Semua Pihak Harus Memperhatikan Masalah Gizi Buruk di Indonesia

Meski angka kemiskinan di Indonesia menurun terus pada 2007 angka kemiskinan 16,6% sedang pada 2016 menjadi 16.6%. Indonesia masih dihadapkan pada masalah stunting atau kekurangan gizi pada anak yang terus meningkat.

Tercatat angka stunting pada balita 2010 mencapai 35,6% meningkat menjadi 37,2% pada 2013 dan angka tahun lalu mencapai 37% atau 9,2 juta anak Indonesia yang mengalami masalah malnutrisi. Kondisi malnutrisi ini rawan beragam penyakit, termasuk diare yang merupakan penyebab kematian kedua di Indonesia. an Dr. dr. Ariani Dewi Widodo mengungkapkan, ada penyebab kematian terbesar di Indonesia yaitu pneumonia 19% dan diare 9%. “Diare harus digantikan dengan cairannya dengan zat besi yang bisa diatasi salah satunya dengan cairan oralit. Tapi perlu dipahami oralit ini bukan obat diare tapi larutannya menggantikan cairan yang hilang akibat diare untuk mencegah kematian. Penyebab diarenya harus diobati,” jelasnya saat konferensi pers Komitmen Nutrition International dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak Indonesia di JS Luwansa Jakarta (18/09/2018).

Dr. Sedya Dwisangka dari Kemenkes RI yang dalam paparannya, menjelaskan, zinc bisa meningkatkan selera makan anak. “Harus dipahami ketika diare yang utama diberikan ya oralit dan zinc bukan antibiotik dulu. Karena ketika diare cairan harus dikembalikan dulu, penggunaan antibiotik secara selektif,” imbuhnya.

“Kami sangat konsern pada tingginya masalah stunting di Indonesia yang meningkat terus pada lima tahun terakhir. Kekurangan gizi pada anak menyebabkan masalah jangka panjang pada sebuah negara: menurunnya daya saing akibat hilangnya generasi yang sehat,” kata Dr. Sri Kusyuniati Direktur Nutrition International. Menurutnya, pemenuhan gizi mikro tidak kalah penting dengan pendidikandan peningkatan ekonomi dalam pemenuhunan kebutuhan hidup. “Tidak terlihat nyata memang akibat kurangnya pemenuhan zat gizi mikro tapi dampak jangka panjangnya sangat serius bagi negara. Keterlibatan NI dengan Kemenkes RI sejak 2006 membantu meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya anak, remaja putri dan para ibu,” paparnya.

Lembaga non profit yang berkantor pusat di Ottawa Kanada ini telah bekerja di Indonesia sejak 2006, kini sudah merambah 7 propinsi di Indonesia yaitu Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT dan NTB. Secara langsung NI membantu pemenuhan suplemen kapsul vitamin A bagi anak-anak. NI membantu meningkatkan penggunaan zinc bersama oralit osmolaritas rendah sebagai terapi dalam pengobatan diare balita, meningkatkan jumlah rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium. Selain itu, meningkatkan jumlah perempuan dalam mengkonsumsi suplemen zat besi dan asam folat secara rutin dan mendukung fortifikasi tepung terigu.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)