CEO BCA: Tahun 2014 Ekonomi Indonesia Harus Lebih Mandiri

Pengamatan tentang perekonomian tahun 2014 sudah menghiasi media-media di Indonesia. Maklum, sisa waktu di tahun ini tinggal sebulan lagi. Pekan lalu, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menyebutkan pandangannya tentang ekonomi negara republik ini dan sektor perbankan khususnya kepada SWA Online, di sela-sela acara Kompas100 CEO Forum.

jahja bca

Bagaimana prospek ekonomi tahun 2014?

Tahun depan saya kira secara umum   landasan ekonomi akan lebih sulit dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa tahun belakangan, ekonomi berada dalam kondisi yang kurang normal. Banyak dana dari luar masuk ke Tanah Air.

Lalu, ke depan seperti apa?

Ke depan, kita harus lebih mandiri. Ini tercermin sebenarnya sejak dari semester kedua tahun ini. Kelihatan sekali likuiditas itu makin lama makin mengering, sehingga LDR perbankan naik. Suku bunga di pasar naik sebenarnya bukan karena BI rate naik, memang karena kebutuhan likuiditas. Kalau diasumsikan, misalnya, BI tidak menaikkan suku bunga pun, deposito semua pasti sudah naik karena memang kebutuhan.

Bagi perbankan, dana itu darah. Jadi, memang kami harus hidup pada tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Demikian juga dengan kurs dollar US. Jadi, itu semua menyebabkan ke depan akan lebih berat.

Apa yang menyebabkan tahun depan itu akan lebih berat?

Ada beberapa hal yang saya lihat, pertama, inflasi relatif agak tinggi. Kedua, biaya buruh terus naik, suku bunga tinggi, hingga kurs naik. Kurs naik, artinya apa? Bahan baku yang harus diimpor oleh produsen-produsen pasti naik. Jadi, semua struktur biaya naik. Itu artinya seluruh harga-harga barang akan naik.

Sementara itu, di Indonesia, daya beli masyarakat masih lumayan tinggi. Itu yang menyebabkan disebut demand pull inflation. Jadi, inflasi karena harga-harga naik tapi masih dibeli oleh masyarakat. Contoh, harga cabai yang lalu naik signifikan, harga daging juga. Sebenarnya orang nggak mati nggak makan cabai, tapi kenapa bisa naik, itu ada yang beli berarti kan? Bisa saja nggak makan daging, kalau lagi mahal, tetapi orang tetap beli karena ada daya beli. Kalau yang lalu, cost push inflation, misal harga minyak naik, lalu karena currency, jadi impor naik.

Jadi, ada dua faktor. Ini karena situasi daya beli masyarakat yang tinggi. Keduanya ini menyebabkan inflasi itu akan terus terjadi, dan dampaknya bunga tinggi, inflasi tinggi, dan tenaga kerja tinggi. Jadi, memang agak berat untuk pengusaha nanti menjual barang. Pasti harus menaikkan harga, kalau nggak dia nggak akan dapat keuntungan.

Jahja SuryaAtmaja presdir BCA 1

Di sektor perbankan sendiri, kondisinya seperti apa?

Perbankan sendiri asal bisa mengurangi permintaan kredit. Jadi, tugas perbankan, kalau misalnya dalam 2-3 tahun lalu, pertumbuhan industri di atas 20 persen. Tahun ini, saya perkirakan bisa 22-23,5 persen. Tahun depan, itu sesuai arahan BI, saya setuju sekali harus 15 persen, sekitar itu. Itu untuk mengurangi tekanan terhadap penarikan dana. Kalau kredit terus digenjot maka dana akan terus dibutuhkan akhirnya perang bunga.

Sejumlah ekonom, termasuk bankir berharap BI rate bisa turun, pandangan Anda?

Harapannya begitu, tapi ini kenyataan ya (tidak demikian). Seperti di lapangan, orang mau lihat pertandingan sepak bola yang cantik, nggak boleh hujan. Tapi, kalau ada hujan bagaimana, dia nggak bisa menghindarkan hujannya itu sendiri kan? Orang mau bisa saja, tapi kenyataan harus dihadapi. Kenyataan nggak bisa seperti itu.

Seperti di Eropa, pertumbuhannya minus 0,4 persen. Kita bisa 5 persen saja sudah bagus. Tapi, kita turun dari 6 jadi 5 persen. Nah, mereka minus. Itu yang menggambarkan keadaannya tidak memungkinkan kita tumbuh cepat.

Pertumbuhan kredit sendiri diturunkan jadi 15 persen, sedangkan kinerja perbankan menggenjot dari pertumbuhan kredit. Nah, kalau sekarang dari DPK atau mau dinaikkan terus bunga deposito atau gimana? Kalau perbankan kan hidupnya dari margin. Ya sejauh margin bisa dijaga yang penting perbankan tidak boleh terlalu agresif melepas kredit baru. Jangan mengharapkan keuntungan naik terus. Tetapi mempertahankan saja OK. Kalau mengharapkan profit naik tinggi lagi, ini nggak mungkin. Apalagi kalau kami tidak bisa melepas kredit terlalu besar. Itu tidak mungkin.

Kalau demikian, solusinya seperti apa?

Bertahan dengan kredit yang ada. Kredit yang ada sudah menghasilkan. Rata-rata perbankan di kuartal III kemarin, profit masih meningkat. Mungkin ke depan, akan lebih berat untuk meningkatkan. Tapi kalau mempertahankan masih memungkinkan.

Bagaimana strategi untuk mempertahankan?

Paling yang harus kami kompensasi adalah kenaikan biaya overhead kami,misal biaya upah buruh, biaya operasional, seperti dalam membeli mesin ATM.

Berapa target pertumbuhan kredit BCA di tahun depan?

Pertumbuhan kredit BCA di tahun depan antara 13-15 persen. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)