Dharma Simorangkir, Pasar Mobile Advertising Prospektif

Nama Out There Media boleh jadi cukup moncer di ranah industri mobile advertising. Apalagi setelah ekspansi ke wilayah Asia Pasifik, pertumbuhannya meroket cukup fantastis sebesar 800%. Siapa sangka sosok yang memampukan Out There Media meraih posisi 3 besar di lingkup regional ini adalah orang Indonesia. Dialah Dharma Simorangkir.

Dengan pengalamannya yang lebih dari 12 tahun di mobile telecommunication company, pria kelahiran Jakarta, 9 Januari 1980 ini mempunyai dasar komunikasi yang kuat dengan partner bisnis yang berhubungan dengan telekomunikasi. Seperti apa kiprah Ayah dari Immanuel Filio Simorangkir dan Graciella Margareth Simorangkir ini memajukan Out There Media sebagai Vice President of Business Development Out There Media untuk Asia Pasifik? Berikut penuturan lengkapnya :

Dharma Simorangkir

Mohon diceritakan apa latar belakang pendidikan dan perjalanan karire Anda selama ini hingga bisa masuk Out There Media di posisi terakhir?

Saya punya latar belakang pendidikan Telecommunication Engineering di Universitas Brawijaya Malang. Setelah lulus, saya langsung bekerja di Huawei, salah satu perusahaan telekomunikasi asal China. Waktu itu perusahaannya masih sangat kecil. Begitu masuk, saya ditempatkan sebagai engineer. Memang beberapa orang bilang, bahwa kerja di Huawei itu capek. Tapi saya lihat itu sebagai satu kesempatan karena potensinya sangat besar untuk berkembang.

Selain  menjadi seorang engineer, saya juga merangkap sebagai project manager, account manager, dan product manager. Itulah yang membuat saya punya banyak kesempatan untuk belajar. Mungkin orang lain perlu 5-6 tahun untuk bisa menguasai ekosistem kerja di banyak lini, sementara saya dipercaya bisa memegang 4 fungsi sekaligus dalam waktu 1 tahun.

Di Huawei saya sempat mendapatkan penghargaan bertaraf global yaitu Golden Key Award. Penghargaan ini diapresiasikan untuk individu-individu yang bekerja di Huawei yang dapat memenuhi target lebih dari yang ditentukan dan  memberikan service excellent kepada pelanggan. Pada saat itu, kami sedang ada proyek di Sumatera, dimana saya yang memimpin team-nya. Saya ditugaskan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan baik, terintegrasi sesuai dengan budget yang sudah ditentukan.

Dari Huawei saya dikenalkan teman untuk masuk ke Nokia. Waktu itu namanya masih Nokia Siemen Network. Ya mungkin karena masih muda, saya pikir : wah perusahaan Eropa nih!!! Dulu waktu di Huawei saya sudah pernah ke China beberapa kali. Jadi rasanya ingin ke Eropa suatu hari nanti. Kemudian saya masuk ke Nokia Network, yang basenya di Finland. Di sana saya pegang berbagai macam posisi mulai dari sales sampai yang terakhir head of marketing untuk Asia Pasifik. Dari situ saya banyak belajar tentang global standard, global excellent about how global company delivers, karena kan waktu itu Nokia dikenal sebagai salah satu perusahaan yang memberikan service excellent sangat bagus pada customernya.

Kemudian dari Nokia saya pindah ke Ericson. Waktu itu saya baru bisa ambil MBA pada tahun 2007-2009 di IPMI, Jakarta. Jadi saya lebih banyak mengenal tentang sales dan business development. Kemudian Ericson ada beberapa investment refocus, di mana dulu Ericson kan end to end company. Dari yang menyediakan infrastruktur, jasa, layanan, hingga beberapa value added services, yang salah satunya adalah mobile advertising. Kemudian, mereka fokus untuk mengembangkan mobile advertising ini karena mungkin terpengaruh soal kompetisi pada saat itu.

