Pentingnya Pendidikan Seks Usia Dini oleh Orang Tua | SWA.co.id

Pentingnya Pendidikan Seks Usia Dini oleh Orang Tua

Pada era digital seperti sekarang ini, segala informasi dapat diakses dengan mudah, termasuk foto-foto yang berbau pornografi. Keadaan tersebut bisa berdampak buruk bagi masa depan anak-anak. Untuk mencegah kejadian tersebut, diperlukan adanya pendidikan seks usia dini oleh orang tua. Hal ini dibahas dalam acara Penutupan Daycare 2014 yang digelar oleh PT Unilever Indonesia Tbk di Jakarta (8/8/14).

IMG_20140808_193234

Enny Sampurno, Direktur Human Resources PT Unilever Tbk, mengatakan, untuk menciptakan hari esok yang lebih cerah, anak-anak harus mendapatkan pendidikan sejak dini, termasuk salah satunya adalah pendidikan tentang seks, dan orang tua adalah orang yang berperan penting dalam memberikan edukasi seks sejak dini bagi anak-anak.

"Pendidikan seks sejak dini dapat melindungi diri serta menjaga diri anak dari ancaman kekerasan seksual yang bisa merusak masa depannya," ungkap Enny.

Berdasarkan survei komnas HAM Anak di tahun 2002, ada 67,3% pelajar SMP yang di survey pernah melakukan hubungan seks usia dini bersama temannya. Itu artinya, setiap 6 dari 10 anak SMP pernah melakukan hubungan seks pra nikah.

"Kasus yang cukup memperhatinkan di negara ini untuk anak-anak. Maka kita harus belajar dari expertnya, bagaimana kita mengajarkan pendidikan seks kepada anak," terang Enny.

Oleh karena itu, pendidikan seks pada anak penting dilakukan sejak anak mulai mengenal bahasa, atau sekitar usia 2 tahun. Karena pada usia ini perkembangan otak anak sangat pesat, yaitu hingga 80% menyerap segala hal yang diajarkan akan cepat terekanpm pada ingatan si anak.

Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Ayah Edy, seorang praktisi Multiple & Holistic Learning. Ia mengatakan, "Secara filosofi, anak lahir dari 'kerja sama' antara ayah dan ibu, untuk itu perlu kerja sama yang kuat juga dari keduanya dalam mendidik untuk menciptakan generasi yang kuat dan tangguh, agar anak dapat mencapai masa depannya yang cerah.

Sebelum memberikan pendidikan seks pada anak, lanjut Ayah Edy, orangtua perlu membekali mereka dengan pengetahuan tentang edukasi seks yang mencakup self defense system (cara anak melindungi diri dari kekerasan seksual), left brain system (mengajarkan lewat pendidikan seks lewat otak kiri), dan brain response system (agar anak memiliki daya tolak jika ada ancaman kekerasan seksual). (EVA)

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)