Cravar dan Bronn, Bisnis Serba Kulit Dua Sahabat

Rama Luhur dan Yoki Panji Baskara, dua sahabat ini komitmen menjalankan bisnis bersama. Tidak tanggung-tanggung, bisnis yang dipilih sesuai dengan minatnya, yakni barang berbahan dasar kulit, khususnya tas dan sepatu kulit dengan desain unik, eksklusif alias tidak pasaran dan memiliki durabilitas yang prima. Menurut mereka, produk seperti itu tidak mudah diperoleh. Kalau pun ada, umumnya berasal dari luar negeri dan harganya selangit. Dari sinilah muncul ide merintis bisnis produk berbahan kulit pada 2012.

Rama Luhur dan Yoki Panji Baskara Rama Luhur dan Yoki Panji Baskara

Jadilah berkat kepiawaian tangan Yoki dalam mendesain lahir sebuah tas kulit pria model postman bag dengan detail yang unik berbahan kulit grade atas. Tas kulit tersebut diberi merek Cravar. Sebanyak 50 tas yang diproduksi waktu itu habis terjual. “Pembelinya teman-teman kami sendiri,” cerita Yoki. Melihat respons positif itu, mereka berdua makin semangat hingga memutuskan untuk total mengembangkan ide kreatif itu sebagai bisnis serius.

Pertengahan 2012, Yoki nekat menjual studio fotonya dan Rama memutuskan keluar dari perusahaan logistik tempatnya bekerja selama 7 tahun. Dengan modal tabungan Rama dan Yoki dari hasil menjual studio fotonya, kedua sohib ini lalu berburu bahan baku kulit kelas satu dan mempekerjakan seorang tukang dalam sebuah workshop berukuran 2x3 meter di Depok, Jawa Barat. “Bisa dibilang, kami berdua waktu itu benar-benar nekat terjun total di bisnis ini,” ujar Rama.

Pria lulusan magister manajemen bidang pemasaran dari Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya itu menggarap jaringan yang dimilikinya selama bekerja dulu sebagai pasar potensial produk mereka. Jika Rama mengandalkan modal keterampilan pemasarannya, Yoki yang lulusan magister dari Nijenrode Universiteit Belanda bidang keuangan, melengkapi dengan bakat mendesainnya. “Desainnya memang masih menurut selera saya, tetapi saya benar-benar mempelajari karakter calon end user sehingga hasilnya bisa customize dan eksklusif,” ungkap pria kelahiran 3 Oktober 1980 ini.

Kini Cravar tak lagi dijual door-to-door dengan mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut seperti pada mulanya. Melainkan, mereka telah memasarkannya lewat gerai ternama di Jakarta seperti toko buku Ak:sa:ra, gerai fashion 707, The Good Dept, dan gerai fashionyang memiliki konsep underground fashion. Sebanyak 30-40 tas terjual di setiap gerai dalam sebulan dengan kisaran harga Rp 500 ribu-3 juta. “Sekitar 75% pembelinya ternyata orang asing alias ekspatriat yang sedang berkerja atau berkunjung ke Jakarta,” ucap Rama bangga.

Tak hanya itu, Rama dan Yoki pun mengembangkan lini bisnisnya, yaitu memproduksi cenderamata alias merchandise berbahan kulit untuk perusahaan besar ataupun personal dengan merek Bronn Leather. Perusahaan yang pernah menjadi klien mereka di antaranya Garuda Indonesia, Samsung Electronics dan Perusahaan Gas Negara. Menurut Rama, meski Bronn baru dirilis satu tahun setelah Cravar, kontribusi keduanya pada penjualan sama besar, yakni 50:50.

Meski saat ini Cravar telah berkembang, tantangan tetap menjadi bagian tak terelakkan dalam menjalankan sebuah bisnis. Rama mengaku memang banyak end user yang mengapresiasi positif produk mereka, tetapi tidak sedikit pula yang memandang sebelah mata. “Terutama mereka yang punya prinsip, kalau harus beli dengan harga yang sama mahalnya mending sekalian beli merek yang sudah mendunia alias punya luar negeri,” ungkap Rama. Pengalaman seperti itu tidak menyurutkan semangat keduanya. “Kami tetap ingin mewujudkan mimpi besar kami untuk ambil bagian dalam pasar fashion khususnya tas kulit internasional, ” tambah Yoki optimistis.

Cravar pun didesain dengan konsep klasik elegan, timeless dan “misterius”. Maksud misterius di sini adalah logo Cravar dibuat dengan ukuran huruf supermini dan ditempatkan di bagian agak tersembunyi dari tas. Trik ini bukan berarti mereka tak pede, justru sebaliknya memancing keingintahuan orang yang melihatnya. “Dengan demikian akan memberikan nilai prestise tersendiri bagi si pemakai bahwa hanya dia yang memiliki tas seperti itu,” ujar Yoki. Kini Cravar pun telah dipublikasi lewat kickstarter.com – situs bagi pecinta karya seni bernilai tinggi. Ini menjadi sebuah pengakuan atas hasil karya duo sohib tersebut.

Dede Suryadi dan Liliyah Rahman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)