Pembangunan Jaya Gandeng Mira-Riri Produksi Film Digital Maestro

Riri Reza (Sutradara AADC2) dan Mira Lesmana (Producer AADC2) Riri Reza (Sutradara Film Maestro Indonesia) dan Mira Lesmana (Produser Film Maestro Indoensia)

Tidak bisa dipungkiri dunia digital sangat dekat di kalangan anak muda saat ini. Kampanye di media sosial di tengah dahsyatnya gelombang digital adalah keniscayaan agar pesan bisa cepat ditangkap, terutama jika sasarannya anak muda. Inilah yang disadari PT Pembangunan Jaya dengan mendanai film Maestro Indonesia yang diproduseri Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza. Film yang hanya ditayangkan di Youtube ini merupakan film dokumentar yang mengangkat sejarah dari tokoh-tokoh Indonesia. Pembangunan Jaya ingin anak-anak muda mendapat inspirasi dari para tokoh yang diangkat dalam film ini.

Seperti kita ketahui Mira-Riri adalah 'duet maut' di perfilman Indonesia, yang selalu menjunjung tinggi idealisme dalam berkarya. Maka tidak heran proses pembuatan film dokumentar ini membutuhkan waktu hingga 2 tahun. "Secara konten, film harus penting dari sudut pandang perusahaan dulu, Miles Films. Karena bagi saya, bikin film itu tidak mudah, tidak cepat, tidak murah. Saya tidak perlu buang-buang waktu untuk bikin sesuatu yang kontennya itu tidak berarti. Medium film punya kekuatan luar biasa untuk bisa memberikan komentar terhadap keadaan sekitar sosial, ekonomi, politik apa pun," jelas Mira.

Film ini sarat arti dan memuat komentar sosial. Mengangkat profil dua tokoh terkemuka Indonesia, yakni Chairil Anwar (penyair angkatan ‘45) dan Soejoedi Wirjoatmodjo (arsitek), film berdurasi masing-masing tokoh ‘hanya’ 15 menit ini menelan biaya hingga Rp 2 miliar. Mira dan Riri serta tim produksi menggali informasi langsung dari sumbernya tentang kebiasaan tokoh ini di masa lalu. Nicholas Saputra sebagai narator di film ini juga turut berjalan ke kota-kota di mana tokoh ini menghabiskan hidupnya.

“Film ini merupakan hadiah puncak perayaan Pembangunan Jaya ke-55 yang kami persembahkan untuk seluruh generasi muda penerus bangsa Indonesia,” ujar Edmund Sutisna, Ketua Panitia HUT Jaya Ke 55 merangkap Presiden Universitas Pembangunan Jaya. Menurut Edmund, dua tokoh ini dipilih karena masing-masing telah menunjukkan sikap dan karya yang penuh inovasi, kerja keras, kepedulian sosial, kejujuran dan kepatuhan. “Nilai budaya itulah yang menjadi inspirasi kami dan diharapkan dapat juga menginspirasi para generasi muda bangsa ini untuk terus berkarya untuk membangun Indonesia,” imbuhnya.

“Keunikan dari film ini adalah penonton tidak akan melihat film dokumentar yang hanya menampilkan gambar atau foto sejarah, namun film ini benar-benar kami kemas dengan audio-visual yang menggugah minat anak muda agar mau menonton, salah satunya dengan menggandeng Nicholas Saputra yang menjadi narator dalam film ini,” tutur Mira.

Riri berpendapat Chairil Anwar adalah tokoh sastra yang sangat berpengaruh bukan saja pada para penyair, dunia sastra, tapi juga dunia film, musik. Dalam pembuatan film, bahasa sangat penting untuk tercapai pemahaman yang tepat sesuai dengan yang diharapkan dari film tersebut. Dan menurut Riri, sastra adalah bahasa. “Kesadaran berbahasa itu penting dan harus dimiliki oleh siapapun, juga orang-orang yang berkecimpung di dunia seni,” kata sutradara kelahiran 1970 ini.

Dari tokoh Soejoedi Wirjoatmodjo, Riri mengaku mengenal lebih dekat tokoh arsitek yang dikaguminya ini. Tokoh yang dinilainya konsisten menciptakan karya tanpa kehilangan sentuhan lingkungan dan tradisi Indonesia. Beberapa karya arsitektur yang monumental antaranya gedung MPR/DPR RI, gedung Sekretariat ASEAN, gedung Manggala Wanabakti, hingga gedung Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia; Beograd, Serbia; hingga Seoul, Korea Selatan.

“Saya belajar dari sosok Soejoedi bahwa Indonesia punya jejak-jejak arsitektur modern tapi tidak kehilangan tradisi Indonesia nya,” tuturnya. Film digital ini dikemas sangat mengasyikan ditonton di channel Youtube hingga saat ini meskipun sebenarnya menurut Edmund film ini sudah diluncurkan sejak 19 September lalu bersamaan dengan perayaan ulang tahun Pembangunan Jaya. Tapi dengan ditayangkan di Youtube, hingga kinipun film itu bisa dinikmati dan menjadi inspirasi yang menontonya. Diharapkan dengan film ini memanfaatkan platform digital dapat menyebarkan semangat dan inspirasi positif kedua tokoh yang diangkat dalam film lebih luas lagi karena bisa diakses di mana-mana.

“Kami ingin seluruh masyarakat Indonesia dapat menontonnya melalui akses digital, di mana pun dan kapan pun. Semoga karya persembahan Jaya ini dapat membangkitkan semangat untuk terus belajar, berprestasi dan membangun Indonesia menjadi lebih maju serta kedepannya, Jaya dapat mengangkat sejarah Maestro Indonesia lainnya dari bidang yang berbeda,” kata Edmund. Hingga hari ini (7/11) kedua film tersebut masing-masing sudah ditonton oleh 22-24 ribu viewer.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)