Mengapa Lulusan SMK Tidak Banyak Diserap Dunia Kerja?

Sedikitnya tenaga kerja SMK yang diserap dunia usaha terjadi karena pelajaran yang diajarkan di sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Setiap tahunnya ada 1,3 juta lulusan SMK dari total 12.900 SMK di seluruh Indonesia, sayangnya banyak dari lulusan tersebut tidak memiliki kualifikasi yang cukup.

Hiroo Kayanoki, Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) (tengah) dan Didik Suhardi, Sekretaris Jendral Kementrian dan Kebudayaan Hiroo Kayanoki, Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) (tengah) dan Didik Suhardi, Sekretaris Jendral Kementrian dan Kebudayaan

“Mesin sebagai salah satu alat praktek di sekolah SMK kurang memadai. Mereka masih menggunakan mesin yang sederhana sementara mesin di industri sudah bermacam-macam. misalnya, menggunakan mesin diesel,” jelas Didik Suhardi, Sekretaris Jendral Kementerian dan Kebudayaan RI.

Selain itu, guru-guru yang berkualifikasi jumlahaya juga tidak banyak,  tidak sebanding dengan kebutuhan industri. Misalnya guru produktif hanya tersedia 22% , sementara kebutuhan sekolah akan akan guru produktif 40%. Hingga saat ini kebanyakan guru di SMK masih normatif.

Didik berharap kekurangan tersebut dapat diisi dari pihak swasta agar bisa ikut mengajar di berbagai SMK, balai pelatihan kerja, dan balai latihan kerja. Melihat kurangnya tenaga berkualifikasi, PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) mengadakan Hino Technician Management Trainee (HTMT) untuk murid-murid SMK terplih dari seluruh Indonesia.

Program yang sudah berjalan sejak beberapa tahun silam ini, dilaksanakan selama 6 bulan secara cuma-cuma. Mereka akan mengikuti berbagai seleksi ketat serta pelatihan. Setelah selesai program, lulusan program ini akan dikontrak selama 2 tahun oleh HMSI. Hingga saat ini 30% dari para lulusan SMK tersebut sudah diserap dan bekerja secara full time untuk HMSI.

Upaya ini diharapkan dapat memunculkan talenta-talenta mekanik baru di bidang mesin diesel. Menurut Hiroo Kayanoki, Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) hingga saat ini, jumlah anak-anak SMK yang menguasai mesin diesel masih sedikit. Untuk meningkatkan jumlah talenta mekanik, HMSI juga melakukan upaya lain salah satunya dengan menyumbangkan simulator alat untuk beberapa SMK di daerah Tangerang dan Jakarta.

“Pendidikan menjadi salah satu upaya untuk mencipatakan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap bekerja dalam industri. Dengan adanya alat-alat akan lebih banyak lulusan SMK yang memiliki kualifikasi sesuai dengan industri,” jelas Hiroo

Ia juga berharap dengan sumbangan alat tersebut, gap yang terjadi antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri dapat diperkecil. HMSI menyumbangkan 11 unit Cutting Model Transmisi MX06S kepada Pusat Pelatihan Kerja Pengembangan Industri (PPKPI) Pasar Rebo, Balai Latihan Kerja (BLK) kota Tangerang dan 8 SMK di Tangerang dan Jakarta.

Sekolah-sekolah tersebut terdiri dari SMKN 4 Kota Tangerang, SMKN 2 Kota Tangerang, SMKN 8 Kota Tangerang, SMK Yappika Legok, SMKN 52 Jakarta, SMKN 35 Jakarta, SMKN 4 Jakarta, SMKN 5 Jakarta, dan SMK Muahamadiyah Cileungsi. Cutting Model Transmisi MX06S telah dikonversikan menjadi simulator untuk menunjang proses belajar mengajar di pusat pelatihan dan sekolah.

Selain itu tahun lalu HMSI juga menyumbangkan 1 unit mesin W40D untuk simulator belajar kepada PPKPI Pasar Rebo, melaksanakan pelatihan untuk pelatih dan pelatihan bagi pengemudi dan mekanik. Selain itu HMSI juga mulai mengadakan pelatihan bagi beberapa guru SMK untuk memenuhi kebutuhan pengajar mesin diesel.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)