Bani M.Mulia: Memegang 60 Jabatan di Perusahaan Keluarga Soedarpo

Bagi orang yang tidak tahu dan berada di luar bisnis keluarga, bekerja dan masuk ke dalam bisnis keluarga, sepertinya enak. Tidak perlu susah payah cari kerja atau membangun usaha sendiri. Namun apakah demikian? Inilah yang sesungguhnya dirasakan Bani M. Mulia, cucu dari Soedarpo, pendiri perusahaan pelayaran  lokal terbesar saat ini.

Seperti kala Bani ditanyakan, apakah pernah terbersit di pikirannya untuk keluar atau merasa langkahnya masuk di bisnis keluarga adalah salah? Generasi ketiga Soedarpo itu menjawab bahwa ia tidak menyesal telah bergabung dan turut menjadi bagian membesarkan perusahaan yang dibangun eyangnya. “Pernah sih ada momentum menyesal. Setiap setahun sekali, memang ada masa paling stress, memang rasanya.. rasanya.. pengen keluar,” ungkapnya.

Ia mengakui ada satu titik saat berada dipuncak stress. Menurutnya itu wajar karena sebagai salah satu pengelola perusahaan keluarga, pikiran, waktu, dan perasaannya full untuk perusahaan itu. “Bayangkan, 24 jam, tujuh hari seminggu, 365 hari itu full mikirin perusahaan. Di perusahaan keluarga, saya selalu bilang ke teman-teman yang punya usaha sendiri, kalau ada masalah atau konflik di kantor, pulang bukan urusan kantor yang kelihatan, ya urusan rumah. Kalau saya pulang, masih ketemu ayah, yang juga direktur di holding perusahaan,” ujar pria yang masih melajang ini.

Pria kelahiran 1980 ini, mengatakan walaupun mungkin konteks cara bicaranya berbeda, namun tetap saja ada “rasa” kantor itu. Meski begitu, Bani mengaku sama sekali tidak menyesal dengan kondisi tersebut. Ia menyadari, dalam setiap peran seseorang, apakah ia punya usaha sendiri, kerja dengan orang lain atau bekerja dengan perusahaan keluarga, pasti akan mendapat tantangan yang sama atau berbeda. Yang menurutnya memicu konflik yang mendorong ada di satu titik ingin keluar dari situ.

BaniM.Mulia

Ia selalu belajar dari kesulitan yang dihadapinya setiap waktu. Karena dalam setiap perjalanan yang tidak enak, atau setiap tantangan dihadapi adalah bekal untuk posisinya saat ini. Menurutnya, setiap orang ada “jalannya”, punya cita-cita, tapi sebagai orang beragama ia percaya semua yang terjadi atas seizin Allah. Jalan Bani, disadari kebetulan di sini, di perusahaan keluarga.

“Saya tidak dipaksa lho sama keluarga. Boleh kok kerja di luar,” ujarnya. Bari bercerita, kala sedang di puncak rasa jenuh, terutama kala ia merasa tidak dilihat, ditanggapi negatif, padahal ia sudah melakukan yang terbaik, ia suka cerita pada ibunya Chandraleika Soedarpo. Jawaban ibunyalah yang membuatnya sejuk kembali. “Ibu saya bilang, jangan dipaksa, kalau kamu saja tidak mau, masak orang lain mau melakukan lebih. Kalau kita saja begitu, apa orang lain mau bela-belain perusahaan ini?” ujarnya menirukan ucapan ibunya.

Pandangan ibu, bapak dan keluarga lainnya seperti budenya Shanti Soedarpo yang membuatnya harus terus melakukan yang terbaik pada perusahaan ini. Bani mengaku dia selalu diberikan beberapa pandangan, setuju-tidak setuju itu diserahkan pada masing-masing cucu. Bani menuturkan, bersama sepupu (tiga orang) dan adik-adiknya (dua orang) – jadi ada enam cucu Soedarpo-- hanya tiga yang di perusahaan keluarga. Menurutnya itu semua merupakan pilihan dan jalannya masing-masing.

Bani saat ini memegang 60 posisi jabatan (baik itu direktur maupun komisaris) di holding perusahaan, PT Ngrumat Bondo Utomo (NBU). “Hampir pasti, kalau ada perusahaan baru didirikan, saya ditempatkan paling depan,” tuturnya. Meski begitu, Bani tidak menganggapnya sebagai beban, memang tidak ideal dengan jabatan yang begitu banyak. Karena sebagai cucu pendiri, ia menyadari harus pasang badan dulu kalau ada usaha baru yang dibuat holding. “Ide inisiatif risk kan harus diambil owner,” kata pria yang rajin nge-Gym dan bersepeda ke kantor ini.