Jadi saya harus mencari partner untuk bekerja sama di bidang advertising, salah satunya kami bekerja sama dengan Out There Media. Di situlah saya kenal Out There Media. Kemudian saya kenal dengan CEO-nya, Kerstin. Dia bilang bahwa dia mau expand ke Asia Pasific, apa kamu tertarik untuk ikut? Akhirnya saya tertarik dan pindah ke situ pada bulan Februari 2013.

Seperti halnya Ericson that is the best in telecommunication infrastructure, Out There Media is the best in mobile advertising globaly. Jadi saya belajar yang terbaik dari masing-masing perusahaan. Out There Media ini berpusat di Vienna Austria, tapi punya kantor Asia Pasific di Jakarta, Singapura, Filipina, dan Malaysia. Nanti di Q3 kami akan buka di Thailand juga. Sekarang fokusnya memang masih di ASEAN karena market di sini masih banyak. Tapi setelah itu kami akan masuk ke India, China, Korea, Jepang, dan mungkin ke Australia juga. Karena kalau kita lihat pertumbuhannya secara global, advertising itu bertumbuh pesat di Asia seperti China, India, dan Indonesia. Jadi Asia Tenggara is the growth.

Setelah 12 tahun berpengalaman di industri mobile telecommunication kenapa tertarik pindah ke mobile advertising?

Sebenarnya ada link-nya. Sekarang kan saya khusus bergerak di bidang mobile advertising. Jadi mobile advertising ini adalah salah satu driver untuk industri telekomunikasi. Kalau dulu orang menggunakan layanan telekomunikasi lewat voice misalnya telepon, sms, dll, sekarang mulai pindah ke data seperti Facebook, What’s up, Chating, Google, dll. Nah, sebenarnya ada lagi industri yang istilahnya bisa menggerakkan telekomunikasi lebih daripada itu yaitu advertising. Selama ini kan advertising kebanyakan dilakukan secara tradisional, misalnya lewat majalah, bill board TV, dll. Padahal the closest things that the advertise grow is actualy the mobile. Pasti kita pergi kemana-mana bawa HP kan? Tapi di lain pihak, belum banyak budget yang di-spend ke mobile advertising. Di sinilah saya sangat tertarik untuk meng-un lock behavior ini. Karena marketnya sangat besar. Di Indonesia, budget iklan yang dianggarkan pada tahun 2012 sebanyak 60 triliun, tapi kebanyakan untuk televisi. Porsi untuk digital, bahkan mobile itu sangat kecil. Padahal potensinya sangat besar. Itulah yang membuat saya sangat tertarik.

Tantangan di posisi sekarang?

Mungkin kalau di internal begini, perusahaan ini sangat unik ya. Karena perusahaan ini punya 2 sisi. Satu sisi bergerak pure ke mobile advertising agency, dimana agensi ini harus berhubungan dengan P & G, Unilever, Nokia, Samsung, dll untuk iklan. Di sisi lain kami juga berhubungan dengan semua operator. Karena operator inilah yang mempunyai aset subcribernya pengiklan. Kami mengambil data/informasi yang relevan, dan mengelola private issues untuk kami sampaikan kepada mereka. Kalau selama ini kan untuk TV agak susah ya, misalnya kami pasang iklan Opera Van Java di Trans 7, kan penontonnya tidak tahu apakah laki-laki atau perempuan? Dengan mobile, kami bisa tahu apakah targetingnya ke laki-laki atau perempuan. Itu saja sudah menghemat 50%.

Contoh lain ada campaign Sunsilk, Sunsilk itu kan untuk perempuan? Kalau kita blush begitu saja, 50 : 50 bisa laki-laki atau perempuan yang menonton. Secara ringkas, konsepnya adalah beriklan lewat mobile. Pengiklannya itu bisa pengiklan yang dari TV jadi. Iklannya bisa berupa sms, mms, atau video. Penguna handphone di Indonesia kan banyak nih, dengan konsep ini pengiklan bisa menargetkan dengan benar siapa pasarnya.

