Dari Satu Pesawat, Sriwijaya Kini Melanglang Buana

Industri penerbangan nasional diisi oleh sejumlah pemain. Salah satunya adalah maskapai Sriwijaya Air. Maskapai yang lahir pada bulan November 2003 ini tadinya hanya mempunyai satu unit pesawat saja, yakni Boeing 737-200. Sekarang perusahaan telah berkembang seiring dengan meningkatnya bisnis transportasi udara di Tanah Air. Buktinya, jumlah unit pesawat tak lagi hanya satu. Sriwijaya Air adalah maskapai yang paling banyak menggunakan jenis pesawat Boeing itu di dunia.

Chandra Lie Chandra Lie

Chandra Lie, Direktur Utama Sriwijaya Air, dalam sebuah acara peresmian kerja sama antara maskapai dengan pihak PermataBank terkait transaksi pembayaran yang menggunakan metode Virtual Account, di Jakarta, Senin (29/7/2013), mengatakan, “Sriwijaya Air ini lahir tanggal 10 November 2003, dengan satu pesawat Boeing 737-200.”

Berikut penuturan Chandra terkait perkembangan Sriwijaya Air.

Seperti apa maskapai berkembang dalam hal jumlah pesawat?

Kami berkembang. Ya, kami melalui satu pesawat Boeing 737-200 pada 10 November 2003. Mulai dari satu pesawat itu kami berkembang, dan kami adalah pemakai terbanyak di dunia untuk jenis pesawat itu, yakni sampai 19 unit pesawat. Satu per satu kami meremajakan pesawat kami sehingga pesawat kami tidak banyak bertambah sampai hari ini, yakni sebanyak 38 unit. Dari 38 pesawat itu milik kami ada 16 unit, dan 22 pesawat melalui para lessor. Tapi ke depannya, kami menambah sembilan pesawat lagi. Soal penambahan pesawat kami sudah selesai. Kami sudah selesai mengganti pesawat kami Boeing 737-200. Bulan Agustus ini kami sudah selesai menggunakan 737-200, tetapi kami bukan membuangnya begitu saja. Itu mungkin akan digunakan sebagai standby aircraft.

Perusahaan pun memutuskan untuk membeli pesawat baru secara tunai secara bergiliran tahun ini, yakni diselesaikan dengan lima pesawat dari sembilan pesawat. Lima pesawat kami beli dengan uang tunai milik kami sendiri. Yang lainnya, kita lease kepada lessor luar. Kami sudah membutuhkan pesawat itu, tetapi kami belum didukung oleh lembaga keuangan, karena itu kami membeli pesawat itu secara cash dan bertahap.

Dari mana smber pembiayaan pembelian pesawat-pesawat itu?

Selama ini bank di Indonesia belum begitu tertarik membiayai bisnis penerbangan. Kalau dari bank lain, artinya dari luar negeri, mereka sangat antusias untuk membiayai. Tapi ke depan, kami akan mendekati lembaga keuangan di Indonesia, seperti perbankan. Daripada uang kita ke luar, kenapa nggak dibiayai oleh bank lokal kita. Itu prinsipnya. Kami berusaha untuk itu karena Sriwijaya Air ini aset bangsa dan negara kita.

Dalam minggu ini ada dua pesawat akan datang, setelah itu terus datang. Saya ingin ‘menjahit’ negara kepulauan kita ini yang terdiri dari 17 ribu pulau menjadi satu. Satu hari bisa sampai dari Sabang sampai Merauke.

Penambahan pesawat untuk apa?

Penambahan pesawat ini untuk menambah rute-rute baru dan menebarkannya di rute-rute yang sudah ada. Kami akan terbang ke Indonesia bagian timur nantinya, semua. Seluruh provinsi, wilayah akan kami terbangi. Seperti yang saya katakan tadi bahwa kami ingin ‘menjahit’ negara kepulauan ini menjadi satu bangsa dan satu negara.

Regional dalam waktu dekat ini, kami mau terbang ke China, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Kami pikir tahun ini sebagian mulai, dan selanjutnya kami teruskan ke tahun 2015. Tapi, di tahun 2013 ini kami sudah mulai ke tujuh provinsi di China, seperti Beijing. Terbang mulai September kalau nggak salah. Kami akan terbang dengan Boeing 737-800 NG.

Semua rute kami rata-rata bagus. Karena kami mau membuka rute baru, business development sudah menghitung betul. Saya pun sebagai CEO, memberikan waktu tiga bulan, seandainya tidak mencapai target saya katakan suruh tutup itu rute. Tetapi, alhamdulillah sampai sekarang ini kami belum pernah menutup rute.

Berapa jumlah penumpang Sriwijaya Air sekarang ini?

Setiap bulannya rata-rata ada 800 ribu pelanggan. Jadi, ada sekitar 9 juta penumpang per tahun. Kami sekarang ini sudah lewat 50 persen dari target penumpang sebanyak 9 juta per tahun. Tingkat keterisian baik itu pada masa lebaran, atau tidak lebaran pun, itu 90 persen. Namun, saya harapkan  di lebaran ini mencapai 95 persen. Karena permintaannya kan banyak. Ada liburan kan. Dan, kami pun ada penambahan kursi penerbangan.

Apa yang ditonjolkan oleh maskapai dalam proses perkembangannya?

Kami tetap berkembang, di mana kami tetap menjaga atau selalu mengatakan bahwa, safety is number one. Keamanan di atas segala-galanya. Prinsip kami seluruh karyawan-karyawati Sriwijaya Air sangat memahami itu. Kami tidak akan terbang sama sekali seandainya kami harus mengorbankan keselamatan penerbang maupun penumpang. Itu prinsip kami.

Mitra kerja kami, yakni para agen perjalanan, dan lembaga keuangan, termasuk PermataBank. Selalu saya katakan bahwa kaki kanan saya ini adalah Sriwjaya Air, dan kaki kiri saya adalah mitra kerja saya. Tanpa dukungan mitra kerja saya, Sriwijaya Air bukan apa-apa. Itu yang saya sangat pahami, saya sangat mengerti, itu yang kami lakukan sehingga maskapai ini sampai saat ini menjadi seperti yang kita harapkan bersama. Kiranya maskapai bisa besar di mata Allah, dan besar di mata umat-Nya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)