Chocoarts, “Pabrik” Game Besutan Mega Denditya dkk.

Mega Denditya, Sely Haudy, dan Muhammad Husein Mega Denditya, Sely Haudy, dan Muhammad Husein

Buat Anda para gamer, sudahkah mencoba game Almightree? Game yang baru diluncurkan untuk platform iOS pada 28 Agustus 2014 itu memang sedang ngetop. Selama dua minggu berturut-turut Almightree menempati jajaran kategori Best New Game di toko aplikasi Apple App Store.

Popularitas Almightree diakui di 109 negara, sehingga peringkatnya terus meningkat menembus daftar 100 game berbayar terlaris di Apple App Store. Bahkan, untuk genre puzzle dan adventure, Almightree masuk daftar peringkat 20 besar di toko aplikasi tersebut. Selain pengakuan secara komersial, Almightree juga memperoleh penghargaan pada kategori game di ajang INAICTA 2014.

Hal yang membanggakan, Almightree ini salah satu karya game developer Tanah Air yang tergabung dalam Chocoarts. Studio pengembang game ini sendiri dibentuk pada awal 2012 oleh tiga mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia, yaitu Mega Denditya, Sely Haudy, dan Muhammad Husein. “Kami bertiga suka membuat game,” ungkap Mega Denditya. Ia menceritakan, mereka sering bersaing ketika membuat game. Ketika ada lomba pembuatan game antaruniversitas di Surabaya, mereka pun bergabung, tetapi kalah. Dari situ, mereka melakukan introspeksi. “Lalu, kami pun sepakat membentuk perusahaan game Chocoarts. Sekarang, setiap ikut perlombaan game, kami selalu menang,” ungkap Mega dengan bangga.

Disebutkan Mega, mereka beberapa kali memenangi kompetisi pengembangan game, seperti di ajang Nokia Lumia Developer (hadir dengan game Gogoketo!), Nokia Mobile Game Developer War 3 (dengan game Jago Kabo), Nokia Ancol Coding on the Beach (dengan game Dolphin Race), dan kompetisi IGS 2012 (dengan game Flow the Cloud).

Menurut Mega, game pertama yang diciptakan Chocoarts adalah Launch Up. Namun, game ini tidak dirilis. Setelah itu, mereka membuat game Jago Kabo, hasil kerja sama dengan klub sepak bola dari Bogor, Persikabo. Game Jago Kabo ini bisa dimainkan di platform Nokia. Memang, target pasar dari Chocoarts selama ini adalah pengguna platform Nokia (Symbian) dan iOS. “Sejak awal kami sudah bekerja sama dengan Nokia. Sekarang Nokia telah dibeli Microsoft, ya sedih juga. Sebab, selama ini kami hidup dari store Nokia,” ujar Mega. Dengan perubahan lanskap industri konten mobile, sekarang Chocoarts bermigrasi untuk fokus ke platform iOS dan Android. Selain itu, Chocoarts juga akan mengambil spesialisasi di game bergenre adventure. “Supaya bisa lebih cepat pembuatannya,” tambah Mega, yang mengaku selama ini pihaknya butuh waktu 7-12 bulan untuk membuat sebuah game.

Selain itu, menurut Mega, Chocoarts juga akan terus konsisten sebagai pengembang game yang hanya membuat produk game. Maklumlah, umumnya studio game sangat mengandalkan jalur proyek alias menerima pesanan khusus dari klien. “Kami tidak menerima pesanan klien. Kami membuat produk game dengan niat, sehingga kualitasnya boleh diadu dengan game dari luar,” Mega menegaskan.

Keinginan membuat produk game yang berkualitas itulah yang membuat waktu produksi studio game yang diperkuat 14 pengembang ini cenderung butuh waktu relatif lama. Mega berharap, game yang dihasilkan bisa disukai para gamer, sehingga mereka tidak merasa rugi membelinya. “Selain harus berkualitas, kami juga memikirkan supaya game itu bisa seru dan membuat orang rela membayar,” kata Mega sambil tertawa.

Diklaim Mega, dengan kredibilitasnya yang sudah dibangun, kini Chocoarts memiliki mitra salah satu game publisher di Amerika Serikat. Berkat dukungan mitra publisher inilah, Chocoarts bisa bekerja sama dengan Apple. Kini, walaupun game Chocoarts di Apple Store berbayar, dalam rentang waktu yang singkat sudah diunduh sekitar 10 ribu kali.


Tahun pertama kami rugi, tahun kedua untung. Dan, tahun ketiga ini mulai meningkat untungnya,” ujar Mega yang tak mau memerinci besaran pendapatannya. “Ke depan, kami hanya akan bikin freemium game, karena tidak ada barrier-nya untuk pengguna. Jadi potensi downloader-nya lebih tinggi,” tambah Mega, yang menargetkan dalam satu tahun bisa memproduksi empat game.

 

A. Mohammad B.S. & Ferdi Julias Chandra

Riset: Dian Solihati

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)