CEO Grup Dafam: Mengutamakan Manajemen Risiko

Billy Dahlan, Presiden Direktur Grup Dafam, merupakan bentukan langsung dari Soleh Dahlan (ayahnya), pemilik usaha sarang burung walet terbesar di Jawa Tengah. Dalam proses pengaderannya, Billy seringkali mengalami masa pembelajaran yang begitu disiplin dari ayahnya, baik saat ia masih berstatus mahasiswa, hingga selepas dari itu, menahkodai Grup Dafam. Seperti apa proses pengaderan yang diberikan Soleh Dahlan kepadanya? Berikut penuturannya kepada Fardil Khalidi dari SWA Online:

Billy Dahlan, Presiden Direktur Grup Dafam Billy Dahlan, Presiden Direktur Grup Dafam

Pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari sosok Soleh Dahlan, sehingga Anda bisa berkembang menjadi sosok sentral di Dafam Group?

Sejak saya sekolah di luar negeri, saya selalu didoktrin untuk selalu kembali pulang ke Tanah Air. Ini suatu hal dari ayah saya yang tidak bisa dinegosiasi. Saya sekolah di luar negeri selama 9 tahun, setiap liburan diharuskan untuk pulang ke Indonesia. “Biar tidak lupa dengan rumah” katanya. Pernah suatu saat saya rencana untuk coba tinggal di luar, ayah saya bersikeras untuk tidak memperbolehkan. “Kalau kamu enggak mau pulang, papa enggak kirim uang. Biar jadi gelandangan di sana” kata beliau.

Ayah saya banyak memberi kebebasan dalam pilihan hidup. Tidak terlalu banyak menuntut dalam pendidikan. Beliau hanya memberi pesan bahwa waktu di bangku sekolah hanya sesaat. Cuma sampai umur 21. Gunakanlah sebaik mungkin. Tidak akan bisa diulang. Kalo tidak naik kelas/bodoh diri kita yang rugi. Kita akan dianggap remeh teman-teman di sekolah dan orang-orang di sekitar kita, tidak ada yang menghormati orang bodoh. Kalau kita pintar tentunya banyak memudahkan jalan kita ke depan.

Ayah saya juga tidak terlalu mementingkan gelar akademis. Dia lebih mementingkan saya punya wawasan yang seluas mungkin dan bisa beberapa bahasa. Saat saya lulus Highschool di Sydney , saya dikirim ke Tiongkok untuk belajar Mandarin kemudian ke London untuk Diploma. Pada saat saya lulus dengan nilai bagus, saya ditawari program lanjutan langsung ke S2 tanpa harus S1. Ayah saya malah bilang: “Ngapain kamu S2? Mau kerja sama orang? Coba kerja dulu aja.”. Lalu saya beli buku-buku S2, lihat pelajarannya dan ternyata tidak terlalu menantang. Akhirnya saya membuat keputusan untuk tidak ambil program itu dan pulang ke Indonesia untuk mulai kerja.

Dalam kewirausahaan terkadang memang harus berani dan kadang spekulatif. Namun beliau selalu menanamkan bahwa keamanan itu penting. Jangan terlalu banyak ambil risiko karena serakah. Karena begini, bisnis high profit pasti high risk, dan banyak yang belum mendapat profit malah sudah digulung risikonya (bangkrut). Oleh karena itu, ayah saya selalu mewanti-wanti, “Manajemen risiko dan contingency plan itu harus!”

DafamBilly (tegak)

Apakah ada kekhawatiran, kegamangan atau kegundahan ketika hendak mengestafetkan kepemimpinan bisnisnya? Hal apa yang dikhawatirkan Pak Soleh Dahlan? Serta bagaimana beliau memotivasi para calon suksesornya?

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)