Kiprah Al Awwaliyah Gairahkan Kembali Domba Garut

Aceng Cahyana, ketua paguyuban Al Awwaliyah Garut (foto: Syukron Ali/SWA) Aceng Cahyana, ketua paguyuban Al Awwaliyah Garut (foto: Syukron Ali/SWA)

Berbicara mengenai domba, pastilah tidak lepas dari domba Garut yang sejak abad 19 sudah menjadi primadona di kalangan peternak Nusantara. Berat badan yang bisa mencapai 80 kilogram,  postur tubuh yang lebar dan kuat, serta memiliki tanduk panjang adalah sebagian ciri-ciri domba Garut yang digemari. Kualitas kulitnya pun dikenal dengan kualitas kulit domba terbaik di dunia.

Berita mengenai domba Garut pada awal tahun 2000-an nyaris tidak terdengar lagi. Hal ini yang menggerakkan tim Kampoeng Ternak Nusantara Dompet Dhuafa (KTN DD) untuk kembali menggairahkan program peternakan yang berbasis pada peternak rakyat. Pada tahun 2004, program pemberdayaan dan pengembangan domba Garut pun mulai dikerjakan.

Tim KTN DD mulai mencari masyarakat lokal yang layak mendapatkan pembinaan. Tersebutlah Aceng Cahyana (37), salah satu warga desa Pasirwangi yang bekerja serabutan dengan pendapatan yang sangat pas-pasan.

"Jangankan untuk ternak hewan, untuk makan sehari-hari saja terkadang masih kesulitan," kenang Aceng pada SWA Online mengawali perjalanan pertamanya menjadi peternak domba Garut bersama KTN DD.

Selain Aceng, ada 9 warga (mustahik) dari desa Pasirwangi yang mendapat pendampingan dan pembinaan mengenai peternakan. Setelah mendapat pengarahan mengenai program KTN, Aceng dan teman-temannya mulai mengikuti pelatihan wajib selama satu tahun.

Tidak hanya pelatihan, mereka juga difasilitasi bibit hewan domba Garut, kandang dan pendampingan selama dua tahun. Target pencapaiannya adalah menjadi lembaga lokal yang berbadan hukum dan dapat menularkan kemampuannya kepada para warga lain yang membutuhkan.

"Jadi, peran kami tidak memberikan pendanaan langsung. Melainkan mendampingi dan memfasilitasi kebutuhan mustahik. Termasuk memberikan hewan ternak untuk dirawat oleh peyernak," jelas Saprudin Manager Program Bidang Peternakan KMM Dhompet Dhuafa.

Masing-masing peternak dibekali 5-8 ekor bibit domba Garut. Supaya tetap terjaga ekosistem bisnis yang kuat dan berkelanjutan. Para peternak juga disinergikan dengan program Tebar Hewan Kurban (THK) DD. Yang setiap tahunnya sebanyak 18 ribu-25 ribu ekor hewan di distribusikan menjelang hati raya Idhul Adha.

Baca: Dhompet Dhuafa Siapkan 25 Ribu Ekor Hewan Kurban Tahun Ini

Perlahan namun pasti, keuletan dan konsistensi para peternak Garut dibuktikan dengan kerja nyata. Setelah dibekali ilmu dan ketrampilan beternak, mereka menyatakan untuk mandiri. Dan sebagai wujud kesungguhan dan tanda terima kasihnya pada DD, di tahun 2009, Aceng dan peternak lainnya membentuk paguyuban Al Awwaliyah.

Lewat paguyuban tersebut, secara resmi Aceng menjadi mitra binaan Dompet Dhuafa yang profesional dan setiap tahunnya sejak 2011 sebanyak 1000 ekor domba Garut didistribusikan lewat DD untuk berbagai kebutuhan.

Selain ke Dompet Dhuafa, setiap bulan paguyuban Al Awwaliyah juga mendistribusikan 100 domba Garut ke wilayah di Jabodetabek. Wilayah lain yang menjadi pasarnya selain pulau Jawa adalah Kalimantan.

"Sekarang kami punya 200 anggota (peternak) aktif dan 100 peternak lainnya sebagai mitra di daerah Garut. Untuk jumlah hewannya, saat ini kami memiliki 400 domba Garut indukan," jelas Aceng yang jugaa ketua Paguyuban Al Awwaliyah kepada SWA Online di kantornya.

Kini, lewat Paguyuban Al Awwaliyah domba Garut kembali bersinar. Pekerjaan ternak di desa Pasirwangi Garutpun tidak lagi sebagai pekerjaan sampingan. Meski demikian, sebagai penyetok domba Garut terbesar di Indonesia.

Aceng terus mengingatkan kepada para peternak untuk terus berbagi kepada masyarakat dan turut mengembangkan program peternakan berbasis ternak rakyat supaya banyak lahir para muzaki baru lewat ternak.domba Garut. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)