Jadi ini bisa meningkatkan return of investment pengiklan karena pasang subscriber juga tidak mendapatkan spam/informasi yang tidak relevan untuk mereka, dll. Jadi perusahaan advertising yang lain tidak ada yang punya kompetensi seperti ini. Sisi satunya kami punya teknologi, sisi satunya lagi kami punya sales capability ke agency, which makes the company is very unique. Dan ini salah satu diferensiator yang kami bawa ke market, baik ketika kami berhubungan dengan operator maupun ketika berhubungan dengan advertiser.

Apa saja tanggung jawab Anda sebagai Vice President di Out There Media sekarang?

Tanggung jawab saya lebih banyak berhubungan dengan operator-operator dan partner bisnis kami di seluruh Asia Pasifik. Misalnya di Indonesia kami bekerja sama dengan Telkomsel, Indosat, XL, Axis, 3, dll. Kalau di Singapura dengan Startup, Filipina dengan Globe, Smart, dll. Jadi saya memastikan bahwa teknologi kami bisa diintegrasikan ke jaringan mereka dengan baik dan bisa membantu mereka untuk memonetize inventory mobile mereka.

Berapa orang dalam 1 team yang Anda bawahkan?

Jadi sekarang di Indonesia baru mau merekrut ya, karena baru set up perusahaannya. Kalau di Singapura sudah ada 1, Malaysia 1, Filipina 1, dan kami juga punya global resources, tapi itu full of people. Nanti kami juga akan masuk ke Thailand. Jadi ketika marketnya grow, organisasi ini juga makin bertambah. Simply, karena sekarang masih baru dan mau expand ke Asia, jadi kami masih banyak di-support headquarter. Yang pasti dalam 1-2 tahun ini, bisnis kami berkembang, jadi kami optimis akan growth.

Apa saja pencapaian-pencapaianAnda sekarang?

Kalau kita ngomong sales, mungkin  dari 0, 18 kali lipat itu hasil kerja saya. Basicly, waktu masuk ke sini, Out There Media ekspansinya baru nol, karena baru mulai ya. Jadi kami sekarang bisa dibilang ada 800% growthnya, karena tadi seperti yang saya bilang, marketnya masih sangat besar dan kami harus eksekusi. Dari bulan ke bulan, kami melihat pertumbuhan yang sangat besar untuk pencapaian advertiser di market. Hal ini terjadi karena advertiser mulai mengalihkan banyak sekali advertising spend-nya dari tradisional media, seperti media cetak dan TV ke mobile. Jadi ini hanya awal dari growth yang sangat eksponensial ke depan. Memang sekarang kami banyak fokus di brand-brand regional dan global, tapi tidak menutup kemungkinan kami juga akan bekerja sama dengan brand-brand lokal, contohnya bank lokal, FMCG lokal, atau jasa asuransi lokal, dll.

Prestasi lain Anda?

Mungkin di Nokia Siemens Network, waktu saya sebagai Head of Strategic Marketing untuk Asia Pasifik, kami membuat suatu campaign, sebenarnya kami buat untuk konsumsi Asia Pasific, tapi itu ditarik menjadi global inisiatif. Kan Nokia Siemens itu beroperasi di 100 negara, jadi ide tersebut akhirnya dipakai dan diimplementasikan ke 100 sekian negara

Strategi apa yang membuat Anda bisa terus menuai prestasi?

Mungkin yang bisa saya share, dimanapun kita berada atau apapun yang kita lakukan, kita harus punya passion yang kita kejar. Seperti yang tadi saya bilang, kenapa saya akhirnya joint ke sini, karena saya gemas dan penasaran, industri periklanan ini opportunitynya sangat besar, budget yang dimiliki oleh perusahaan sangat besar, tapi kenapa belum dispend ke mobile, padahal lebih murah, lebih tepat sasaran, dan lebih mass rate. Kita bisa jangkau 230 juta, dalam sekali waktu juga jadi. Jadi apapun yang saya kerjakan, saya coba lihat apa sih yang menjadi passion saya. Karena dengan passion atau motivation yang kita kejar itu, nanti tantangan, rasa capek atau bosan, semua itu akan hilang. Dan kita juga harus belajar dari yang terbaik. Mungkin waktu di Huawei saya belajar dari manajer saya, dia sangat customer service excellent. Dia bilang, kalau customer minta sediakan A,B,C, dia akan berikan A,B,C, dan D. selalu memberikan customer nilai tambah. Dengan itulah mereka akan mengingat kita. Jadi saya banyak belajar dari manajer-manajer saya di Huawei, Nokia Siemens, Ericson, dan sekarang juga di Out There Media.

