Kiprah Bob Hasan di Kalangan Tuna Netra dan Atlet

Hujan sedang lebat-lebatnya ketika sebuah Jeep Grand Cherokee masuk pelataran Stadion Madya, Senayan. Dari pintu kiri depan, Bob Hasan turun. Tak ada sambutan berarti. Bahkan, dia membuka sendiri pintu mobil dan pintu lobi komplek Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) itu.

Setelah beberapa jenak di toilet, Bob yang didampingi Mayjend (Purn) TNI Zacky Anwar Makarim (mantan Kepala BAI ABRI) dan Tigor M Tanjung (Sekjen PASI dan Presiden Komisaris Majalah Gatra), langsung menuju convention hall. Di sana, 7 pengurus Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) dan beberapa atlet atletik junior binaan PASI telah menanti.

Bak ketemu teman lama, Bob menyalami mereka secara bersahabat. Keakraban mereka mampu mengusir dingin hujan di dalam convention hall. “Mereka ini bisa mengoperasikan komputer tanpa layar, hahahahaa….” ujarnya. Bob bukan sedang berkelakar. Menurut Didi Tarsidi, Ketua Pertuni, Bob telah mengucurkan dana untuk kegiatan komputer “bicara” untuk tuna netra di seluruh Indonesia. “Sebentar lagi Pertuni mau konggres. Milih ketua baru,” tutur Bob seolah menjelaskan alasan pengurus Pertuni singgah di Stadion Madya pada siang itu.

Bob Hasan

Bob sengaja mempersilakan jurnalis SWA: Kemal E Gani, Joko Sugiarsono, Sigit A Nugroho serta fotografer Hendra Syaukani dalam pertemuan itu. Tujuannya, agar bisa mendengar keterlibatan Bob di organisasi tersebut langsung dari pengurus Pertuni.

Sejak kapan aktif di Pertuni?

Sejak tahun 1970-an ikut bantu-bantu dikit. Sebenarnya jauh sebelum itu mau bantu. Tapi ketika itu pengurusnya cuma satu orang. Waktu itu masih Ali Martokusumo, saudaranya Ali Moertopo. Jadi one man. Dulu Pertuni belum sesolid sekarang.

Pengurusnya berantem terus. Saya lihat dari luar saja. Tidak berani ubah mereka. Karena ada Ali Moertopo. Mau ganti, ada Pak Harto. Setelah tidak ada Pak Harto. Baru saya berani. Jangan salah, mereka-mereka ini pintar-pintar. Jadi antar pengurus dulunya berantem terus. Banyak yang sarjana hukum, ada yang pengacara, dosen, ada yang doktor. Nah gua sendiri S3: Salemba, Cipinang, Nusakambangan hahahaa….

Setelah saya masuk, saya ajari mereka bagaimana manajemen organisasi supaya bisa solid dan mandiri secara organisasi. Jadi manajemennya mesti ditoto. Sekarang Pertuni punya 204 cabang di 31 daerah. Anggotanya 30 ribu tapi mereka berjuang untuk tiga juta tuna netra di Indonesia. Mana ada bantuan dari pemerintah?

Kemandirian Pertuni sekarang seperti apa?

Mereka punya perusahaan sendiri. Itu perusahaan milik Pertuni, bukan pribadi. Mereka punya kantor sendiri di Kramat Jati. Sudah 4 lantai.

Profesi mereka juga tidak cuma pijat saja. Biasanya kalau tuna netra kan profesinya pijat. Dulu tiap tahun kita beli kasur ribuan. Kasurnya untuk pijat. Sekarang sudah beli komputer dan laptop. Ya memang mayoritas masih pijat. Tapi sekarang yang jadi guru juga banyak. Mayoritas ketiga jadi pemusik.

Berapa sih kucuran dana Om Bob untuk Pertuni?

Kita bantu apa yang bisa buat mereka maju. Itu saja. Saya juga bantu agar orang-orang di luar tidak meremehkan tuna netra. Kasih dong kepercayaan ke mereka. Mereka mampu kok. Jadi, perusahaan-perusahaan saya suruh terima tuna netra kalau memang dia benar-benar kapabel.

Waktu aktif di Yayasan Dharmais, Om Bob juga pernah melakukan operasi katarak di daerah-daerah?

Dulu bersama Prof Istiantoro. Awalnya ide itu mustahil dilakukan karena birokrasi. Prof Istiantoro itu kan pegawai Departemen Kesehatan. Dia bilang, untuk kegiatan itu mesti izin dirjen, menteri dan birokrasi lainnya. Saya bilang, itu aku yang ngurus. Jadi waktu main golf dengan Pak Harto saya bilang, “Pak boleh bantu orang miskin untuk operasi katarak gak? Beliau jawab, “Ya boleh aja. Yang bilang enggakboleh siapa?” “Ya birokrasilah. Departemennya,” jawab saya. Besoknya menterinya dipanggil.

Akhirnya kita beli mobil dengan fasilitas operasi katarak di dalamnya. Kalau tidak salah ada 10 mobil. Bahkan sampai diangkut kapal untuk masuk ke daerah-daerah.

Pak Bob membina dan meregenerasi atlet atletik….

Saya kumpulin anak-anak muda dari seluruh Indonesia. Yang punya potensi. Dan tingginya minimal 170 cm. Sebab, kalau tingginya kayak kita-kita, tidak bisa melawan bule. Mereka lari selangkah, kita tiga langkah.

BobHasan2

Talent scouting-nya seperti apa?

Kita kirim Semarang, Manado, Bali, Padang, ke mana-mana kita kirim. Kemarin kita kirim orang Rusia untuk mencari bakat lompat galah di Indonesia.

Mereka disiapkan untuk kejuaraan apa?

Olympiade, Asian Games, Sea games membawa nama Indonesia. Mereka harus bisa bicara di kelas dunia. Kalah-menang kita tidak perduli. Itu urusan olahraga. Yang penting pembinaan harus berkesinambungan. Tidak boleh berhenti. Kita harus punya 1.000 atlet.

Makanya kita di sini disiplin. Handphone, laptop apa segala kita minta kalau malam. Kalau tidak, mereka main-main itu, istirahatnya kurang. Jangan sampai seperti atlet olahraga lain. Malam-malam pergi ke night club. Bagaimana bisa jadi juara dunia kalau begitu kerjaannya?

Bagaimana dengan pendidikan mereka?

Anak-anak itu kita kumpulkan di sini. Makan, tidur, sekolah sampai kuliah kita yang urus. Kalau prestasi mereka jelek di sekolah ya kita pecat. Semua kita urusin. Dan harus ke universitas. Kalau tidak ke perguran tinggi ya kita pulangin ke daerah. Tidak naik kelas, kita pecat. Pendidikan harus jalan terus.

Itu ada satu anak yang sedang orientasi di Paspamres (Pasukan Pengamanan Presiden). Dia izin untuk latihan ke sini. Nanti kalau masa orientasinya selesai, dia mau lanjut kuliah lagi.

Ada berapa anak yang di sini?

Kita banyak. Ya sekitar seratusan anaklah. Belum lagi yang di daerah-daerah.

Biaya untuk mereka dari mana?

Kita yang urus. Sesen pun tidak ada dari pemerintah. Biaya satu anak Rp 13 juta sebulan. Itu untuk makan, asrama, sekolah, pelatih. Totalnya segitu satu anak. Ada perusahaan-perusahaan yang juga mau bantu untuk kemajuan atletik Indonesia.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)