Ananto Wibisono Mantap Menjadi Entrepreneur

Sempat wara-wiri di perusahaan-perusahaan yang berbasis e-commerce, Ananto Wibisono kini memilih untuk mendirikan usahanya sendiri. Dengan mengusung bendera Sepulsa, pria kelahiran 8 Mei 1981 ini rela melepaskan karier profesionalnya.

Ananto Wibisono, Founder of Sepulsa

Walau harus meniti dari nol, lulusan dari bidang Teknologi Informasi jurusan e-commerce Sekolah Tinggi Teknik Surabaya ini, yakin Sepulsa dapat maju ke depan. Market pulsa online Indonesia yang sangat besar dan belum adanya pemain lain dalam sektor ini, mampu meyakinkan Founder Sepulsa ini untuk tetap melaju pada jalur yang diambilnya.

Berikut pemaparan lengkap Ananto, pada reporter SWA Online, Destiwati Sitanggang.

Bagaimana kisahnya, akhirnya Anda memutuskan mendirikan usaha start-up?

Sebenarnya saya memiliki passion yang sangat tinggi di bidang e-commerce dan online di Indonesia. Kebetulan sebelum-sebelumnya saya selalu bekerja pada orang. Pertama itu saya bekerja di Reebonz, perusahaan e-commerce asal Singapura. Memang saya orangnya cukup betahan dan kebetulan tempatnya cukup nyaman, makanya saya cukup lama di sana, sekitar 6 tahun.

Lalu, karena saya ingin merasakan khusus pasar Indonesia, maka saya keluar dan bergabung di Groupon Indonesia. Pada tahun 2014, saya ditetapkan sebagai Kepala Bidang Teknologi di Groupon Indonesia. Tanggung jawab saya adalah mengimplementasikan beragam teknologi baru untuk Groupon.

Ketika  di Groupon, saya menemukan beberapa hal yang tidak bisa saya lakukan di Groupon, tetapi bisa saya lakukan sendiri. Oleh karena itulah mengapa saya dan teman-teman memutuskan untuk memulai Sepulsa.

Lalu mengapa memilih jalur sebagai entrepreneur dari pada tetap di jalur profesional?

Sebenarnya menjadi seorang entrepreneur itu  lebih mudah untuk mengekspresikan diri. Saya melihat bahwa meskipun kita berada di posisi yang tinggi di jalur profesional, kita harus tetap mendapatkan komentar dari orang lain.

Selain itu, saya percaya, untuk pasar Indonesia, orang yang paling mengenal pasar Indonesia itu adalah orang Indonesia itu sendiri. Tidak jarang, ketika kita di jalur profesional, orang yang menjadi decision maker justru orang-orang yang tidak mengerti pasar Indonesia. Nah, dari situ saya berpikir, seharusnya tidak seperti ini. Itulah mengapa akhirnya saya memulai Sepulsa. Do my own things.

Berapa lama persiapan merintis Sepulsa?

Mungkin tidak terlalu lama,  sekitar 1,5 bulan, sebelum kami launching.

Kalau boleh tahu, kapan keluar dari Groupon?

Februari tahun ini.

Jadi, selepas dari Groupon Anda langsung men-develop Sepulsa ?

Ketika di waktu senggang,  saya sudah memulai develop dan mempersiapkan case-casenya. Sehingga ketika saya keluar dari Groupon, semua sudah ready, tinggal di-combine, lalu berjalan.

Lantas, apa alasan Anda memilih bidang IT ini sebagai lahan bisnis?

Sebenarnya karena memang passion saya di IT. Mengapa IT? Pertama, karena memang skill saya di bidang tersebut. Kedua memang passion. Jadi passion saya di IT ini belum kelar untuk dihabiskan.

Optimisme apa yang meyakinkan memilih jalur entrepreneur? Ini kan masih gambling kepastian ke depannya?

Benar sekali. Sebenarnya, kalau benar sekali yakin untuk menjadi entreprenuer itu, tidak juga. Selalu ada hal-hal yang membuat saya berpikir, bisa tidak ya. Tapi dari sekian banyak ide dan akhirnya memilih Sepulsa. Market Sepulsa inilah yang membuat saya yakin bahwa ini akan sukses.

Alasan pemilihan bidang pulsa?

Karena marketnya ada dan kami melihat belum ada layanan isi pulsa yang benar-benar, jadi satu paket yang OK, selalu ada kekurangan. Oleh karena itu, kami saya fokus sekali sekali pada teknologi, saya yakin tim Sepulsa juga orang yang berkompeten di bidang teknologi. Jadi, kami yakin dapat memberikan solusi yang paling baik.

Setelah Sepulsa berjalan dua bulan, pengalaman apa yang Anda rasakan sebagai entrepreneur?

Sebenarnya isi ulang pulsa tidak semudah itu, di belakangnya ada banyak hal yang harus dioptimasi. Awalnya saya berpikir, ah isi ulang pulsa cuma segini doang, tidak perlu banyak optimasi, ternyata saya salah. Banyak hal-hal teknikal yang baru diketahui ketika kita benar-benar terjun ke dalamnya. Tapi, hal tersebut justru menjadi sumber ide untuk memberikan inovasi.

Tapi saya katakan, entrepreneur is not for everyone. Jika kita benar-benar tidak memiliki passion di sana, jika kita tidak benar-benar suka melakukan apa yang dikerjakan, better don’t do that. Karena itu, akan banyak menguras energi. Ketika kita merasa capai dan segala macam, yang membuat saya bertahan adalah passion. Itu yang membuat saya akan maju terus ke depannya.

Sepulsa bisa dikatakan pionir, apa tantangan yang Anda temui?

Tentunya mensinergikan beberapa servis menjadi satu paket yang bagus. Misalnya isi ulang pulsa, ternyata isi ulang pulsa itu masih banyak hal yang sangat tradisional sekali dari mulai operator sampai ke pendistribusiannya. Jadi, yang namanya servis ini tidak selamanya bisa bagus. Contoh, kita ingin top up itu, bisa kapan saja, tetapi yang penyedia layanan top up it tidak selamanya 24 jam. Itu tantangan bagi kami, untuk dapat memberikan layanan yang 24 jam.

Lantas, apa yang Anda lakukan?

Kami meningkatkan performance,produktivitas dan memberikan rasa nyaman kepada pelanggan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)