Enakan mana kerja di mobile telecommunication atau mobile advertising ?

Sama ya. Hanya mungkin bukan ke mobile atau mobile advertising-nya? Karena Out There Media kalau dibandingkan dengan Ericson itu kecil sekali. Tapi dengan kecilnya itu, mereka bisa berlari lebih cepat. Dalam pengambilan keputusan dan pengeksekusian dibandingkan dengan perusahaan yang birokrasinya panjang.

Apa yang dilakukan di kala weekend?

Bermain dengan anak istri. Walaupun tiap pagi dan malam sebisa mungkin bertemu mereka. Dalam hariannya, komunikasi tetap jalan, karena kan sekarang teknologi komunikasi makin canggih ya.

Apa hobi Anda?

Hobi main musik, terutama jazz. Saya juga bisa main beberapa alat musik seperti piano, gitar, drum, dan sekarang juga ingin belajar saxophone. Tapi waktunya yang nggak ada, hahaha....Soalnya kalau main jazz belum ada saxophone-nya belum kerasa main jazz :)

Apa saran Anda untuk profesional lain yang ingin mengemban tugas hingga lingkup regional?

Yang pertama, mereka harus think big. Meskipun negara kita negara besar, tapi there are other market also big markets di luar sana. Okey lah kita mulai dengan Indonesia, karena katanya think global, act local. Tapi kalau menurut saya, think big. Karena dengan kita berpikir besar, our colege, our boss, our partner will see that we have the vision to growth. In every company the nation is grow. Google, Yahoo, yang besar-besar, mereka kan selalu ngomong tentang growth. Karena growth tidak akan bisa tercapai di single market. Makanya harus selalu think big, bagaimana bisa mereplikasi apa yang sukses di 1 negara, kita replikasikan ke negara lain. Contohnya tadi di Nokia Siemens Network, kami berhasil di Asia Pasifik, dipakai globaly.

Yang kedua, saya lebih suka pakai kata open. Maybe we nation stand to be close to other views, other colege, or other countries, tapi kalau menurut saya kita harus open. Karena orang Indonesia pintar-pintar. Kita punya expert IT segala macam, tapi kebanyakan kita simpan ide-ide brilian itu di dalam hati dan pikiran kita. Kita tidak pernah komunikasikan ke orang. Jadi orang tidak akan ada yang tahu. Kita tidak bisa ekspektasikan orang tanya kepada kita,  harus mau dengan ide kita. Ya itu juga yang membuat saya sekarang bisa seperti ini. Kita punya ide bagus, ya kita explore dan share ke orang lain. karena mereka akan sangat suka.

Apa target dan rencana ke depan?

Kalau target perusahaan di 2015, tentunya ingin jadi nomor 1 se-Asia Pasific dalam mobile advertising in term of market share and revenue.

Kalau secara pribadi, saya sendiri ingin punya perusahaan sendiri yang memang masih bergerak di bidang telecommunication media technology, jadi menggabungkan industri telekomunikasi, media, baik itu advertising, financial, payment, dan teknologi. Saya ingin ada perusahaan Indonesia yang nanti saya buat globaly recognized.

Out There Media sendiri di lingkup global posisinya ada di nomor berapa ?

Kami salah satu leader, karena marketnya ini sangat skater. Contohnya kalau di US, itu punya market sendiri yang besar dan ada beberapa player di situ. Di Eropa definitly kami salah satu dari 3 besar lah ya. Di US kita juga baru penetrasi. Middle East kami juga sangat besar di sana, dan juga sekarang Asia. Jadi sebenarnya kalau di rangking ya in terms of market-nya secara global nomor 2 atau nomor 3.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)