Kiprah Martha Tilaar dengan United Nation Global Compact

IMG_2544Pada tanggal 26 Juli lalu, United Nation Global Compact (UNGC)  memperingati hari jadinya yang ke-15 tahun di New York, Amerika Serikat. UNGC merupakan jaringan perusahaan, organisasi layanan sipil, dan akademisi yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan kewargaan korporasi yang baik.

Saat ini sudah ada 119 anggota yang bergabung dengan Indonesia Global Compact Network (IGCN) yang terdiri dari kalangan pebisnis, LSM, public, dan akademik. Di dalam peringatan UNGC, DR. (HC) Martha Tilaar berkesempatan untuk berbicara di depan stake holder dari berbagai perusahaan di seluruh dunia. “Saya tidak menyangka orang bakul jamu seperti saya dapat berbicara di depan orang-orang penting,” ujarnya.

Sebagai salah satu pendiri dari IGCN, DR. (HC) Martha Tilaar telah melakukan berbagai macam program untuk mendukung 10 principle UNGC. Beberapa kegiatan yang dilakukan ICGN di tahun 2014 silam antara lain, pelatihan bisnis dan hak asasi manusia, peluncuran buku Growing Inclusive Market Vol. II, peluncuran program business for peace, private sector leaders roundtable, open government partnership Asia Pacific regional conference, peresmian bank sampah, 1 juta lubang biopori, dan pernikahan masal.

J.W. Junardy, Presiden IGCN, mengatakan, program pernikahan massal dibuat karena berdasrakan data, ada lebih dari 32 juta penduduk yang tidak memiliki identitas. Padahal identitas penting untuk keperluan administrasi baik untuk kebutuhan administrasi pendidikan maupun pekerjaan. “Akta nikah penting bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan akta lahir dan KTP yang merupakan kunci utama untuk mengakses fasilitas yang diberikan pemerintah,” tambahnya.

Meskipun Martha Tilaar tidak lagi menjadi Presiden IGCN, ia mengatakan akan terus mendukung kegiatan IGCN. “Saya tidak mau pensiun begitu saja,  nanti malah pikun,” ujarnya.

Program yang baru saja ia buat adalah Rumah Martha Tilaar yang dibangun di daerah Gombong. Di rumah tersebut, penduduk di daerah sana akan diberi keterampilan seperti membantik. “ Eyang saya selalu berpesan kepada saya "jika kamu memakai tanaman untuk obat dan kosmetik, tanamlah tanaman itu kembali. Jika kamu ada uang lebih, berbagilah’. Amanat beliau yang membuat saya ingin terus berbagi kepada sesama," jelasnya. (EVA)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)