Destry Damayanti: Bagi Bank, Risiko Likuiditas Paling Utama

Ekonomi Indonesia masih diwarnai ketidakpatiaan di tahun 2014. Pemerintah masih harus bekerja keras untuk mengatasi defisit transaksi berjalan. Benarkah, kondisi ini akan menghambat investasi di Indonesia? Bagaimana sektor perbankan menyikapi konsisi seperti ini? Berikut ini penuturan Destry Damayanti, Chief Economist Bank Mandiri, kepada wartawan SWA, Kristiana Anissa.

Destry Damayanti Destry Damayanti

 

Bagaimana prediksi Anda terhadap investasi di 2014?

 

Untuk FDI (Foreign Direct Investment), kecenderungannya FDI melambat, tapi investasi domestik  tidak akan terlalu terkoreksi dalam.  Cuma, masalahnya sekarang beda, di 2009 ada krisis global tapi kita recover-nya cepat, karena saat itu negara lain juga lagi memburuk. Jadi kita tidak punya saingan banyak, jadi kita nggak ngapa-ngapain juga inflow masuk karena mereka lihat Indonesia masih bisa tumbuh 4,5%, sementara negara lain berdarah-darah.  Maka, inflow pun masuk dengan kencang, jadi dampak Pemilu juga tidak signifikan.

 

Sekarang kondisinya sedikit berbeda. Sementara, kondisi global masih tidak favorable, di dalam negeri juga masih banyak ‘PR’ yang harus diselesaikan.  Karena itu, sampai Pemilu benar-benar selesai, kita juga belum bisa berharap banyak bahwa investasi akan berbalik secara cepat.
Apakah FDI berpengaruh ke rupiah?

 

Kalau untuk investor riil, sebenarnya kondisi ini menguntungkan karena dengan USD  yang dia bawa, dia bisa belanja lebih banyak.  Tapi kalau Rupiah tidak stabil dia juga akan berpikir, mereka mau bottom berapa. Mereka juga khawatir, setelah menetapkan rate tertentu, tiba-tiba drop lagi.

 

Bagi mereka itu juga risiko.  Struktur ekonomi kitalah yang membuat FDI yang masuk adalah FDI yang punya ketergantungan pada bahan baku impor tinggi.  Jadi harus secara bertahap struktur industri kita ini diubah agar banyak industri yang membuat produk intermediate.  Jadi, misalnya industri mobil, mereka harus bikin pabrik bahan baku di sini.
Industri yang tahan banting di 2014 apa saja?

 

FDI yang masuk ke CPO (crude palm oil) juga banyak.  Dengan adanya kebijakan seperti mandatory (peningkatan penggunaan biofuel), maka CPO akan jadi salah satu sektor yang diuntungkan.  Adanya perbaikan permintaan dan harga CPO global nampaknya juga akan memberikan support untuk industri ini.
Lalu bagaimana dengan kebijakan/UU minerba yang baru (tentang tidak boleh mengekspor mineral mentah sehingga perusahaan tambang harus membuat smelter, dst)?

 

Kita juga masih belum tahu ini mau dijalankan seperti apa, karena itu kan UU.  Tahun 2014 minerba tidak bisa lagi diekspor secara mentah.  Walaupun kemudian akan ada pengecualian bahwa perusahaan yang sudah membangun smelter masih boleh mengekspor.  Tapi kalau pengecualian itu bentuknya SK Menteri, apa bisa lewat UU?


Lalu apa yang akan terjadi dengan
current account jika begitu?

 

Kalau itu benar-benar langsung dilakukan ya nilai ekspor kita akan minim saja.  Ekspor kita tidak akan optimal. Sebenarnya filosofi adanya UU minerba ini kan agar industri hulu/pengolahan bisa berkembang.  Misalnya bijih besi dibuat jadi produk lanjutan agar bisa dipakai industri domestik dan diekspor.  Yang pasti kalau itu diberlakukan ekspor kita akan terkoreksi.
Itu aplikasinya kan bakal lama. Jadi kebijakan moneter harusnya bagaimana?

 

Itulah, di sektor riil ini kan harus ada strategi short term dan long term. Harusnya yang short term difokuskan dulu, misalnya seperti konversi energi.  Kalau Pemerintah bisa menunjukkan konsistensi, tanpa menunggu hasil dari industri pengolahan (penerapan UU Minerba baru), saya rasa itu bisa memberikan faktor positif ke pasar.

 

Kebijakan moneter kan banyak, tidak hanya BI rate saja.  BI juga bisa menggunakan kebijakan di currency.  Atau bisa saja kombinasi. Kenaikan BI rate 1% itu akan menurunkan pertumbuhan kredit sekitar 2,2% dan yang paling kena dampaknya adalah signifikan.  Kredit investasi turun antara 2-3 bps.
Bukankah harapannya seperti itu?

