinan akan meluas lagi ke sekolah lainnya. “Backgroundnya supaya anak-anak jadi gemar membaca. Sekolah-sekolah ini akan mendapatkan paket buku atau materi dari British Council, bahkan guru-gurunyapun akan kami training khusus. Dongengnya bersifat universal, tidak hanya berasal dari luar, tapi juga ada yang kami padukan dengan cerita lokal,” ujarnya (13/11).

Bagi Netto, story telling adalah metode yang cukup efektif dalam memengaruhi minat baca pada anak. Setidaknya ini bisa menjadi obat, dimana saat ini, perhatian anak lebih cepat tertuju pada sesuatu yang bersifat instan. Contohnya keberadaan media sosial.

“Pengembangan minat baca yang kalau di negara lain butuh usaha 100%, di negara kita butuh 700% misalnya. Karena data-data atau rilis internasional mengatakan bahwa kita memang berada pada titik yang sangat mengenaskan. Kalau tidak salah, di Pisa kita berada di peringkat 63 dari 64 negara,” kata Itje Chodidjah, British Council Master Trainer.

Itje berujar, penyebab utama rendahnya minat baca berkaitan erat dengan pola pendidikan, baik di rumah maupun di sekolah. “Di sekolah, yang perlu dihigh light adalah gurunya. Pada saat di dalam kelas, apakah dia ada antusias untuk mengajak membaca atau tidak. Dengan literasi yang rendah, maka nalar atau berpikir kritisnya juga akan ikut rendah. Sebaliknya, jika literasinya tinggi, dia bisa menghubungkan informasi satu dengan informasi lainnya dengan cepat, “ terangnya.

Kids Read yang memang berbasis story teller akhirnya dinilai tepat untuk kebutuhan menjaring anak agar gemar baca saat ini. “Proyek ini kalau saya melihat dari aspek pedagoginya adalah melatih berpikir kritis, melatih berkomunikasi, dan melatih anak agar bisa menghubungkan antara satu informasi dengan informasi lainnya. Dan ini adalah kebutuhan skill abad 21, “ tandas Itje. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)