Arief Widhiyasa: Tinggalkan Bangku Kuliah Demi Agate

Ketika bicara industri kreatif, kita semakin merasakan bahwa industri tersebut semakin terdengar gaungnya. Pemerintah sendiri juga semakin serius mengawal industri yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Dukungan pemerintah ini memudahkan para pelaku industri kreatif untuk berkarya dan berinovasi.

“Hal ini kami rasakan juga di industri game. Dahulu mungkin sedikit jumlah developer game lokal, itu-itu saja. Tapi sekarang, semakin banyak game-game asal Indonesia yang dikenal dan diapresiasi oleh internasional. Tentu saja ini hal baik,” ungkap Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio.

Anak muda ini kembali mengingat bagaimana Agate pertama kali didirikan. Dengan background mahasiswa yang hanya memiliki modal dan pengalaman seadanya, ia dan temannya membuat game dengan menggunakan laptop. Modal saat itu hanya digunakan untuk membayar sewa tempat, karena tidak mungkin mereka terus membuat games di kampus.

Untuk menutupi kekurangan dalam hal pengalaman dalam me-manage bisnis, ia rajin membaca untuk mendapat referensi mengenai bisnis games tersebut. Berbagai kendala kembali muncul termasuk keputusannya untuk tidak melanjutkan kuliah di jurusan Informatika, Institut Teknologi Bandung.

Ia mengaku bahwa saat itu ia beruntung mendapat talent ber-passion tinggi, hingga digaji seadanya masih tetap berkarya. Berawal dari hanya hobi, Agate berdiri menjadi sebuah perusahaan dengan 65 karyawan yang terbagi dalam 4 divisi besar, yaitu Agate Level Up sebagai tim game consultant untuk B2B, Legion atau Developer, Agate Games untuk B2C, dan Support Clerics.

Arief Widhiyasa - CEO Agate Studio bersama Dede Yusuf di booth Agate Studio dalam acara Indonesia Bermain Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio bersama Dede Yusuf di booth Agate Studio dalam acara Indonesia Bermain

Hasil kerja kerasnya berbuah manis, game Ponporon pertama kali dirilis saat ajang Indonesia Game Show 2008. “Itu juga yang mendorong kami untuk menjadikan Agate Studio ini menjadi sebuah perusahaan. Karena senang bisa melihat orang-orang senang memainkan game kami, rasa senangnya kembali ke kami yang membuatnya,” ujar pria kelahiran Denpasar, 4 April 1987.

Tapi kini, 6 tahun berjalan, Agate Studio semakin gencar berkarya. Sudah sekitar 200 lebih games yang dibuat, dengan Football Saga 2 sebagai game andalan. Terhitung dalam setahun, Agate dapat menghasilkan 20-30 games. Hal ini karena mereka berhasil melakukan engagement dengan active user hingga terbentuk komunitas.

“Setiap developer punya style-nya sendiri, saya tidak bilang ini jadi kelebihan dan kekurangan. Kami punya perbedaan market. Sejauh ini target market kami untuk web & mobile user,” klaimnya.

Untuk terus mengembangkan bisnisnya, Agate menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, mulai dari partner untuk membuat game bersama-sama, misalnya developer games pembuat Upin & Ipin, kemudian dengan Square Enix, google localization partner untuk mendistribusikan game ke berbagai macam market, dan melakukan eksplorasi pengembangan dengan Serious Game di Indonesia. Selain itu bekerja sama dengan banyak pihak mulai dari komunitas, asosiasi, pemerintah dalam mengembangkan industri game di Indonesia.

“Pilih market yang benar dan maintain komunitas. Kalau perlu personally. Ini penting, karena game developer tidak akan besar tanpa player game-nya. Baru-baru ini kami punya contoh testimoni player, dan kami sangat senang dengan testimoni seperti ini. Nge-boost semangat,” kata pehobi basket dan gamer ini.

Terbukti ide-ide segar dari Arief dan tim, mereka mampu menembus angka 4 juta players untuk total worldwide seluruh game milik Agate Studio. Ke depannya ia ingin perusahaan game-nya semakin kuat hingga menjadi leader di market. Sejalan dengan tagline perusahaan yaitu “Life the Fun Way”, ia ingin membuat dunia lebih bahagia dengan game-game miliknya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)