Ade Fonda Arifin, Pengusaha Busana Belia dengan 100 Karyawan

Ade Fonda Arifin ~

Sejak SMA, Ade Fonda Arifin sudah belajar mengelola usaha sendiri. Tak heran ketika memasuki usia 19 tahun, ayahnya sudah memercayainya untuk mengelola sejumlah toko. Lantaran begitu sukanya ia dengan kegiatan berdagang, cita-cita masa kecil ingin jadi tentara pun dilupakannya. Bahkan, ia sampai meninggalkan bangku kuliahnya di Jurusan Sistem Informasi, Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia, ketika masih semester dua.

Saat ini Ade mengelola empat toko di Kompleks Pertokoan Tanah Abang, Jakarta, yakni dua toko di Blok F dan dua toko di Blok A. Tiga toko menjual produk hijab seperti kerudung, dan satu toko menjual baju koko. Toko pertama bernama Ed-In, satu lagi Ed-In Mode dan dua toko bernama Edie's. Di samping itu, Ade juga memasok barang untuk tiga toko di Thamrin City dan dua toko di Pasar Pagi Mangga Dua. “Yang saya kelola langsung hanya empat toko di Tanah Abang itu,” ujar pengendara Ford Fiesta biru metalik ini.

Bakat berdagang tampaknya telah mengalir dalam diri putra kedua dari pedagang asal Bukittinggi di Pasar Tanah Abang ini. Ade menceritakan, ayahnya (kini 58 tahun) yang memulai usaha ini dari nol dan telah berdagang selama 25 tahun. “Sejak kecil, saya hidup di lingkungan konveksi. Saya tidur sama mesin. Jadi sudah terbiasa,” ujarnya. Ia mengaku bakat dagang tumbuh pada dirinya sejak di bangku SD. Saat itu pria kelahiran Jakarta 7 Maret 1991 ini mulai berjualan kertas file sampul bergambar. Selanjutnya, sewaktu di kelas satu SMA, Ade sudah membuka usaha warnet. “Omset sebulan waktu itu Rp 5 juta. Pengeluarannya paling banyak Rp 3 juta,” katanya mengenang.

Menurut Ade, sebenarnya ia ingin membuka usaha di bidang elektronik. Namun ia memutuskan membantu keluarga dengan melanjutkan usaha yang sudah ada. Sesuai dengan tradisi suku Padang, tanggung jawab meneruskan usaha orang tua terletak di pundak anak laki-laki. “Dari tiga bersaudara, saya nomor dua, dan laki-laki satu-satunya,” kata Ade yang mengungkapkan kisahnya pada SWA di Ruko Tirta Jaya, Pasar Tanah Abang.

Baginya, berdagang itu gampang. “Kalau memang suka, kalau memang cinta, kenapa harus bilang susah?” ujarnya retoris. Produk kerudung yang dijual Ade diproduksi sendiri dengan merek Ed-In yang berlambangkan dua singa. Sementara koko dan mukena didatangkan dari luar. Alasannya, proses pembuatannya lebih rumit.

Total produksi kerudung Ade saat ini mencapai 30 ribu potong per bulan. Konsumen Ed-In sebagian besar kaum ibu, baik pembeli eceran maupun grosiran. Para pelanggannya ini tak hanya berasal dari Tanah Air, tetapi juga dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Diakui Ade, penjualan terbaik toko-tokonya pada bulan Ramadan dan bulan haji. “Omsetnya bisa tiga kali lipat dari biasanya,” ujar pengusaha yang kini dibantu sekitar 100 orang, baik di toko maupun di unit konveksinya.

Menurut Ade, kiat mengelola tokonya tak berbeda jauh dari toko lain yaitu rajin memberikan diskon, terutama pada bulan puasa (Ramadan). Kadang-kadang ia bahkan berani memberikan diskon hingga 50%. Menurutnya, jika barang sudah berusia lebih dari tiga tahun, harus didiskon. Namun jika barang sudah tiga tahun tidak keluar juga, itulah kerugian.

Dari segi persaingan bisnis, ia merasa sekarang ini semakin ketat. Apalagi bahan dari China sekarang masuk dengan mudahnya, dan dari segi kualitas tak jauh berbeda dari bahan asal Jepang dan Korea. Produk tokonya sendiri diakuinya selama ini banyak menggunakan bahan Korea, karena punya kelebihan, “jatuhnya” bahan pada pemakainya kelihatan lebih bagus.

Ke depan, ia mengaku ingin mengajak karyawan yang sudah memegang posisi kunci agar bisa memiliki saham di usahanya ini. Obsesi lainnya adalah ingin lebih merangkul keluarganya dari Bukittinggi, Sumatera Barat, untuk ikut bekerja dengannya.

Menurut Jahja B. Soenarjo, Chief Consulting Officer konsultan pemasaran Direxion Strategy, ada sejumlah strategi yang harus dilakukan Ade agar produknya bisa lebih menasional. Pertama, branding yang bagus dan dikomunikasikan. Ia melihat pengusaha lokal sering kali tidak serius membangun merek. “Cuma asal ada merek saja,” ujarnya. Langkah kedua, membangun jejaring pasar. Untuk UKM, ia menyarankan dengan cara online dulu. Bahkan, ia mengusulkan agar Ade tak segan-segan menggandeng desainer yang namanya dituliskan pada produknya. “Akan lebih marketable,” katanya.

Yuyun Manopol & Rosa Sekar Mangalandum

Leave a Reply

1 thought on “Ade Fonda Arifin, Pengusaha Busana Belia dengan 100 Karyawan”

tambah inspirasi...
by busanaindonesia.com, 14 Feb 2014, 14:18

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)