Ardi Bakrie Gaya Si Bungsu di Puncak TV One

Anindra Ardiansyah Bakrie ~~

Di usia yang relatif muda, TV One sudah memperlihatkan taringnya. Sejak dua tahun lalu, TV One bertengger paling atas untuk kategori stasiun televisi berita. Pencapaian hebat, tentu saja. Pasalnya, persaingan di ranah layar kaca ini lumayan sengit. Ada 11 stasiun televisi yang mengudara secara nasional. Plus, televisi lokal yang menjamur di kota-kota provinsi dan kabupaten. Belum lagi televisi kabel. Bisa dibayangkan, bagaimana pertarungan memperebutkan kue iklan.

Pendapatan TV One, seperti diungkapkan Ardi Bakrie, Chief Executive Officer-nya, tahun ini meningkat 40% dibanding 2012. Sementara, peningkatan 2012 “hanya” 30% dari 2011. “Posisi sebagai stasiun berita sejak dua tahun lalu sudah mencapai posisi teratas, khusus untuk stasiun televisi berita,” katanya.

Kinerja bagus itu tak lepas dari sentuhan Ardi. Didapuk menjadi orang nomor satu di TV One pada 2011, ia langsung tancap gas. Ia sadar, memasuki era digitalisasi saat ini, brand awareness suatu produk sangat penting karena kompetisi di dunia pertelevisian akan kian ketat. “Untuk itu, harus ada sesuatu yang kami perbuat,” ujarnya, “dan, kami harus mempersiapkan diri bagaimana kami tetap bisa eksis.”

Apa saja yang dilakukan Ardi? Dalam balutan kehangatan suasana di ruang kerjanya yang lumayan luas dan nyaman, dengan ramah dan gaya bicara yang sangat anak muda, Ardi menjelaskan berbagai langkah yang ia lakukan bersama timnya. Dengan kaki yang dibalut perban cokelat dan tongkat untuk membantunya berjalan akibat cedera saat bermain basket, Ardi tetap memancarkan rona semangat.

Usia pemilik nama lengkap Anindra Ardiansyah Bakrie ini memang terbilang muda: 34 tahun -- ia dilahirkan di Jakarta, 22 April 1979. Namun, tanggung jawab di pundaknya cukup besar. Pada 2011, ia didapuk menjadi nakhoda TV One. Sebelumnya, saat TV One diluncurkan pada 2008, ia mengemban tugas sebagai wakil presiden direktur.

Sejak Grup Bakrie mengakuisisi Lativi yang nyaris bangkrut, Ardi memang sudah dipersiapkan. Bergandengan dengan Erick Tohir yang menjadi presdir, Lativi dirombak habis hingga menjelma menjadi TV One. Pada 2008-11 Ardi lebih banyak mengurusi operasional kantor. “Saat itu saya sembari belajar dari banyak orang, termasuk Pak Erick. Karena, saat itu saya bersama teman-teman yang lain sedang memfokuskan diri bagaimana mengembalikan dan membalikkan stasiun teve yang sebelumnya menayangkan apa saja menjadi stasiun teve khusus berita dan olah raga,” ungkap Bachelor of Science (mayor: Keuangan dan Bisnis Internasional) dari Georgetown Unversity, Washington DC, AS, dan Master Bachelor of Arts (mayor: Keuangan) dari Bantley, Mc Callum Graduate School of Business.

Sejak awal, TV One memang diposisikan sebagai stasiun berita dan olah raga. Karena menurut Ardi, TV One diciptakan dengan prinsip “Memang Beda”. “Kami harus ada sesuatu yang beda dibandingkan dengan kompetitor lain,” katanya. Sejalan dengan positioning yang dibangun, Ardi dan timnya pun menggenjot brand awareness. Untuk mendekatkan dengan pemirsa, tahun ini TV One menggelar Pesta Rakyat di Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Dari sisi program, “Kami luncurkan program-program acara yang tidak membosankan tetapi informasinya tetap sampai dengan baik kepada pemirsa. Contohnya, acara ILC atau Indonesia Lawyers Club. ILC bisa dibilang sebagai terobosan pada acara talkshow yang baru di Indonesia,” tutur ayahanda Mikhayla Zalindra Bakrie, buah pernikahannya dengan Ramadhania Ardiansyah Bakrie, artis sinetron yang populer dengan nama Nia Ramadhani itu.

Anindra Ardiansyah Bakrie ~~

Tak hanya berusaha tampil beda. “Sangat penting bagi seluruh unit usaha untuk dapat bersinergi dalam berbagai hal seperti sinergi program, proses bisnis, kebijakan dan juga sumber daya manusia yang semuanya bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas seluruh unit usaha,” paparnya. Karena itu, imbuhnya, meningkatkan kompetensi SDM melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan yang terpola dengan baik merupakan faktor penting agar seluruh unit usaha mampu menghasilkan program yang inovatif dan kreatif.

