Kampung Berseri Astra: Mengantarkan Kehidupan Baru Pulau Pramuka

//Jauh dari Ibu Kota dan lepas dari pandangan mata, lingkungan Pulau Pramuka yang dulu dikenal dengan Pulau Lang/Elang awalnya memprihatinkan. Beruntung, seorang relawan perempuan bersedia menghibahkan hidupnya untuk membantu memperbaiki ekosistem pulau yang terselip di gugusan Kepulauan Seribu itu. Didukung Kampung Berseri Astra, Mahariah berjuang mengantarkan kehidupan baru.//

Kampung Berseri AstraSebenarnya, menjadi relawan konservasi lingkungan dilakoni Mahariah secara tak sengaja. Perkenalannya dengan dunia penyelamatan lingkungan terjadi ketika ia sebagai guru sekaligus pengurus pramuka di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 17 Pulau Panggang menerima undangan untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Model Desa Konservasi dari Taman Nasional Kepulauan Seribu. Ketika itu, rasa penasaran dan keingintahuannya yang besar membawanya ikut serta.

Ternyata, program FGD tiga hari membuka mata Mahariah tentang kerusakan lingkungan di sekelilingnya. Perempuan 48 tahun ini pun tergerak mengambil peran dalam upaya konservasi lingkungan. Ia rela menyingsingkan lengan baju, meskipun harus bolak-balik antara Pulau Panggang dan Pulau Pramuka yang berjarak kira-kira 0,82 mil (1,32 km). Baginya, tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Ia percaya jika memiliki niat baik dan untuk tujuan baik pula, niscaya segala sesuatunya akan dimudahkan.

Proyek pertama dicetuskan tahun 2007, berupa kegiatan penanaman bakau (mangrove). “Awalnya, kami sekadar ikut-ikutan tugas dari Taman Nasional,” kata Mahariah mengenang. Tenyata, hasilnya masih berantakan. Lebih banyak tanaman yang mati daripada yang berhasil. Hal itu tidak membuatnya menyerah. “Justru kami penasaran dan terus menganalisis letak kekurangannya,” lanjutnya. Setahun kemudian, 2008, sukses menanam mangrove setelah memperhatikan umur bibit, situasi lautan, musim banjir di daratan, dan sebagainya.

Berdasarkan evaluasi kegagalan, ternyata sampah menjadi faktor penghambat penanaman mangrove. Banyaknya sampah yang menumpuk di pinggir pantai membuat tanaman mangrove tidak berkembang. Celakanya, gangguan sampah ini bukan hanya mengganggu penanaman mangrove. Sejumlah penggiat konservasi terumbu karang, konservasi satwa langka, dll., juga mengeluhkan hal yang sama. Aktivitas mereka pun terganggu oleh sampah. Jadi, bisa dibilang biang kerok kerusakan lingkungan Pulau Pramuka selama ini adalah sampah.

Kesimpulan itu menumbuhkan inisiatif Mahariah membuat komunitas peduli sampah. Didirikan tahun 2009, komunitas tersebut dinamai: Laut Bukan Tempat Sampah (LBTS) yang mendorong berbagai aksi bersih sampah, yang melibatkan anak-anak sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Setidaknya sebulan sekali para pelajar ini diajak melakukan aksi bersih pantai. Mereka pun antusias karena kegiatan bersih-bersih sekaligus menjadi ajang bermain dan bersenang-senang. Selain itu, LBTS juga menggelar demo di Jakarta dengan tujuan mengingatkan “jangan membuang sampah seenaknya”. Sampah dari Jakarta diyakini turut mengotori hamparan pantai-pantai di kawasan Pulau Seribu.

Kegundahan Mahariah sesungguhnya bukan cuma bagaimana cara membersihkan sampah, melainkan juga di mana harus membuang sampah itu. “Rasanya kurang adil, kalau di satu sisi saya protes karena orang kirim sampah ke sini, sementara di sisi lain, warga di sini (Pulau Pramuka) membuang sampah ke laut lepas,” katanya mengeluhkan. Maka, Mahariah berpikiran untuk mengembangkan program pengelolaan limbah sampah plastik yang makin menumpuk.

Ide baru berarti pekerjaan tambahan baru. Mahariah pun kembali memulai dari nol dengan mengajarkan memilah sampah rumah. Sampah plastik dikumpulkan, sementara sampah nonplastik dibakar. Beruntung, sebagai guru dan pemimpin kelompok pengajian, ia relatif mudah menyebarluaskan idenya. Bahkan, ia juga menyiapkan mitra-mitra baru untuk membantu membina warga Pulau Pramuka memproduksi limbah plastik menjadi barang-barang yang bermanfaat. Melalui LBTS, Mahariah juga menjalin kerjasama dengan dengan aktivis satwa, Jakarta Aid Animal Network (JAAN), dan mitra-mitra organisasi yang dikenalnya agar ikut membantu penjualannya.

Bisa dibilang Mahariah telah membantu perbaikan lingkungan dari hulu ke hilir: mulai dari menggerakkan penanaman mangrove, bersih-bersih sampah, hingga pemanfaatan limbah plastik. Ini sebuah upaya perbaikan yang membentuk kelangsungan ekosistem yang mumpuni. Terlebih, ia selalu memberi sentuhan agar konsep yang dikembangkannya itu melembaga dan berkelanjutan. Misalnya, upaya penanaman mangrove dijadikan sebagai ritual yang dikemas sebagai satu paket wisata. Jadi, wisatawan yang berkunjung ke Pulau Pramuka dapat berenang sembari melihat “atraksi” penanaman mangrove. Hal ini sekaligus sebagai upaya kontribusi untuk konservasi. “Harapan kami sebetulnya memang menjadikan setiap kegiatan ada legalnya, ada payung hukumnya,” ujar Mahariah yang memiliki visi jauh ke depan.

