Dennis Adhiswara: Layaria Beroperasi seperti Komunitas

Dunia seni peran yang sempat ditekuni dan melambungkannya hingga memiliki nama besar di kancah perfilman Indonesia ditinggalkan Dennis Adhiswara. Aktor yang memperkuat film Ada Apa dengan Cinta dan Jomblo ini, tahun 2012 resmi membesut Layaria, jejaring multikanal YouTube pertama di Indonesia. Ia bergerak sebagai wadah bagi para kreator video lokal untuk bersama-sama berkreasi, membangun, menciptakan atmosfer bisnis, dan mendistribusikan karya lewat YouTube.

Dennis Adhiswara: Layaria Beroperasi seperti Komunitas Dennis Adhiswara: Layaria Beroperasi seperti Komunitas

Sebagai CEO and Headmaster Layaria, Dennis bersama ke-12 rekan kerjanya, mengenalkan Layaria ke beberapa kota di Indonesia. Alhasil, lebih dari 70 partner kini bergabung dan bersama-sama mengembangkan Layaria, tersebar di 14 kota di Indonesia: Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, Pontianak, Pangkalanbun dan kota lainnya. “Kami tidak menjadikan uang sebagai tujuan akhir. Kami hanya ingin bergerak, berkarya sesuai passion, lalu men-share passion kami. Kami juga mengajak mereka untuk sama-sama berkarya. Mungkin spirit itulah yang dilihat oleh YouTube, sehingga kami pun bekerja sama dan Layaria resmi menjadi premium partnership,” tutur Dennis.

Menurut Dennis, fokus Layaria ialah video online. Layaria membangun, mendidik, memproduksi, dan mempromosikan video online dari para kreatornya. Kerjanya seperti apa? Bayangkan, ini seperti recording label. Bedanya kalau recording label itu bekerja sama dengan para musisi, dan hasil akhirnya berupa musik. “Nah, kami bekerja sama dengan video maker, bukan musisi, yang hasil akhirnya video online. Apa pun platformnya. Bisa YouTube, bisa Instagram,” tutur Dennis.

Ia suka menciptakan sesuatu terutama di bidang video dan film. Yang membuatnya senang membuat video online adalah gambar dan suara lebih cepat ditangkap, dan lebih lama berada dalam benak atau diingat. “Ada beberapa klien dari Layaria, antara lain, Indosat, Telkomsel, XL, Samsung, dan Lenovo. Saat ini kami mengerjakan proyek Telkomsel Loop. Kami juga ngerjain teman-teman start-up. Kreator videonya banyak, mulai dari yang masih baru, sampai yang sudah lama bertahun-tahun,” Dennis menjabarkan.

Untuk memperkenalkan Layaria, Dennis keliling dari kota ke kota. Saat memulai bisnis video online, bisnis ini sedang subur-suburnya karena baru muncul. Semua orang pasti ingin bikin video, jadi ada umpan balik baik dari mereka. “Kami juga memberi fasilitas kepada teman-teman yang jadi partner kami berupa pendidikan. Makanya, kami ada di tiga kota. Jakarta, Bandung dan Surabaya,” ia menambahkan.

Ke depan, Dennis berharap Layaria bisa seperti Disney. Menurutnya, Disney itu merupakan sekumpulan orang yang bekerja di perusahaan dan mereka memiliki visi yang sama untuk mewujudkan mimpi. “Spiritnya di situ. Dan itu semangat di Layaria juga,” Dennis menggarisbawahi. Ia berharap, para mitranya bisa mewujudkan mimpi mereka lewat media video online, walaupun mereka punya pekerjaan utama yang mungkin berbeda. Dennis mengilustrasikan, ada orang yang bekerja di pasar, passion dia sulap. “Ya sudah, silakan bikin sulap, tapi rekam di video dan ditayangkan secara rutin di YouTube. Atau di Instagram. Main job-nya tetap, enggak ditinggalin,” tuturnya.

Jadi, dia harus tetap berada pada pekerjaan utamanya, karena dia punya keluarga dan sudah punya penghasilan tetap di pasar. Dennis melihat passion yang begitu penting itu sayang kalau disia-siakan. Kalau disia-siakan, akan ada umur tertentu di mana passion itu hilang. “Buat saya, orang itu dinyatakan mati saat potensinya hilang. Makanya ada pepatah yang bilang, banyak orang mati umur 25 tahun tapi jasadnya dikubur di usia 75 tahun. Saya enggak mau itu terjadi pada diri saya,” ungkap Dennis.

Karena itulah, Dennis mendirikan Layaria. “Ini perusahaan, tapi bentuknya seperti komunitas. Dan, semangat kami start-up terus,” ia menandaskan. Layaria adalah perusahaan, tetapi Denis dan para mitranya bisa berkarya dan bersenang-senang terus. “Kami boleh jadi mengerjakan main job kami dari hari Senin sampai Jumat, jam 7 pagi sampai jam lima sore. Tapi setelah jam dan hari di luar itu, kami jadi diri kami sendiri,” ungkap Dennis.

Salah satu mitra Layaria adalah Pemkot Surabaya, Jawa Timur. Menurut Don Rozano, mantan Staf Ahli Wali Kota Surabaya yang kini jadi konsultan bisnis, Pemkot Surabaya sudah banyak membuat proyek bersama Layaria, antara lain, sharing dengan pelaku UMKM Surabaya untuk memanfaatkan media online sebagai alternatif promisi dan pemasaran dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. “Dalam event yang diikuti sekitar 600 pelaku UMKM yang mayoritas ibu-ibu, Dennis sangat piawai berkomunikasi dengan bahasa yang dimengerti disertai contoh-contoh yang memikat,” tutur Don.

Kegiatan lainnya adalah sharing dengan calon pelaku bisnis perfilman dan miniworkshop online video maker dengan sekitar 650 pelajar SMA/SMK se-Surabaya, dan Co Working Space and Techno Start-Up, Start Surabaya. “Pemkot berkolaborasi dengan Layaria dalam menggagas dan membangun industri kreatif di Surabaya yang mampu bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,” Don menambahkan. Ia terkesan dengan cara kerja Dennis yang mampu menyampaikan materi secara ringan dan memotivasi peserta untuk berkarya.

Didin Abidin Masud & Lia Amelia Martin

Riset: Hana Bilqisthi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)