Strategi lainnya adalah menerapkan News Room. Tujuannya, bisa menyajikan berita yang cepat dan tepat. “Ini wajib kami lakukan di tengah kompetisi antarstasiun teve berita yang semakin ketat saat ini,” katanya. Intinya, untuk bersaing dengan kompetitor, TV One harus tetap tampil beda dibanding stasiun teve lain. “Kami tidak ingin pemirsa menjadi bosan dengan tayangan-tayangan yang kami tampilkan. Untuk itu, kami akan tetap mempertahankan gaya komunikasi kami yang terkesan santai, akrab atau gaul,” ungkapnya. Ke depan, ia bahkan berambisi menjadikan TV One sebagai suatu industri berita terbesar di Indonesia. “Untuk saat ini, impian tersebutlah yang sedang saya ingin capai,” katanya. Ia menginginkan TV One seperti Reuters yang menyuplai berita ke stasiun berita atau media lainnya.

Untuk mengelola organisasi sebesar TV One, menurut Ardi, ada dua hal yang dia perlukan: leadershipdan entrepreneur skill. “Organisasi yang saya pimpin ini merupakan lembaga bisnis juga. Jadi, saya harus memikirkan bagaimana cara memenuhi keinginan para stockholder. Karena itu, kemampuan beriwirausaha atau berbisnis sangat diperlukan.”

Putra bungsu pasangan Aburizal Bakrie dan Tatty Murnitriati ini mengaku banyak belajar dari sang ayah yang memang sudah kondang sebagai pengusaha papan atas dan politisi di negeri ini. Menurutnya, peran keluarga sangat besar membetuk karakternya dalam memimpin perusahaan. “Ayah yang 'menantang' saya untuk selalu berusaha,” katanya. Ia selalu menyimpan petuah ayahnya untuk bermimpi dulu, setelah itu baru memikirkan apa yang harus dilakukan agar mimpi itu menjadi kenyataan. “Ayah selalu pesan, usaha dan lakukan apa yang sudah dipikirkan. Maka, apa yang tadi sudah saya mimpikan akan menjadi kenyataan,” ujar Ardi yang juga banyak belajar dari sang kakak, Anindya Bakrie, yang lebih dulu bergelut di bisnis televisi.

Sang kakak sering memberikan masukan kepadanya dan, sama seperti ayahnya, Anindya selalu menunjukkan sikap yang “menantang" jika ada sesuatu masalah yang dihadapinya. “Pernah suatu saat saya mendapatkan persoalan di perusahaan. Saking pusingnya, saya pergi ke tempat kakak saya. Niatnya ingin curhat dan meminta masukan. Ternyata yang saya dapatkan dari kakak saya hanya kalimat 'Kamu sebenarnya sudah tahu apa yang harus kamu lakukan',” tutur pehobi basket dan nge-gym ini.

Kolaborasi dengan para profesional juga memberikan pelajaran dan pengalaman berharga bagi Ardi. “Saya memang sudah dipersiapkan oleh keluarga untuk mengisi pos di perusahaan. Namun, untuk di awal saya harus banyak belajar dulu dan mereka banyak bantu saya untuk belajar dalam mengurusi organisasi ini,” ucapnya. Pembelajaran dari sang ayah, sang kakak dan para senior di TV One membuatnya paham seluk-beluk industri televisi dan bagaimana cara mengurusi perusahaan.

Sebagai pemimpin muda yang membawahkan banyak senior, Ardi membangun timnya dengan komunikasi. “Saya banyak belajar dari mereka. Saya selalu memosisikan diri sebagai anggota keluarga di perusahaan. Saya anggap rekan-rekan di perusahaan sebagai saudara-saudara saya,” katanya.

Berada di tengah-tengah para kampiun membuat Ardi sempat minder. Tak jarang pula terjadi perbedaan pandangan. “Tetapi, dengan niat yang baik dan komunikasi yang tepat, kami bisa saling bertukar pikiran dan bahu-membahu menjalankan perusahaan ini bersama,” ungkap Ardi yang selalu mengisi akhir pekan bersama keluarga. “Terkadang istri dan anak berkunjung ke kantor. Kalau tidak, siang saya sempatkan pulang ke rumah. Pokoknya, di akhir pekan, saya harus menyempatkan waktu untuk keluarga,” tuturnya. Kini Ardi tengah keranjingan hobi barunya. Apa itu? “Menggendong anak,” katanya sambil tergelak.(*)

Radito Wicaksono dan Henni T. Soelaeman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)