Adi TV, Bisnis Anak-Menantu Amien Rais

Jumat, 29 November 2013, menjadi hari sangat istimewa bagi pasangan suami-istri (pasutri) Rangga Almahendra dan Hanum Salsabila Rais. Pasalnya, hari itu adalah pemutaran perdana film berjudul 99 Langit Cahaya Eropadi Cinema XXI Djakarta Theater, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Film tersebut diangkat dari novel dengan judul yang sama hasil karya mereka, Hanum dan Rangga.

Rangga Almahendra dan Hanum Salsabila Rais Rangga Almahendra dan Hanum Salsabila Rais

Film tersebut sempat menjadi buah bibir, terutama di kalangan pencinta perfilman Indonesia, karena berangkat dari novel kisah nyata dan alur ceritanya menarik. Film berdurasi 96 menit ini mengisahkan pengalaman nyata Hanum dan Rangga saat kuliah di Eropa selama empat tahun. Dalam film digambarkan bagaimana cara keduanya beradaptasi, bertemu dengan berbagai sahabat, hingga akhirnya menuntun mereka kepada rahasia besar Islam di benua Eropa.

Adapun novelnya, 99 Langit Cahaya Eropa, tentu saja, menjadi best seller. Sejak diterbitkan pada Juli 2011, karya pasutri anak dan menantu tokoh nasional Amien Rais ini sudah memasuki cetakan ke-25 dengan satu kali cetakan mencapai 5-10ribu buku. “Kami baru mendapat kabar bahwa novel 99 Cahaya Langit Eropa menduduki nomor satu kategori fiksi,” kata Rangga yang sudah meluncurkan novel lainnya berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika dan siap difilmkan juga.

Sejak novelnya difilmkan, nama keduanya memang melambung. Hal ini yang membuat mereka tertarik bergabung membesarkan Adi TV. Apalagi Hanum, meskipun berlatarbelakang pendidikan kedokteran gigi, pernah mengawali kariernya sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi swasta dan sempat mengenyam pengalaman sebagai jurnalis dan video podcast film maker di Executive Academy Vienna. Adapun Rangga yang menempuh pendidikan S-1 Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung dan melanjutkan ke S-2 Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, serta studi S-3 di WU Vienna belakangan kian akrab dengan industri media. “Ternyata kami sangat mencintai industri media seperti ini,” ujar Hanum.

Adi TV merupakan televisi lokal di Yogyakarta. Kini, di tengah kesibukannya sebagai Dosen Manajemen FEB UGM, Rangga menjabat sebagai Direktur Utama Adi TV. Sementara Hanum merangkap jabatan di bagian keuangan dan HRD. “Dengan pengalaman yang kami miliki, kami harus membuat Adi TV berkembang dan survive,” kata Hanum yang juga penulis buku Menapak Jejak Amien Rais yang diterbitkan tahun 2010.

Menurut Rangga, saat ini Adi TV memiliki 72 karyawan. “Kami sudah mempunyai gedung tiga lantai, pemancar jaringannya sudah mencapai Solo, dan kesejahteraan gaji karyawan juga naik dua hingga tiga kali lipat. Kami juga berjaringan dengan TV lokal lain,” papar Rangga. Menurutnya, meski banyak TV lokal yang grafiknya menurun dan berakhir dengan bangkrut, Adi TV berhasil keluar dari situasi tersebut. “Kami sudah selfpropelling,” cetusnya.

Tantangan yang dihadapinya sesungguhnya sama dengan teve-teve lain, yakni akan memasuki era TV digital. Nantinya, proses membuat TV akan semakin mudah. “Dari situlah kami harus membuat pembeda. Meskipun berangkat dari Muhammadiyah, kami tidak melulu dakwah. Program-program kami lebih merujuk ke keluarga,” kata Rangga.

Selain itu, TV nasional memiliki ketertarikan untuk mengakuisisi TV lokal. Banyak TV lokal yang berakhir setelah diakuisisi. Dalam waktu 2-3 bulan ini, sudah ada beberapa TV nasional yang juga ingin membeli saham Adi TV. “Kami tidak menjual saham namun menjual jam siaran (air time). Itu salah satu strategi kami, yaitu bukan membeli ownership namun airtime,” ujarnya.

Agar dapat tetap bersaing, Adi TV membuat diferensiasi. Yang pertama, proximity atau kedekatan. Itu yang tidak ada di TV nasional. Adi TV membuat kedekatan dengan orang Yogya melalui program yang ditawarkan. Meskipun TV lokal ini memiliki studio, pihaknya lebih memperkuat mobile TV studio dengan menggunakan Kota Yogya sebagai studionya. Selain itu, Adi TV juga memperkenalkan TV Platform. “Kami memiliki dua tipe customer, yaitu down stream dan up stream customer. Kami berusaha mencari cara untuk bekerja sama dengan berbagai partner,” ungkap Rangga.

Selain itu, dari aspek biaya, pihaknya berusaha memperbanyak revenue streaming lebih ke arah resource utilisation, yaitu dengan membuka unit usaha baru Broadcast Education Studio Tour (BEST) dan Journalist Academy Program (JAP). “Sejauh ini, program tersebut sangat membantu,” ucapnya.

Hanum berharap, ke depan Adi TV bisa tambah dikenal oleh masyarakat dan semakin berkembang. “Buat kami, Adi TV menjadi semacam ladang amal kami. Orientasi kami tidak melulu berpikiran mengenai profit namun lebih ke benefit. Jadi, bagaimana memberikan benefit kepada yang lain,” katanya.(*)

Dede Suryadi dan Indah Pertiwi

Riset: Armiadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)