Lagi pula banyak posisi itu, tidak semuanya ia “mantengin” harian. Semisal ada anak usaha di mana ia jadi Dirut, tapi dia dibantu oleh Direktur Pengelola yang kuat secara manajemen, sehingga bisa berbagi tanggung jawab dengannya. Ada juga posisi Direktur Pengelola, yang dipegangnya yang memang ia harus total harian di sana. “Tidak mungkin 60 posisi itu saya running total semua, kan ada tim, ada direktur pengelola dan VP-VP nya,” ujar Direktur Pengelola di NBU ini. Dan untuk PT Samudera Indonesia, Tbk, yang holding-nya adalah Samudera Indonesia Tangguh, Bani juga dipercaya sebagai Direktur Pengelola, Shanti Soedarpo sebagai Dirut sedang ayahnya Masli Mulia sebagai Komisaris.

Target Bani, satu saat-- ia sedang siapkan-- Bani akan hanya duduk di holding company saja. Kapan itu terwujud? Bani belum tahu, karena masih disiapkan.

BaniM.Mulia (utama)

Tentang pengalamannya sepanjang masuk di bisnis keluarga, tentang bagaimana menghadapi konfik dan tantangan, menurut Bani tantangan utama generasi penerus : dipandang sebelah mata orang sebagian orang. “Saya pikir itu wajar, terutama saat awal masuk. Memang harusnya gitu, kan masih muda. Saya justru merasa enak aja, tergantung tanggapan kita. Sampai sekarang saya tidak ingin diperlakukan spesial,” kata pria yang sudah 4 tahun berhenti merokok ini.

Justru dengan dipandang sebelah mata, Bani melihat mereka yang begitu tidak merasa terancam dengan kehadirannya. Dan membuatnya lebih leluasa belajar, mempelajari apapun tentang perusahaan dan menggali informasi sebanyak mungkin. Setelah ia menguasai situasi, membuatnya bisa mengambil keputusan yang tepat. “Orang yang tadinya meremehkan, tidak bisa bilang apa-apa. Toh sudah diputuskan pemegang saham juga. Saya pikir tantangan itu bisa diubah jadi keunggulan,” katanya.

Saat ini yang masih jadi tantangan Bani, justru bertemu dengan orang-orang yang hanya menjadi “Yes Men”.  “Waktu aku awal dari Direktur, saya tarik justru orang-orang yang kritis. Yang lebih banyak pengalamannya dari saya, yang lebih tua juga, karena saya butuh mereka yang sudah pengalaman di banyak tempat,” tuturnya.  Ia selalu bilang saat merekrut sebagai anak buahnya, ditekankan, bahwa ia tidak butuh Yes Men. “Saya butuh orang yang pandai berargumen, terutama yang berpengalaman,” katanya.

Kuncinya baginya sebagai pimpinan adalah membuat pesan yang jelas (clear). Bahwa ia ingin anak buahnya profesional, tidak melihat orang dengan subyektif. “Saya buktikan pula itu pada mereka, saya ingin mereka tidak anti kritik, menunjukan bahwa saya tidak tersinggung kalau dikritik juga,” jelasnya. Hanya saja ia tetap masih menghadapi -- walau sudah berkurang-- orang-orang yang membatasi diri untuk menyampaikan pendapatnya. Dengan membiasakan komunikasi lebih sering, ia merasakan hal itu sudah berkurang.

Bani menganggap banyak sekali yang menjadi mentor bisnisnya. Bukan saja orang tuanya, juga orang-orang di sekitarnya. “Tapi waktu eyang masih ada, dia lah mentor utama saya. Eyang Soedarpo itu suka cari-cari saya, tiap hari, pagi absen, malam juga. Ilmu dasarnya almarhumlah yang kasih. Bukan saja eyang kakung, juga eyang putri,” tuturnya. Tergantug isu dan kondisinya, mentornya bisa ayah, ibu, juga Shanti Soedarpo.

“Mereka itu keras, tidak membedakan, Pak Masli (ayahnya) dan Bu Shanti, bahkan lebih keras ke saya. Tantangannya, di mana orang tua kami, apa yang kami sampaikan belum tentu diterimanya baik-baik saja kalau saya presentasi ide atau pemikiran,” katanya.

