YDBA Nyalakan Api Perdana Biogas di Kal-Sel

Salah satu bentuk pembinaan yang diberikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk meningkatkan nilai tambah dan kemandirian ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan petani binaan di berbagai daerah adalah dengan mengembangkan teknologi biogas seperti yang dilakukan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.Pembinaan ini dilakukan bekerja sama dengan PT Pamapersada Nusantara dan PT Prima Multi Mineral yang merupakan perusahaan Grup Astra di bidang bisnis pertambangan batubara.

IMG_20150206_092952

Dalam pembuatan biogas ini, para anggota Kelompok Tani Tunas Jaya diberikan pelatihan membangun reaktor biogas fixed dome. Tidak hanya itu, Kelompok Tani ini juga diberikan pelatihan mengoperasikan reaktor biogas yang sudah dibangun, merawat dan mengatasi masalah pengoperasian reaktor, pemanfaatan pupuk keluaran, pembuatan demplot, penggunaan pupuk keluaran, membentuk format pendampingan serta monitoring dan evalusi hasil pembuatan biogas.

Sebagai upaya untuk memberikan apresiasi dan memotivasi serta melihat perkembangan usaha tani yang telah dilakukan Kelompok Tani mitranya, YDBA mengelar acara penyalaan api perdana. Acara ini dilaksanakan di rumah Ketua Kelompok Tani Tunas Jaya, Agus Kusworo, yang terletak di Dusun Padang Harapan, Desa Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ketua Pengurus YDBA, Sri Martono, menyampaikan apresiasi dan harapannya kepada Kelompok Tani Tunas Jaya dan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB). "Baprida sebagai pembina, agar fasilitas yang telah dibangun ini dapat dimanfaatkan dan mendorong kreatifitas bahkan inovasi atau terobosan-terobosan baru hasil karya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan petani di LPB mitra YDBA lainnya," ujar Martono .

Adanya inisiasi pembuatan biogas ini dilatarbelakangi dengan kegiatan usaha ternak rakyat yang belum memaksimalkan kotoran ternak dimana kotoran tersebut bisa menjadi sumber pencemaran akibat residu yang tidak terolah.

Masyarakat sebenarnya sudah mengetahui manfaat biogas, namun mereka belum mendapatkan cara bagaimana merealisasikannya. Teknologi biogas ini merupakan salah satu improvement untuk Kelompok Tani Tunas Jaya binaan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Baprida untuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar dan pupuk kandang berkualitas. Teknologi biogas ini juga dapat menciptakan kegiatan ekonomi baru dan memperkuat usaha pertanian yang sudah ada. Semoga ini bisa dijadikan contoh dan direplikasi di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Menurut Agus Kusworo, dengan adanya biogas tersebut, dapat menghemat ongkos produksi cemilan seperti keripik dan makaroni goreng. "Dari harga jual jadi dapat ditekan sebanyak Rp500 rupiah per bungkus. Untuk keuntungan juga meningkat, dari yang sebelumnya hanya Rp4000 per bungkus jadi bisa Rp7000 per bungkus," imbuhnya.

Kelompok Tani Tunas Jaya, yang memproduksi makanan ringan tersebut beranggotakan 20 orang wanita dan 55 orang pria. Setiap bulannya mereka dapat memproduksi 300 kilo makanan ringan. "Dengan adanya biogas, penduduk desa jadi punya penghasilan lebih. Selain hasil dari mengumpulkan getah karet, mereka juga bisa mendapatkan uang tambahan sekitar Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per bulannya," papar Agus.

Untuk penjualan hasil produksi, agus mengaku bahwa produksinya sudah sampai supermarket dan beberapa toko di sekitar desa. "Kalau hasil produksinya sudah banyak kami masuk ke toko-toko. Ada juga yang sampai super market seperti Lotte dan berikutnya akan masuk Giant juga," ujar agus.

Agus juga mengatakan meskipun baru hanya satu rumah saja yang menggunakan teknologi biogas ini, dirinya optimis merencanakan akan ada tiga rumah lagi yang menggunakan biogas."Sekarang baru satu rumah saja. Kedepanya ada rencana untuk tiga rumah lagi yang bisa pakai biogas ini. Inginnya sih sampai semua rumah di desa ini pakai," pungkasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)