 

Ya, memang, tapi jangan sampai mematikan sektor yang punya peluang untuk tumbuh yaitu sektor yang tidak tergantung pada bahan baku impor, misalnya industri kreatif, atau home made industri, itu kan bisa dioptimalkan ke depannya. Tapi kalau BI rate naik, berarti kan suku bunga naik semua sampai ke suku bunga yang kecil-kecil juga.
Ada langkah tertentu untuk membuat rupiah stabil?

 

Sebenarnya kalau dihitung, saya menghitung menggunakan nominal effective exchange rate, rupiah di level Rp 11600-11700 itu sudah pas lah dengan kondisi fundamental kita, di mana kita memiliki current account deficit. Itu kurang lebih sama dengan India.  Di level itu kita masih bisa pertahankan daya saing kita untuk barang ekspor kita.  Walaupun India elastisitasnya tinggi.  Itu sudah didiskon juga dengan isu tapering.  Jadi kalau sekarang sudah di Rp 12 ribu, rasanya sudah agak overshoot.
Kondisi itu berbahaya?

 

Bahaya kalau terus-terusan.  Karena ekspektasi kan liar.  Kalau tidak ada upaya meredam, geraknya bisa kemana-mana.
Bagaimana kalau ada tapering?

 

Dalam jangka pendek, pasti akan terjadi koreksi di pasar financial di regional.  Tapi akan ada adjustment, dan itu dilihat dari fundamental negara masing-masing, kalau fundamentalnya bagus pasti adjustment-nya cepat, berbalik.
Kami malah tadinya tidak perkirakan akan sampai Rp 12 ribu/US$1.  Tadinya malah Rp 11.300/US$ dengan asumsi tapering dilakukan di pertengahan 2014.
Apa sekarang menuju ke kondisi seperti sebelum ada stimulus?

 

Dari sisi likuiditas dolar, mungkin bisa apple to apple dengan 2009, tapi dari sisi fundamental, sekarang kita ada masalah.  Di 2009 masalah ini belum terlalu terasa karena saat itu investasi juga belum tumbuh pesat.  Defisit kan terjadi karena investasi tumbuh pesat skali, industri pengolahan tidak siap, jadi harus impor besar-besaran, sementara harga komoditas turun.  Padahal, di 2009 harga komoditas naik karena ada flight to quality, dolar turun, likuidity shrinking, mereka masuk ke komoditas, dan kita negara komoditas, kita enjoy di situ. Itu bedanya.
Apa strategi jangka pendeknya agar rupiah tidak ’liar’?

 

Ya dari sektor riilnya. Pemrintah harus lebih berani dalam hal konversi energi.  Dan dalam hal pajak impor yang sifatnya signifikan.
Pasar modal bagaimana?

 

Pasar modal kan seperti rupiah juga, tergantung kondisi global.  Uncertainty-nya masih tinggi, dan di lokal ada masalah current account deficit,  Makanya asing pada belum masuk, masih menunggu. Menunggu tapering jadi atau tidak, menunggu kepastian rupiah, kepastian politik dan bagaimana Pemerintah mengatasi soal current account deficit.

Bagaimana prospek perbankan?

 

Kredit kami perkirakan tumbuh sekitar 15%.  Karena masih banyak sektor yang berpotensi untuk maju, misalnya sektor yang banyak menggunakan bahan baku domestik dan domestic oriented.  Suku bunga rendah sudah harus kita lupakan.  Ada pemilu, dengan ada Pemilu investasi cenderung melambat.
Selama ekonomi belum baik dan faktor eksternal belum pasti, berarti masih akan ketat?

 

Kecenderungannya seperti itu.  Ketat itu berarti bank mungkin punya likuiditas banyak.  Tapi dalam kondisi ketidakpastian tinggi, bank pasti akan menahan likuiditas.  Kami tidak akan hambur-hamburkan dana dengan memberi kredit atau masuk ke interbank loan dll, karena kami juga harus mengamankan kondisi kita dulu.  Karena bagi bank risiko likuiditas paling utama.

 

Kalau bank mengerem kredit bagaimana dengan sektor riil?

 

Makanya ekonomi kita diperkirakan melambat.  Tahun depan mungkin akan lebih stagnan.  Jika dulu pertumbuhan kredit bisa mencapai 23 % setahun, sekarang mungkin hanya 18-19 %.  Tahun depan mungkin 15 %.
Kredit konsumsi bagaimana?

 

Private consumption itu agak unik, biasanya dengan adanya Pemilu malah ada unsur stimulus dari Pemilu itu.  Dalam GDP (Gross Domestic Product) Indonesia, konsumsi masyarakat masih stabil sekitar 5-5,2 %.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)