Peduli Konservasi Sumber Daya Laut, Hino Tanam Terumbu Karang di NTT

Memperingati hari jadinya yang ke-30 tahun, Hino Indonesia melakukan penanaman terumbu karang di Pulau Kangge, Alor, Nusa Tenggara Timur. Program ini diselenggarakan bekerja sama dengan WWF-Indonesia. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan terumbu karang bagi masyarakat Alor, khususnya di Pulau Kangge.

"Fokus dari kegiatan CSR kami adalah pendidikan, kesehatan, perlindungan lingkungan dan pengembangan masyarakat. Sebagai warga perusahaan yang baik, kami secara aktif melaksanakan banyak kegiatan CSR. Kami melakukan program ini karena mendukung konservasi sumber daya laut, khususnya di Pulau Kangge,” kata Toshiro Mizutani, Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia.

Dijelaskan Mizutani, praktek penangkapan ikan yang tidak sehat dengan menggunakan metode destruktif seperti pengeboman dan penggunaan bahan beracun telah merusak terumbu karang yang merupakan rumah bagi berbagai biota laut. Sayangnya, tindakan ini telah mengurangi hasil tangkapan nelayan setempat secara signifikan.

Alor kaya akan keanekaragaman hayati laut di mana tercatat ada 279 spesies ikan, 15 spesies cetacean-termasuk ikan paus, empat spesies penyu dan spesies yang membuat Alor - Solor sangat unik, Dugong (Dugong dugon). Sebagian besar masyarakat Solor-Alor memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, pengumpul atau petani rumput laut. Pada tahun 1980 - 2005, Kabupaten Alor dikaruniai oleh sumber daya ikan yang berlimpah ruah. Namun, kondisi ini telah berubah dalam 7 tahun terakhir (2005-2012) yang disebabkan oleh praktik penangkapan ikan yang tidak sehat yang telah merusak terumbu karang. Hal ini telah mengganggu habitat alami ikan dan hasil tangkapan nelayanpun berkurang. Terumbu karang yang rusak perlu direhabilitasi dan manusia harus bekerja keras untuk memelihara sumber daya alam ini.

Rehabilitasi terumbu akan dilakukan dengan metode rockpile. Metode ini dilakukan dengan membenamkan batu kapur di area seluas sekitar 150 meter kubik pada hamparan laut pada kedalaman 5-10 meter untuk menstabilkan substratenya. Tumpukan batu kapur diatur sejajar dengan arah arus laut. Ketinggian tumpukan sekitar 75 cm dengan lebar 2 meter dan jarak antara tumpukan adalah sekitar 2-3 meter panjang. Rockpile akan dipantau setiap enam bulan sekali.

"Hino memilih WWF sebagai mitra untuk program CSR ini karena WWF memiliki pengalaman yang luas dalam rehabilitasi terumbu karang,” tambahnya. Pendidikan tentang perlindungan terumbu karang dan pengajaran metode penangkapan ikan yang aman untuk para nelayan Alor telah menjadi salah satu tugas utama yang diemban oleh WWF di wilayah ini.

Melalui program ini, Hino akan memainkan peran penting, yaitu untuk melestarikan salah satu harta Indonesia untuk generasi mendatang. Hino berharap bahwa ekosistem laut akan pulih kembali, habitat ikan dan terumbu karang akan tumbuh kembali dan keragaman hayati laut dapat dilindungi.

Kami juga mengajak masyarakat Alor untuk aktif berpartisipasi dalam menjaga ekosistem laut yang juga berfungsi sebagai sumber mata pencaharian utama mereka dengan menerapkan metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan menjaga terumbu yang telah direhabilitasi,” jelasnya. Program ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan bagi Alor. Bukan hanya sumber daya ikan yang akan bertambah, tetapi program ini juga dapat membantu mengembangkan daerah ini sebagai pusat wisata eco turisme. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)