Ambisi Jaya Ancol Kejar Walt Disney

Kian sengitnya persaingan di industri taman hiburan memaksa pemain lawas PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJA) terus berinovasi. Contoh nyatanya, PJA berkreasi melahirkan karakter binatang jagoan: Dufan (kera Kalimantan, maskot Dunia Fantasi), Kabul (katak), Cili (kancil), Garin (Garuda Indonesia) dan Mimion, yang bertugas menyelamatkan bumi dari tiga makhluk jahat: Bije, Kombi dan Barus.

Tentu saja, bukan bumi semata yang menjadi prioritas untuk diselamatkan oleh kelima jagoan tersebut, tetapi juga kelangsungan bisnis PJA. Ini sejalan dengan penuturan Presdir PJA Budi Karya Sumadi. Menurutnya, PJA ingin menciptakan bisnis baru yang mampu menggerakkan bisnis utama perusahaan: divisi hiburan. “Ide ini datang dua tahun lalu. Kami ingin membuat suatu program atau inovasi yang bisa membangun emosi sehingga ada kedekatan antara penonton dan karakter-karakter yang ditampilkan. Ketika emosi itu terbentuk, mereka akan datang ke Dufan untuk foto-foto atau berkenalan. Persis dengan Walt Disney,” ungkap Budi.

Ide besar itu lantas diwujudkan dalam sebuah bisnis baru, rumah produksi (production house). Dan, anak pertamanya adalah Dufan Defender, yang para tokohnya telah dijelaskan di atas. Dufan Defender diklaim Budi sebagai tayangan animasi pertualangan luar angkasa pertama di Indonesia. Untuk realisasi proyek ini, PJA menggandeng studio film Dreamlight World Media, dengan kepemilikan saham 50%-50%. Satu partner lagi pun dirangkul, yakni Sony Music Entertainment Indonesia. Sony bertugas menciptakan theme song sekaligus menyertakan boy band XO-IX sebagai pembuat sound track.

Untuk proyek perintis ini, PJA menggelontorkan sekitar Rp 10 miliar buat investasi teknologi (hardware) dan mempekerjakan 60 animator Indonesia. Proses pengerjaannya selama satu tahun lebih, mulai dari praproduksi (riset pasar) hingga pascaproduksi (menyempurnakan cerita). Pada 18 Maret 2012, Dufan Defender resmi diluncurkan sebagai animasi high definition untuk layar televisi pertama di Indonesia. Film kartun yang disiarkan Indosiar setiap hari Minggu pukul 07.30 WIB ini totalnya berjumlah 26 episode. Sasarannya anak-anak usia 8-13 tahun.

Meski baru tiga bulan disiarkan, Dufan Defender berhasil meraih simpati penonton. Indikatornya, rating dan share meningkat dari 1,2/9,5 di minggu pertama menjadi 1,4/11,9 pada awal Mei 2012. Bahkan, tayangan tersebut diklaim menggeser film animasi impor seperti Pokemon dan Dragon Balls.

PJA dan Dreamlight pun berniat melangkah ke pasar yang lebih luas. Menurut Budi, saat ini banyak negara tertarik membeli hak siar Dufan Defender seperti Vietnam, Singapura, Malaysia hingga Afrika Selatan. Di Vietnam, sebuah stasiun televisi lokal sudah siap menayangkan film serial itu. Untuk bisa mengekspor tayangan tersebut, PJA mengandalkan nama besar perusahaan dan memanfaatkan jaringan theme park di setiap negara di seluruh dunia. “Sebenarnya, film ini awalnya dikemas untuk pasar internasional. Mulai dari naskahnya yang berbahasa Inggris hingga ceritanya yang universal tentang pertualangan luar angkasa. Karena pasar lokal menyambut positif lebih dulu, kami semakin percaya diri untuk menjual hak siar ini ke luar negeri,” tutur Budi yang belum bisa menyebutkan nilai kompensasi pembelian hak siar tersebut.

Target besar itulah yang mendorong PJA dan mitranya serius menggarap program ini. Bahkan, Dreamlight membuat Dreamtoon, divisi khusus untuk menangani proyek kerja sama ini. Mereka juga membayar seorang konsultan dari Amerika Serikat untuk menyempurnakan naskah dan cerita agar bisa diterima pasar internasional. Skoring musiknya pun memakai orkestra. Pada acara peluncurannya, 19 Maret lalu, Presdir Dreamlight Eko Nugroho menjelaskan bahwa skoring musik orkestra biasanya hanya dipakai untuk film layar lebar. “Tapi di film ini sudah memakai skoring musik orkestra, bahkan satu-satunya film animasi di Asia Tenggara yang memakai orkestra,” ujar Eko sambil menambahkan bahwa Dufan Defender juga akan dikembangkan lebih luas lagi, dengan mengembangkan aplikasi game-nya di iPad, membuat komik, suvenir dan merchandise, menciptakan wahana yang sama persis dengan tayangannya dan bisnis-bisnis lainnya.

Memang terlalu dini untuk mengatakan tayangan ini sudah berhasil. Butuh banyak penyempurnaan lagi agar pasar lebih puas dan disegani, sehingga target balik modal dalam setahun bisa tercapai,” Budi mengakui. Toh, Budi optimistis rumah produksi PJA bisa membukukan omset dua kali lipat atau senilai Rp 20 miliar dan karyanya bisa mendongkrak angka kunjungan ke Ancol dan Dufan hingga 10%. Saat ini, jumlah pengunjung Ancol tercatat 15 juta orang dan 3 juta orang pengunjung Dunia Fantasi.

Menurut pengamat hiburan anak Ari Kartika, PJA sebagai pemain lama di industri theme park di Indonesia tentu harus berinovasi dengan membuka berbagai konsep hiburan baru, termasuk pertunjukan film Dufan Defender. Sebab, munculnya pesaing baru seperti Trans Studio, yang berlokasi di Bandung dan Makassar, otomotis menyedot pangsa pasar yang semula selalu pergi ke Dufan. “Jadi, Dufan memang harus membuat atraksi baru yang berbeda untuk menjadi daya tarik baru,” ujar Direktur PT Lintas Mitra Niaga ini. Hal terpenting dalam membangun bisnis hiburan anak, imbuhnya, terletak pada promosi dan program customer relationship management yang diterapkan.

PJA sendiri memiliki rencana pemasaran yang cukup komprehensif. Untuk memasarkan Dufan Defender, PJA menjalankan empat strategi. Pertama, menghadirkan karakter-karakter Dufan Defender di Dufan untuk menarik orang-orang yang belum menonton. Kedua, membentuk pencinta Dufan Defender (Dufan Defender Family) dan memberikan tiket gratis masuk Ancol. Ketiga, promo di media massa secara periodik dan nonperiodik. Strategi terakhir, memberikan pelatihan dan workshop film animasi plus mempromosikan Dufan Defender ke beberapa SD dan SMP di Jabodetabek.

Budi mengaku, rumah produksi bukanlah satu-satunya jawaban PJA atas tantangan kompetisi. Perusahaan yang berusia 25 tahun itu tengah menciptakan program baru seperti theme park indoor di tingkat kabupaten, yakni Eco Park, Reptile Science dan Jurassic World. “Kalau ada pemain yang mengikuti langkah kami, kami tidak takut, karena kami sudah melangkah ke tahap selanjutnya,” kata Budi optimistis.

Ario Fajar/Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Armiadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)