Demi mewujudkan seluruh impiannya, kini Mahariah mendirikan Rumah Hijau, komunitas yang siap menanam mangrove secara rutin. Anggota komunitas juga dibimbing cara-cara konservasi mangrove, mulai dari menanam sampai pascapanen. Dalam perkembangannya, Rumah Hijau menjadi rumah untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, termasuk memilah sampah, mengolah sampah, hingga memanfaatkannya sebagai kompos. Biasanya, setiap Jumat sore anggota komunitas berkumpul di Rumah Hijau untuk saling belajar atau merencanakan kegiatan. Misalnya, kegiatan Gerakan Seribu Biopori. Setiap rumah wajib punya lubang resapan biopori. Anggota komunitas dengan sendirinya ramai-ramai saling membantu dan membangun fasilitas publik terkait gerakan itu. “Itulah bagian dari cara kami mengedukasi masyarakat,” kata Mahariah mantap.

Menurutnya, jika keberhasilan program konservasi lingkungan berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat, sebenarnya itu bagian dari bonus. Pasalnya, hanya dengan berperilaku seimbang, alam pun akan turut sehat. Begitu pula apabila tingkat kesehatan membaik, kualitas pendidikan juga ikut meningkat. ”Saya ini guru formal PNS yang mempunyai lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jadi, saya tahu korelasi antara lingkungan, kesehatan, dan pendidikan,” ungkap Mahariah percaya diri. Jika ketiga bidang itu berkembang baik, ia yakin, bidang pariwisata yang menjadi andalan masyarakat Pulau Pramuka juga akan berkembang baik. “Ini adalah sebuah ekosistem yang saling memengaruhi,” katanya tandas.

Yang tidak bisa dilupakan dari penduduk Pulau Pramuka yang berjumlah lebih dari 1.500 jiwa itu adalah spirit dan antusiasme mereka. Hal itulah yang mendorong PT Astra International ikut berkontribusi melalui program Kampung Berseri Astra (KBA). “Kampung Berseri Astra merupakan program menyeluruh yang mengacu pada empat pilar CSR Astra, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan,” kata Chief of Corporate Communications, Social Responsibility and Security PT Astra International Tbk. Pongki Pamungkas.

Tepatnya pada April 2015, Astra mulai menggarap sekaligus empat pilar CSR tersebut di Pulau Pramuka. Di bidang lingkungan, Astra memberikan bantuan Penampungan Air Hujan. Astra mendukung program Rumah Hijau & Kampung Iklim dengan pembuatan 19 hidroponik, 120 lubang resapan biopori, satu komposter, dan satu biodigester. Selain itu, Astra pun membantu penanaman 10.000 mangrove & 3.000 terumbu karang. Dan tak kalah penting, Astra membantu pembentukan kelompok usaha, pelatihan dan pemasaran digital untuk produk gelang dan sabun ramah lingkungan.

Di bidang kesehatan, Astra beberapa kali memberikan pelatihan untuk kader-kader posyandu sehingga mempunyai kemampuan mendeteksi rumah yang sehat/tidak sehat serta cara pemecahannya. Di bidang pendidikan, Astra melakukan pembinaan sekolah Adiwiyata di SMA 69, Pulau Pramuka. Adapun di bidang wirausaha, Astra siap memberikan pendampingan dalam produk-produk olahan, untuk dilatih terkait branding masing-masing.

Tahun 2016, Astra kembali meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri di Pulau Pramuka. RPTRA seluas 1.300 m2 ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas umum di luar ruangan, seperti lapangan futsal & voli pantai, Taman Interaktif, Taman Gizi, Arena Bermain Anak dan Kolam Gizi. Adapun fasilitas di dalam ruangan terdiri dari Ruang Serba Guna, Ruang Pengelola, Ruang Laktasi & KB, serta PKK Mart & Perpustakaan yang dibangun di atas permukaan air laut. “RPTRA Tanjung Elang Berseri merupakan satu-satunya RPTRA Astra yang dibangun di wilayah kepulauan,” kata M. Riza Deliansyah, Head of Environment and Social Responsibility Division PT Astra International Tbk.

Sebagai motor penggerak pembangunan lingkungan Pulau Pramuka, Mahariah mengaku beruntung didukung penuh oleh Astra. Yang terutama, Astra membantu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM). Hal itu, menurutnya, yang membedakan dukungan Astra dibandingkan korporasi lain. “Kami diundang ke Astra untuk dilatih bagaimana cara mengelola lingkungan dsbnya,” ujarnya. Dari pengalamannya, sejak dilakukan assessment tahun 2012 dan sampai sekarang, Astra terus mendampinginya. “Konsistensi ini menarik karena menunjukkan kontinuitas, komitmen keberlanjutan, dan fokus Astra pada pengembangan SDM lokal,” kata Mahariah memuji, Ia bangga karena hampir semua kadernya telah dilatih oleh Astra.

Mahariah berharap, kerjasama Pulau Pramuka dengan Kampung Berseri Astra ini bisa menjadi model dan melahirkan pola-pola pengelolaan yang bisa dicontoh oleh pulau-pulau lain di Tanah Air. Masih ada ribuan pulau di Indonesia yang membutuhkan dukungan dan uluran tangan dari para relawan agar mereka bisa berkembang seperti Pulau Pramuka. (*)

Reportase: Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)