Pengemudi Grab Car dan IFRC Bantu Korban Gempa Lombok

Munir, pengemudi Grab Car. (Foto :Grab)

Ketika  gempa bumi berkekuatan 6,4 skala ricther terjadi, banyak warga Lombok yang sedang melakukan aktivitas mereka di luar rumah. Salah satunya adalah Munir (34 tahun),  pegawai negeri sipil (PNS) yang juga merupakan mitra pengemudi Grab Car selama enam bulan terakhir.

Saat gempa, Munir baru saja mengantarkan penumpangnya. Dia pun segera bergegas pulang ke rumahnya di kota Mataram dengan hati yang penuh rasa khawatir. Pikiran Munir berkecamuk, keselamatan keluarganya memenuhi pikirannya. “Saya langsung menyetir ke rumah sambil terus berdoa agar istri dan kedua anak-anak saya baik-baik saja. Syukurlah saat saya sampa ke rumah, istri dan anak-anak saya selamat dan rumah pun tidak mengalami kerusakan berarti,” cerita Munir dalam pemaparan tertulisnya seperti dikutip SWA Online (21/8/2018).

Sayangnya, banyak teman-teman Munir dan salah satu anggota keluarganya yang tidak seberuntung dirinya. Salah seorang keluarga istrinya harus melihat rumahnya rata dengan tanah karena gempa tersebut. Walaupun keluarga tersebut sudah mendapatkan perawatan, mereka harus mengungsi ke posko perlindungan dan menjadikan posko tersebut rumah sementara mereka.

Dengan adanya beberapa gempa susulan, keluarga Munir tidak tenang untuk berada di dalam rumah mereka. Pada siang hari, keluarganya dititipkan ke rumah orang tua Munir saat dia pergi bekerja. Saat malam hari, Munir pergi menjemput istri dan anak-anaknya dan bermalam di dalam mobil karena hal tersebut memberi mereka rasa aman.

Bencana yang dialami oleh warga Lombok membuat Munir sedih dan terenyuh. Dia merasa harus berbuat sesuatu untuk meringankan beban sesama warga Lombok.  Mengetahui adanya program bantuan yang diberikan oleh International Federation of Red Cross and Crescent Societies (IFRC) yang bekerja sama dengan Grab, Munir memutuskan untuk bergabung dan berkontribusi..

Bersama dengan beberapa mitra pengemudi Grab Car lainnya, Munir membantu dengan cara mengantarkan para staf dan relawan dari IFRC ke lokasi-lokasi pengungsian di Lombok Utara. “Perasaan saya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sedih pasti. Baru masuk ke wilayah Lombok Utara, langsung rasanya seperti…. sulit untuk diungkapka,” tuturnya sedih.  Tetapi pada saat yang bersamaan, Munir merasa bersyukur karena diberikan kesempatan untuk menolong sesama yang membutuhkan.

Munir bercerita bahwa sekalipun IFRC bekerja sama dengan Grab, tak terbersit dalam pikirannya untuk mencari keuntungan materiil. “ Memang saat mengantarkan staf dan relawan ke lokasi bencana kami mendapat uang untuk pengganti BBM dari pihak Grab, tapi itu kami megganggapnya hanya ongkos agar mobil kami bisa berjalan, bukan untuk keuntungan pribadi,” terang Munir.

Grab membantu untuk mengkoordinasikan info jadwal pengantaran para sukarelawan pada para mitra pengemudi yang tergabung dengan program tersebut sehingga mereka yang menjalani kewajiban lainnya ketika sedang tidak menjalan tugas sebagai sukarelawan bencana. Menurutnya para mitra pengemudi biasanya diberitahu jadwal pengantaran satu hari sebelumnya. Koordinasi tersebut dilakukan melalui grup WhatsApp karena lebih mudah, cepat dan tertata. Mereka juga dibekali makanan dan minuman dari Palang Merah Indonesia.

 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)