Kepedulian The Body Shop terhadap HAM Dibungkus dalam Film

The Body Shop mengusung hak asasi manusia melalui seni film dokumenter pada Ubud Writers & Readers Festival 2013. Dukungan terhadap hak asasi manusia, yang merupakan salah satu nilai dasar perusahaan “Defend Human Rights,” dilakukan melalui pemutaran film dokumenter musikal JALANAN yang menggambarkan sisi manusiawi kehidupan pengamen jalanan di Jakarta.

The Body Shop mendukung film dokumenter musikal JALANAN yang mengajarkan masyarakat untuk lebih memahami mengenai orang-orang yang termarjinalkan dengan media seni yang kreatif dan atraktif. Dengan memperdalam pemahaman mengenai kehidupan orang-orang yang termarjinalkan, JALANAN mengetuk hati nurani masyarakat untuk lebih memperhatikan hak-hak asasi orang-orang di sekitar mereka.

“Kita dan masyarakat sering mengabaikan hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Fenomena hak-hak asasi manusia yang biasanya lebih menjadi perhatian masyarakat ialah kasus-kasus ekstrim seperti perang, penindasan, dan pembunuhan massal. Kasus-kasus tersebut memang sangat penting, namun kita juga jangan lupa mengenai hak-hak asasi manusia orang-orang yang berada di sekitar kehidupan kita sehari-hari,” ujar Suzy Hutomo, CEO The Body Shop Indonesia, Senin (14/10/2013).
the body shop
Menurutnya Suzy, pengajaran dan pembelaan HAM tidak harus selalu dengan cara yang sulit dipahami, namun perlu ada kreatifitas dalam pengemasannya. Film JALANAN merupakan sarana yang ideal dalam pembelaan HAM karena menggunakan media seni yang mudah dimengerti dan lebih menarik bagi masyarakat umum.

Pemutaran film dokumenter musikal JALANAN dilakukan pada Ubud Writers & Readers Festival 2013 sebagai bagian dari program “A Long Way Home – Celebrating the Journey in Words, Film & Music,” di Ubud, Bali, Senin. Program tersebut perayaan berbagai kisah kemanusiaan di Asia dan Eropa dalam berbagai rangkaian kegiatan yaitu: pemberian penghargaan pemenang Kompetisi Cerita Pendek Asia-Europe Foundation (ASEF) & URWF Long Way Home, pemutaran film dokumenter musikal JALANAN, dan pementasan musik yang diisi oleh aktor-aktor film JALANAN dan kelompok musisi-musisi lintas budaya dunia Susu Ibu (Indonesia, Chile dan US).

JALANAN sendiri merupakan kisah para pemuda Boni, Ho, dan Titi yang merupakan pengamen atau musisi jalanan di Jakarta. Film ini mengemas kisah para pemuda-pemudi dari kelompok marjinal tersebut dalam dokumenter musikal yang kritis. JALANAN bercerita bagaimana mereka menyanyikan musik-musik keresahan sosial mereka dari bus ke bus, menghadapi berbagai pernak-pernik kehidupan Jakarta dengan hukum dan korupsinya yang membingungkan, dan menelusuri kehidupan mereka ke desa tempat mereka berasal di Jawa Tengah dengan iringan musik-musik orisinal yang memikat dari ketiga anak muda tersebut.

Film ini bertujuan memberikan kesempatan “bersuara” bagi orang-orang yang biasanya tidak memiliki kesempatan menyampaikan pandangan dan impian-impian mereka. Daniel Ziv, sutradara film JALANAN, meyakini kisah orang-orang ini yang berjuang bertahan hidup di sebuah kota di Asia yang secara cepat mengalami perubahan globalisasi merupakan kisah yang penting dan menarik. Kisah ini diharapkan bisa membuka hati dan pikiran terhadap keadaan sesama.

“Biasanya film-film dokumenter yang sejenis dibuat dengan mengunjungi dan mengambil negara-negara berkembang lalu pembuatnya kembali ke negaranya dan berpergian ke berbagai festival film tanpa melibatkan lagi aktor-aktornya. Dalam JALANAN, para pemain kami libatkan secara aktif dalam penayangan-penayangannya karena kami ingin mereka juga merasa memiliki film ini juga,” ujar Daniel yang berasal dari Kanada. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)