DIG Siap Menguasai Bisnis Resto Masakan Jepang

Bisnis kuliner seolah tidak pernah menemui titik jenuh. Meski pemainnya banyak, namun peluang bisnis urusan perut ini masih terbuka lebar.  Tak heran kondisi tersebut menarik minat sejumlah investor asing untuk turut menyicipi gurihnya bisnis resto di Tanah Air. Salah satunya, Dining Innovation Group (DIG), perusahaan asal Jepang yang siap menguasai pasar bisnis resto berkonsep Jepang di Jakarta.  Bagaimana caranya?

Di negeri asalnya, DIG telah lama dikenal sebagai perusahaan yang bergerak dalam kuliner dan industri jasa makanan secara global yang menyajikan menu utama yakiniku, yakitori dan ramen. Perusahaan yang berdiri sejak 6 Januari 2013 ini memiliki 61 resto yang tersebar di Jepang dan belahan dunia seperti Eropa, Amerika Serikat, Tiongkok, Hongkong, Singapura dan Indonesia.

Kenny Yokoyama, General Manager Shaburi Kenny Yokoyama, General Manager Shaburi

Di bawah payung PT Inovasi Kuliner Indonesia, DIG menghadirkan dua restoran sekaligus yakni Shaburi dan Kintan. Kenny Yokoyama, perwakilan DIG sekaligus General Manager Shaburi, mengatakan, animo masyarakat Indonesia khususnya Jakarta terhadap makanan Jepang begitu tinggi. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya restoran sejenis yang telah hadir terlebih dahulu dikota-kota besar sehingga menarik perhatian perusahaan untuk berinvestasi ke Tanah Air.

"Kami melihat pasarnya masih terbuka lebar, apalagi masyarakat sini juga sudah sangat familiar dengan makanan Jepang. Kami pun tidak butuh waktu lama untuk melakukan riset dan analisa, yakni sekitar 6 bulan saja," katanya.

Shaburi dan Kintan membidik orang berduit tebal. Penempatannya pun dipusat perbelanjaan berkelas seperti Mall Pacific Place Jakarta. Harga makanan kedua resto tersebut berkisar Rp 80 - 400 ribu. "Butuh 200 Yen untuk membangun dua resto ini, "ujar Yokoyama.

Shaburi adalah resto berkonsep all you can eat yang menawarkan  daging super premium sampai wagyu impor. Restoran ini  bergaya khas Jepang dengan penggunaan elemen kayu dihampir seluruh ruangan, sehingga pengunjung dapat merasakan seperti makan shabu-shabu dinegeri asalnya. Sedangkan Kintan, bergaya casual, cozy dan lebih anak muda. Restoran itu telah dibuka 3 Mei lalu.

Lalu, apa kelebihan kedua resto ini?. "Kami ingin pengunjung di sini bukan hanya datang sekedar makan, tetapi juga merasa happy selama makan itu berlangsung. Caranya dengan menciptakan interior, menu, cara masak, hingga pelayanan yang berbeda dari kebanyakan resto lainnya, " klaimnya.

image

Yokoyama, menjelaskan, para pengunjung dibebaskan untuk memasak daging yakiniku dengan menggunakan pemanggang yang tersedia di meja, sehingga level kematangan daging dapat berbeda sesuai dengan keinginan pengunjung. Selain itu, cita rasanya juga telah disesuikan dengan lidah orang Indonesia. "Kami ingin perpaduan cita rasa Jepang-Indonesia bisa dibawa ke mancanegara sehingga ketika ada orang Indonesia yang berpergian atau tinggal di luar negeri, akan datang ke resto ini yang sekarang sudah banyak dibeberapa negara," tandasnya.

Ia berpendapat, bagi restoran yakiniku dan shabu-shabu kualitas daging adalah modal utama. Karena itu, baik Kintan dan Shaburi, menyediakan daging yang berkualitas premium adalah sebuah keharusan. Selain itu, kedua resto ini juga menghadirkan makanan sehat dan bergizi dengan menyediakan bahan makanan yang selalu segar dan diolah secara higienis setiap hari.  "Kami menargetkan 350 pengunjung tiap hari," ungkapnya.

Untuk menarik pengunjung, DIG menjalankan dua jurus. Pertama, memasang label halal sehingga setiap orang bisa menyicipi makanan olahan resto tersebut. Kedua, memberikan promo-promo spesial misalnya potongan harga. "Kami berharap bisa membangun 2 resto lagi setiap tahun di Indonesia," harapnya.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)