BloobIS, Hubungkan Pencari dan Penyedia Darah

Tidak jarang ada situasi di mana stok darah di sebuah kantor Palang Merah Indonesia (PMI) kosong, sehingga menyulitkan masyarakat yang membutuhkannya. Dan bila kerabat tidak bisa menyediakannya, informasi terkait kebutuhan darah golongan tertentu pun menyebar melalui sosial media, seperti twitter.

Sebenarnya, ada kemungkinan, PMI di kota yang lain, mempunyai stok darah yang dibutuhkan. Tetapi, karena tidak terintegrasinya data, maka hal itu sulit diketahui oleh pihak yang membutuhkan. Masalah inilah yang ditangkap dan dicari solusinya oleh dua orang mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh November-Surabaya. Mereka adalah Adhika ID Pratomo dan Yogantara S Dharmawan. Kedua mahasiswa ini menemukan solusi yang diberi nama dengan BloobIS, singkatan dari Blood Bank Information System.

blook bank mandiri young technopreneurSistem yang diciptakan Adhika dan Yogantara berhasil membawa mereka memenangkan sejumlah penghargaan. Salah satunya adalah Mandiri Young Technopreneur 2013, di mana BloobIS sebagai pemenang pertama di kategori teknologi-IT. Singkatnya, BloobIS adalah layanan sistem informasi antara pencari dan penyedia darah.

"Ini awalnya dari tugas kuliah, kemudian dikembangkan, dan akhirnya kami masukkan ke ajang Mandiri Young Technopreneur 2013," terang Yogantara, mahasiswa semester tujuh Institut Teknologi Sepuluh November kepada SWA, di sela-sela expo Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur 2013, di Jakarta, pekan lalu.

Bagaimana latar belakang kalian berdua membuat BloobIS?

Waktu itu ada senior saya juga yang ambil case di PMI di Surabaya, dan akhirnya kami survei. Setelah survei, kami tahu masalahnya apa saja, seperti belum terintegrasinya data antar PMI. Misalnya, PMI Surabaya dan PMI Sidoarjo itu belum saling terintegrasi.

Berapa lama pengerjaan sistem ini?

Kami mulai di akhir tahun 2011 sampai pertengahan tahun 2012.

Berapa besar modal yang telah dikeluarkan untuk membuat BloobIS?

Sebenarnya, kalau membuat perangkat lunaknya, pas mengerjakan tugas, alhamdullilah, nggak keluar dana apa-apa. Tapi, setelah dapat penghargaan, kami membuat sistem lebih bagus lagi sehingga membutuhkan dana. Ya, modal pembuatan sistem ini menggunakan dana dari Program Kreativitas Mahasiswa, sekitar Rp 6-7 juta.

Dan terkait masalah dukungan, dari kampus mendukung sekali. Ini sudah berada di bawah naungan lab juga. Jadi, pengembangan riset juga dibantu sama kampus melalui lab tadi.

Tadi disebutkan bahwa sistem ini berawal dari tugas kuliah, memang ada penilaian dari dosen bahwa ini layak dikembangkan?

Awalnya memang dari tugas kuliah, dan dosen bilang, "Oh, ini bagus ini idenya." Akhirnya, oleh dosen, disuruh kembangkan lagi. Awalnya, BloobIS kami ikutkan ke lomba PKM dulu. Itu adalah Program Kreativitas Mahasiswa. Alhamdullilah, waktu itu didanai, dan kami kembangkan lagi agar lebih bagus. Kemudian kami ikutkan ke geMasTIK (Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi). Alhamdullilah, kami meraih juara satu.

Setelah itu, kami jadi finalis juga di ApaIdemu Pertamina. Setelah itu, yang terakhir, sekitar bulan Oktober atau November tahun lalu, yaitu INAICTA (Indonesia Information and Communication Technology Award) 2013. Alhamdullilah, kami mendapat juara dua. Baru, kami ikut di Mandiri Young Technopreneur 2013 ini, dan menang juga, mendapatkan juara pertama.

Lalu, seperti apa cara kerja BloobIS?

Dengan sistem ini, semua data stok darah sama data pendonor akan
terintegrasi. Nanti pendonor akan tahu bahwa, misalnya, "Saya sudah donor berapa kali ya, misal, dalam setahun ini?" Dan, kalau donor itu tiga bulan sekali, akan kelihatan, "Oh, orang ini sudah harusnya donor." Ada reminder juga, misal, melalui SMS.

Setelah terintegrasi, produk yang kami buat itu menghubungkan antara PMI dengan rumah sakit melalui fitur manajemen pemesanan dan pengiriman darah. Dari hal itu, rumah sakit bisa pesan darah secara online. Sistem kami yang akan mencarikan di mana stok darah terdekat dengan rumah sakit. Mereka (PMI) akan dapat notifikasi, "Oh, rumah sakit A butuh darah A." Langsung diterima pemesanannya, lalu diproses pengirimannya. Jadi, lebih cepat.

Selama ini, misalnya, ada keluarga pasien yang butuh darah, lalu telepon, misalnya, PMI Sidoarjo, bertanya, "Ada darah ini nggak?" Lalu, dijawab, "Oh, nggak ada." Ya, akhirnya keluarga pasien harus cari sendiri. Lewat sistem ini, kami yang akan mencarikan, mana yang ada yang terdekat.

Nantinya, siapa yang mengelola sistem ini?

Nanti, secara operasional, yang mengelola dari pihak PMI sendiri, terutama unit donor darah. Masyarakat sendiri bisa mengakses sistem ini melalui situs, tapi cuma sekadar melihat stok darah yang ada sekarang berapa, di mana adanya, dan melihat event-event donor darah terkini ada di mana saja. Bisa juga, masyarakat berbagi informasi, dengan menaruh informasi di situs, misalnya, informasi orang yang sedang membutuhkan darah.

BloobIS sudah dipakai di PMI mana saja?

Sistem ini sudah siap, dan sempat uji coba di PMI di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Itu dilakukan di awal tahun 2012. Responsnya, mereka senang dan ingin memakai sistem ini. Tapi ya itu, masih terkendala kebijakan PMI Pusat. Karena mereka itu hanya operator saja.

Memang belum ada koordinasi dengan PMI Pusat?

Sejauh ini belum. Sekarang, kami sedang fokus ke Kementrian Kesehatan. Kemarin, setelah INAICTA, kami diarahkan ke kementerian tersebut. Makanya kami ikut sejumlah ajang sebagai sounding.

Terkait dana dari Bank Mandiri sebanyak Rp 50 juta, rencananya untuk apa?

Rencananya, kami akan langsung coba implementasi. Nanti, coba dibantu oleh pihak Bank Mandiri untuk lobi ke Jawa Timur. Kami targetkan di Jawa Timur dulu untuk implementasi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)