Bani tidak menganggap hal itu sebagai hal yang mengganggu. Justru ia ketagihan dengan setiap “serangan atau kritikan” lebih keras dari ayah dan Shanti Soedarpo. Karena ia merasakan dengan kerasnya pandangan keluarganya membuatnya tersadar dari setiap ide yang dilontarkannya tidak selalu sempurna. Ada hal-hal mungkin ia lupa.  “Pak Masli dan Bu Shanti kan tidak ada takutnya kalau kritik saya, beda dengan orang lain di perusahaan ini kan,” ujarnya.

Bisa saja di kantor ia tidak dikritik, justru di rumah kritik keras sering dilontarkan ayahnya. Mengepa di rumah? Karena menurut ayahnya ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan di kantor, di depan anak buahnya, karena posisinya. Prespektif baru dari ayahnya ini, yang bagi Bani justru membuatnya “nagih” jika ada ide atau pandangan baru disampaikan di perusahaan. Ia beruntung diingatkan ayahnya, kalau tidak dia akan merasa selalu nyaman.

“Saya pikir itu hasil dari didikan dari kecil, saya tidak mudah tersinggung dengan kritikan,” imbuhnya. Ini juga sejalan dengan sifat Bani, yang selalu terus terang memberi kritik pada orang lain atau anak buahnya. Dan semua itu disampaikan dengan cara yang baik, untuk tujuan yang baik.

“Risiko paling besar generasi berikutnya adalah risiko sombong, merasa paling tahu, paling bisa, ini yang susah. Karena orang kan nyanjung-nyanjung, itu kan efeknya bisa sombong,” katanya. Bani bisa tidak begitu, karena dia mendapat pendidikan dasar dan nilai keluarga yang kuat. Tidak membatasi diri juga dengan orang lain.

Tantangan generasi berikutnya di bisnis keluarga ini, Bani melihat yang paling berat adalah menjaga reputasi. Reputasi yang luar biasa bagus dibangun oleh eyangnya sehingga Samudera Indoensia menjadi perusahaan shipping yang disegani, juga menjadi modal yang sangat bagus bagi mereka dalam membesarkan bisnis.

“Saya pernah kasih kuliah umum di Binus, saat itu mereka masih lihat Samudera Indonesia sebagai market leader shipping business di Indonesia. Tapi saya sangkal itu, tidak karena itu tidak benar. Kami memang besar,” ujarnya. Bahwa sebagian besar orang berpikir begitu, menurut Bani, itu tidak lain karena reputasi yang kuat dari Samudera Indonesia.

Hingga kini alumni Samudera Indonesia, yang sudah menyebar di banyak perusahaan besar dan BUMN, masih mengaku bangga pernah menajdi bagian dari perusahaan yang dibangun eyangnya. “Bahkan ada perusahaan yang sudah besar, mengaku: dulu kami kalau tidak dibantu perusahaan eyang kamu, kami tidak akan sebesar ini,” ujarnya. Kekuatan reputasi yang dijaga hingga lebih dari 50 tahun itulah yang akan terus dijaganya.

Target ke depannya, Bani ingin grup ini bisa terus berkembang bukan saja dari sisi bisnis (revenue dan profit), tapi juga dari jumlah yang bekerja di dalamnya. “Saya ingin perusahaan ini bisa tumbuh lebih besar, dari potensi yang sudah kami realisasikan saat ini. Banyak potensi yang belum terealisasi. Hingga saat ini saya belum pernah merasakan kekurangan pekerjaan,” katanya. Bahkan ia merasa kekuarangn waktu dan hari untuk merealisasikan potensi-potensi yang bisa diwujudkan dalam perusahaannya.

Kemajuan teknologi tidak berati harus mengurangi SDM, misal kapal kini makin modern, computerize, yang memungkinkan jumlah kru yang tidak butuh sebanyak dulu (dulu bisa satu kapal 20 orang, kini cukup 12 orang). Bani memilih menyiasatinya bukan dengan cutting SDM, tapi justru menambah jumlah kapal, agar lebihnya kru itu bisa terus bekerja. Jadi secara organisasi juga berkembang. Terlebih saat ini grup bisnis ini bukan saja sebagai perusahaan pelayaran, tapi sudah meluas ke bisnis lain. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)