Bisnis Keluarga, Bos Blue Bird Ogah Paksa Anaknya

Dalam bisnis taksi, PT Blue Bird Tbk (BIRD) masih menjadi yang terdepan dengan jumlah armada 32.000 unit taksi yang tersebaar di 17 kota. Blue Bird masih harus berjuang menghadapi sengitnya persaingan di jalan-jalan Jakarta yang kian padat.

Blue Bird menghimpun dana hingga Rp2,45 triliun dari penawaran saham perdana (IPO) pada tahun lalu. Pada kuartal pertama 2015, perusahaan telah menghabiskan Rp 2 triliun untuk melunasi utang dan melakukan ekspansi lewat pembelian lahan atau kendaraan baru.

Purnomo Prawiro mendirikan taksi Blue Bird bersama ibu dan saudaranya pada tahun 1972. Saat itu, dia hanya memiliki 25 mobil taksi. Saat ini, Blue Bird sudah memiliki 22 ribu taksi, membuat mereka kini menjadi perusahaan taksi terbesar di Indonersia.

Saat ini, Blue Bird Group dijalankan oleh putrinya, Noni Sri Ayati Purnomo. Dalam mempersiapkan penerus bisnis, Purnomo menekankan pentingnya tidak melakukan pemaksaan kepada anak-anaknya.

“Tak semua anak mau berbisnis. Tak semua anak mau melanjutkan bisnis orang tuanya dengan berbagai alasan. Ada anak/keturunan pemilik bisnis besar tak ingin terlibat dalam bisnis keluarga karena memang tidak menyukai bidangnya,” katanya.

bos blue bird

Oleh karena itu, Purnomo yang sampai saat ini masih menjabat dirut PT Blue Bird Tbk, melakukan seleksi saat anak-anaknya masih kecil. Buah hatinya sering diajak melihat pool taksi untuk mengetahui sejauh mana minat bisnis mereka.

Sang anak pertama, Noni, yang kini menjabat Dirut Blue Bird Group, kuliah mengambil jurusan teknik industri dengan S1 di Australia dan S2 di Amerika. Ia sempat mencicipi karier sebagai pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

“Selepas kuliah, Noni memutuskan bekerja sebagai professional di Jakarta Convention Biro, sebuah badan milik DKI yang menjalankan berbagai konvensi di Jakarta. Dia akhirnya dipanggil neneknya (Ibu dari ayahnya, red), untuk turut bergabung di bisnis keluarga. Akhirnya Noni ikut membangun bisnis keluarga,” katanya.

Anak kedua, Niniek Purnomo, lebih memilih kuliah di Kedokteran, mengikuti jejak Purnomo yang juga seorang dokter. Sempat menjadi dokter profesional, sang adik akhirnya terpanggil turut mengurus bisnis keluarga. Ia khusus menangani segala hal terkait asuransi di Blue Bird.

Si bungsu, Adrianto Djokosoetono memang sejak awal ingin ikut mengurus bisnis keluarga. Lulus dari Teknik Industri ITB, ia melanjutkan S2 Manajemen Bisnis di luar negeri.

Selain ketiga anaknya, ada keponakan yang turut masuk dalam bisnis keluarga. Sebagian besar adalah engineer. Dulu ada tiga keponakan yang ikut bergabung. Kini, hanya tinggal satu yaitu Sigit, putra dari Chandra, kakaknya. Dua orang lainnya memutuskan mendirikan bisnis sendiri.

“Saya yakin, sukses memegang apa saja, itu tergantung jiwanya. Jiwanya harus masuk dulu, setelah itu talentanya ada atau tidak. Saban Sabtu-Minggu, saya selalu bicara tentang Blue Bird. Mungkin mereka sebel, tapi pasti tak mau bilang terus terang,” kata Purnomo sembari terbahak. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)