Workshop: Mewujudkan Zero Fraud Dengan Kerangka Kerja Anti Fraud yang Terintegrasi

Mewujudkan Zero Fraud MelaluiPenerapan Kerangka Kerja Anti Fraudyang Terintegrasi
Strategi Penyelesaian Kasus-Kasus Fraud Untuk Meminimalisir Kerugian Perusahaan

2 (Two) DaysWorkshop

Setiap pemilik perusahaan dan manajemen, tentu menginginkan bisnisnya tidak menjadi obyek kejahatan/fraud, sementara akhir-akhir ini intensitas tindak kejahatan mengalami peningkatan cukup signifikan baik di sektor riil maupun perbankan. Industri keuangan perbankan yang rawan terhadap tindak kejahatan, sementara mereka membutuhkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi telah menggerakkan regulator lebih awal. Industri lain dapat belajar dari industri keuangan dan perbankan mengenai anti fraud.

SWA Business Learning Center Workshop: Mewujudkan Zero Fraud Dengan Kerangka Kerja Anti Fraud yang Terintegrasi SWA Business Learning Center Workshop: Mewujudkan Zero Fraud Dengan Kerangka Kerja Anti Fraud yang Terintegrasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengintensifkan pengawasan agar setiap bank menjamin pelaksanaan fungsi unit anti fraud, revitalisasi whistleblowing system serta menerbitkan seluruh perangkat ketentuan yang dibutuhkan. Ternyata peristiwa fraud masih terus terjadi baik itu pelakunya (fraudster) dari internal maupun pihak luar. Oleh sebab itu, seluruh unsur dalam industri jasa keuangan baik itu perbankan maupun Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) perlu menerapkan sistem anti fraud yang lebih terintegrasi mulai dari sisi deteksi/pencegahan, investigasi hingga penyelesaian kasus-kasus yang telah terjadi. Tantangan bagi jajaran manajemen untuk secara konsisten dalam menerapkan sistem pengendalian fraud yang telah disusun.

Munculnya indikasi fraud dalam skala kecil seringkali diabaikan sehingga memicu terjadinya efek domino yang berisiko merugikandalam jumlah fenomenal. Belum lagi berbicara mengenai tindakan (enforcement) terhadap para fraudster yang kerap dinilai diskriminatif akibat tidak adanya pedoman baku mengenai sanksi maupun batas toleransi terhadap peristiwa fraud. Puncaknya adalah berlarut-larutnya penanganan sebuah kasus fraud karena keterbatasan skil dan kompetensi para petugas anti fraud dalam mengidentifikasi/mendalami symptom-symptom dan kelemahan dalam menyusun mekanisme tindak lanjut serta penyelesaiannya. Banyaknya kekurangan ditambah dengan ancaman fraud yang dapat muncul sewaktu-waktu, membuat ekspektasi mencapai zero fraud mustahil untuk dilakukan. Namun dengan meningkatkan kompetensi praktisi anti fraud dan memperbaiki kualitas Standard Operating Procedure (SOP), upaya untuk membudayakan zero tolerance terkait fraud, menjadi hal yang memungkinkan untuk dicapai.

Swa Business Learning Center (SBLC) bermaksud mengadakan 2 (Two) Days Workshop Mewujudkan Zero Fraud Melalui Penerapan Anti Fraud Framework yang Terintegrasi : Strategi Penyelesaian Kasus-Kasus Fraud Untuk Meminimalisir Kerugian Bank “.

TujuanProgram

1. Meningkatkan pengetahuan peserta mengenai prinsip-prinsip pengendalian fraud

Pages: 1 2 3 4 5

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)