Batagor H. Isan, Segera Menjajah Jakarta

Seorang anak muda asal Purwokerto, Isan namanya, merantau ke Bandung. Setelah 3 bulan menganggur, ia memutuskan berjualan baso tahu kukus dengan cara dipikul dan berkeliling dari gang ke gang selama bertahun-tahun. Ketika dagangannya tidak habis terjual, Isan menggorengnya dan diberikan kepada tetangganya secara gratis.

Berkali-kali Isan melakukan hal yang sama sampai tetangganya merasa ketagihan. Ketika libur berjualan, tetangganya malah datang menghampiri untuk membeli baso tahu yang digoreng tersebut. Dari situlah, Isan mulai menjual baso tahu khusus yang di goreng sejak tahun 1968.

Inilah awal mula lahirnya batagor, yang merupakan kependekan dari baso tahu goreng dan kemudian menjelma menjadi makanan khas Bandung. Dari usahanya itu Isan mampu pergi ke Tanah Suci pada tahun 1991 dan 2003. Merek batagor pun berubah menjadi Batagor H. Isan yang kini dikelola Nano Ardianto yang telah mengabdi kepada H. Isan sejak 1993.

"Kalau Batagor, kami memang bisa menguasai pasar di Bandung. Terbukti, dari franchise keluarga yang kami buka sebanyak 11 cabang disambut antusias oleh warga Bandung. Penjualannya bagus karena mereka percaya dengan Batagor H. Isan. Secara presentase bisa dikatakan 60%," kata dia.

Nano Ardianto, Pengelola Batagor H. Isan Nano Ardianto, Pengelola Batagor H. Isan

Ke depan, Batagor H. Isan akan membuka cabang di Jakarta. Setelah sukses di Ibukota, target selanjutnya adalah membuka cabang di kota-kota besar lainnya di Indonesia dan membuka franchise kepada pihak luar. Di Bandung, Batagor H. Isan ada di Jalan Bojongloa no.38, di Jalan Cikawao, Jalan Lodaya, Jalan Ciatel dan 11 cabang franchise yang dikelola oleh keluarga.

"Kami juga melayani pembelian dengan paket yang biasanya bisa dipesan melalui telepon hingga Facebook. Untuk pengirimannya, kami sering melayani pemesanan dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur hingga ke Banjarmasin, Makassar bahkan ke Singapura dan Malaysia," ujar Nano.

Setiap harinya, Batagor H. Isan bisa menjual 5 ribu Batagor di saat weekday dan 8 ribu hingga 12 ribu saat weekend dengan satu batagor dibanderol Rp 2.500. Batagor H. Isan juga menjual bakso kuah dengan jumlah produksi 2 ribu bakso setiap harinya saat weekday.

Menurut dia, Batagor H. Isan tak merasa bersaing dengan merek batagor lain di Kota Kembang. Kehadiran banyak pengusaha batagor justru memuluskan pemasaran penganan khas Kota Kembang itu. Pemasaran masih mengandalkan sosok H. Isan sebagai penemu batagor. Adapun, segmen pasarnya adalah kelas menengah ke bawah.

"Kami membentuk paguyuban dengan batagor-batagor yang sudah besar. Ketika harga bahan baku naik, kami kompak soal harga. Persaingan yang terbentuk sehat. Dari segi pelayanan dan mutu produk, kami punya sejarah sendiri. Haji Isan tak pernah mengklaim penemu batagor. Namun, dia pernah berkata awal dia berjualan batagor tidak pernah meniru siapa pun," katanya. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)