L'Oreal Melatih Tata Rambut Untuk Wanita Miskin

Pada tahun 2017 survei Kantar menyebutkan bahwa 71% perempuan Indonesia rutin mengunjungi salon dengan frekuensi 5-14 kali setahun. Di Indonesia ada sekitar 117.000 salon dengan nilai pasar sebesar Rp1,3 triliun di tahun 2016. “Sayangnya tata rambut Indonesia masih kekurangan tenaga profesional, padahal masih banyak potensi yang bisa digali dari keberadaan salon,” jelas Umesh Phadke, Presiden Direktur PT L’Oreal Indonesia.

Umesh Phadke, Presiden Direktur PT L’Oreal Indonesia (kanan) dan Melaine Masriel, Head of Communication PT L’Oreal Indonesia (kedua dari kiri) Umesh Phadke, Presiden Direktur PT L’Oreal Indonesia (kanan) dan Melaine Masriel, Head of Communication PT L’Oreal Indonesia (kedua dari kiri)

Untuk menyediakan tenaga profesional ini, L’Oreal mengadakan program Beauty for Better Life. Program ini ditujukan untuk ibu dan wanita muda yang tidak memiliki keahlian dan berada di bawah garis kemiskinan.  Hal ini karena dari 250 juta penduduk Indonesia 28 juta di antaranya berada di garis kemiskinan, dan beberapa adalah wanita yang menjadi kepala keluarga.

Para wanita ini kesulitan mencari pekerjaan, karena tidak memiliki keahlian. Oleh karena itu L’Oreal bekerja sama dengan Yayasan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Kerja sama ini berlangsung sejak pertama kali program ini dilakukan di tahun 2014.

Setiap peserta diwajibkan melampirkan surat keterangan tidak mampu, rekening listrik, dan surat perjanjian untuk berkomitmen mengikuti kelas, surat restu suami atau keluarga.”Waktu awal program ini berdiri banyak siswa yang drop out karena permasalahan sosial dan ekonomi. Selain itu karena kelas ini juga tidak berbayar jadi sulit mengikat mereka, makanya kami meminta lampiran berbagai surat tersebut,” jelas Melaine Masriel, Head of Communication PT L’Oreal Indonesia.

Program ini sudah berjalan di Karawang, Cianjur Sukabumi, Kalimantan, Cikarang, dan baru dibuka di Mataram dan Jakarta pada tahun 2016. Kelas ini berisi 15 peserta yang diajarkan tehnik memotong rambut, coloring, dll. Menurut Melanie, saat ini pihaknya masih berfokus untuk mengajarkan penataan rambut, karena memiliki modal yang kuat baik dari produk maupun tenaga pengajar.

Untuk program ini L’Oreal menggandeng Matrix sebagai partner, karena memiliki kesamaan market. ”Kami sengaja menggunakan brand yang sesuai dengan market yang kami tuju, sehingga saat diluar nanti mereka bisa menggunakan produk yang terjangkau dan sesuai dengan keuangan mereka.” tambah Melanie.

Brand Matrix bertugas mengolah kurikulum dan menyumbangkan 1 orang tenaga pengajar untuk di setiap sekolah beserta 1 orang supervisor dari L’Oreal. Nantinya para siswa akan dilatih dalam jangka waktu 4.5 bulan. Waktu 3 bulan dihabiskan untuk belajar teori, sementara 1,5 bulan digunakan untuk magang.

Saat magang para siswa diharapkan bisa mempraktekkan kemampuan mereka dan bisa diserap oleh salon-salon yang membutuhkan. Untuk itu L’Oreal bekerja sama dengan banyak salon yang berada di sekitar tempat pembinaan. Beberapa dari siswa, telah diserap oleh salon-salon tersebut. L’Oreal sudah melatih sebanyak 416 orang dengan 63% lulusannya bekerja bidang tata rambut.

Mereka bekerja di salon, membuka salon sendiri, salon keliling, dan lainnya. Ke depannya,  selain mengajarkan tata rambut, Melanie juga berharap bisa memberikan pelatihan di bidang tata rias. Menurutnya, pilot project untuk pelathan tata rias sudah dilakukan di Mataram mengingat tingginya demand permintan pelatihan ini serta kebutuhan akan jasa tata rias. Selain itu ,ia ingin agar kelas tersebut bisa meluas, terutama di Jakarta dan kota-kota lainnya. Hal ini dilakukan untuk mencapai target 20.000 lulusan siap tenaga kerja di tahun 2020.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)