Nojorono Peduli Wastra Nusantara Demi Menjaga Peradaban

Banyak cara dilakukan oleh perusahaan untuk merealisasikan Corporate Social Responsibility (CSR). Contohnya, aksi sosial produsen rokok asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International membantu para UKM untuk memajukan usaha, mengadakan program Semarak Djiwa Tangguh untuk mencetak wirausaha muda atau mengembangkan seni budaya Nusantara.

“Kami dari Nojorono membantu menghidupkan kembali Batik Kudus dengan motif kapal karam yang terkenal. Kami mendukung kemajuan kain-kain daerah, terutama di Kudus, Jawa Tengah ini,” ujar Debora Amelia Santoso, Senior Manager Marketing Communication & Corporate Brand PT Nojorono Tobacco International.

Nojorono juga peduli dengan wastra atau kain tradisional. Wastra adalah peninggalan turun menurun leluhur yang menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia. Mencintai dan menjaga wastra Nusantara berarti menjaga ingatan terhadap budaya dan peradaban Nusantara, karena setiap lembar wastra mempunyai nilai nilai filosofis yang agung dan luhur.

Hal ini menjadi bahasan menarik antara pemerhati dan pegiat wastra Nusantara bersama kalangan jurnalis dalam Diskusi Wastra dan menyambut peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 yang digelar Nojorono di Tanamera Coffee, Kemang, Jakarta Selatan, (13/8/2019).

Notty J. Mahdi, pemerhati batik Indonesia, mengatakan, jika nilai nilai filosofis dari motif motif batik di seluruh nusantara, dikaji lebih dalam, maka akan terlihat bahwa motif motif itu memiliki benang merah yang mencerminkan karakter budaya Indonesia.

"Memahami makna dan cerita dibalik motif-motif kain Nusantara, menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga ingatan kita tentang bagaimana peradaban Nusantara terbentuk. Dalam konteks hari ini, menjadi bagian dari upaya melestarikan keberadaan kain-kain nusantara," ungkap Notty yang juga Antropolog dari Universitas Indonesia ini.
Notty menambahkan, sejatinya setiap kain-kain Nusantara memiliki tujuan penggunaan masing-masing saat kain itu dibuat. Namun meski setiap pengguna kain-kain nusantara harus memahami makna kain yang digunakan, jangan sampai menjadikannya sangat jauh dari keseharian masyarakat. “Fenomena hari ini dengan meluasnya penggunaan batik, tenun, dan beragam kain nusantara lainnya sebagai pakaian keseharian menjadikan kain akan lebih merakyat dan masyarakat bangga mengenakannya,” ujar Notty lagi.

Sementara itu, Erfan Siboro, seorang pegiat wastra ulos (tenun ulos) yang juga hadir dalam diskusi ini, menjelaskan upayanya menjadikan ulos sebagai pakaian keseharian. Erfan yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan di salah satu bank BUMN di Jakarta, menceritakan impiannya melalui karya desain fashion.

Ia mengatakan, karyanya berawal dari keinginan untuk turut meramaikan pilihan penggunan kain Indonesia sebagai pakaian formal untuk dikenakan bekerja sejak pemerintah menetapkan adanya hari penggunaan Kain Indonesia dalam Bekerja, selain batik, tenun NTT dan tenun lainnya.

Usaha fashion tenun ulos Abit Kain, yakni produk yang dibuat berdasarkan pesanan, dan Abit Catalogue, koleksi fashion siap pakai yang diproduksi dalam jumlah tertentu, yang ia rintis sejak 2015, kian dikenal tak hanya kalangan masyarakat atau pecinta kain tenun, tapi juga sudah mendunia.

"Yang menarik dari usaha yang saya jalani ini adalah, saya seperti membuka kembali sebuah tabir sejarah dan fakta. Yaitu mengembalikan fungsi tenun ulos sebagai produk sandang, sebagaimana nenek moyang orang Batak dahulu gunakan. Banyak orang Batak sendiri menggangap ulos sebagai sebuah benda keramat, dihormati dan terkesan berhala. Padahal, dari dokumen sejarah bisa kita temukan foto-foto nenek moyang orang batak mengenakan ulos sebagai pakaian keseharian,” ungkap Erfan.

Diskusi bersama kalangan media menyambut peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 dengan tema Wastra dan Kemerdekaan menjadi tonggak penting bagi Nojorono dalam menumbuhkan semangat untuk selalu mencintai warisan budaya Nusantara yang kaya dari berbagai derah di Indonesia, seperti wastra atau kain tenun batik, lurik, dan ulos.

"Ini menjadi bagian penting dari kepedulian dan tanggungjawab kami sebagai perusahaan nasional yang terus menerus memberikan kontribusi nyata di bidang pelestarian budaya dan pendidikan bagi masyarakat, " terang Debora.

Debora menjelaskan, bendera Nojorono dikibarkan sejak 14 Oktober 1932, berbentuk Command it aire Vennoots chap, di Kota Pati. Di sinilah cikal bakal PT Nojorono Tobacco International (NTI) dimulai. Seiring dengan pertumbuhan bisnis yang makin pesat kala itu, tahun 1934 pabrik dipindahkan ke Kota Kudus.

Lompatan besar terjadi di tahun 1973, saat firma Nojorono berganti status menjadi perseroan terbatas, dan nama perusahaan menjadi PT. Nojorono Tobacco Company Limited. Terobosan berikutnya diluncurkan produk rokok Clas Mild low-tar/low nicotine tahun 2003, yang kemudian melesat menjadi nomor dua terbesar dalam pangsa pasar rokok di Indonesia hanya dalma tempo dua tahun..

Saat ini Nojorono menduduki posisi lima besar dalam industri sigaret di Indonesia. Dengan nilai-nilai F.A.I.T.H. yaitu: Fraternity, Accountable, Innovation, Trustworthy dan High Performance, PT. N.T.I. akan terus berkarya untuk Negeri dan menjadi Good Corporate Citizen.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)