Siapkan SDM Handal, HSBC Gelar Business Case Competition

Nuni Sutiyoko, (tengah), Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia bersama narasumber lain di Sampoerna University (foto: Syukron Ali/swa) Nuni Sutiyoko, (tengah), Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia bersama narasumber lain dani Sampoerna University (foto: Syukron Ali/swa)

Untuk ketiga kalinya, HSBC Indonesia menggelar Business Case Competition di Jakarta. Saat ini menggandeng Putera Sampoerna Foundation (PSF) dengan tujuan mempersiapkan SDM dengan melatih ketajaman analisa beragam kasus nyata dari perusahaan-perusahaan global dan mampu memberikan gagasan orisinilnya secara tajam pula.

Sebanyak 13 peserta dari perguruan tinggi akan berlomba meraih posisi terbaik dan akan mewakili Indonesia di ajang kompetisi HSBC Business Case tingkat international di Hong Kong pada bulan Juni 2016 mendatang.

"Lewat kompetisi ini, para peserta mendapat kesempatan berinteraksi secara langsung dengan para pakar dan profesional berpengalaman serta membekali mereka mengenai problematika nyata di dunia bisnis," jelas Nuni Sutiyoko, Head of Corporate Suistainbility HSBC Indonesia di kampus Sampoerna University Jakarta.

Keunikan kompetisi ini, diakui Fung Fak, pelaku bisnis online sekaligus juri kompetisi, bahwa para peserta sangat diuji ketajaman berpikir dan menganalisa serta memberikan solusi.

Dalam waktu 2,5 jam, tiap tim (peserta) yang terdiri dari empat mahasiswa dan 1 pembina itu diberikan lembar kasus nyata dalam bahasa Inggris. Tanpa dibekali laptop, ponsel pintar maupun sarana presentasi lainnya. Setelah menelaah kasus bisnis tersebut, para peserta diuji kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

"Jadi kejelian, ketajaman pikiran peserta sangat diuji. Setelah membaca paper studi, dalam waktu 30 menit mereka harus mempresentasikan hasil analisanya dalam Bahasa Inggris," lanjut Nuni.

Sementara itu, Ari Kunwidodo, Fundraising Director PSF, menjelaskan, bahwa ajang kompetisi tersebut bagian dari kontribusi PSF untuk pengembangan SDM Indonesia yang siap bersaing secara global.

Senada dengan Adi, Fung menjelaskan, peningkatan peserta dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurutnya, business case competitin di Indonesia belum lumrah dibandingkan dengan luar negeri.

"Di Singapura misalnya, sebanyak 80-90% business case sudah dipakai sebagai bahan mata kuliah dan standar kuliah. Sedangkan di Indonesia masih ada gap antara kebutuhan di perusahaan dengan kemampuan lulusan perguruan tinggi," jelas Fung. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)