Duet Pasutri Rina & Roki di Bisnis Wedding Shoes

Lama bergelut di bisnis wedding organizer (WO) membuat Rina Thang mampu melihat peluang bisnis lain, yakni bisnis sepatu pernikahan (wedding shoes). Empat tahun silam, perempuan kelahiran Jakarta 14 Juli 1977 ini pun merintis bisnisnya. Kini, boleh dibilang, Rina Thang Shoes sudah menjadi salah satu pilihan para calon pengantin.
Sebelum mengembangkan Rina Thang Shoes, lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Tarumanagara ini lebih dikenal sebagai pelaku WO, melalui bendera Precious Moment yang didirikannya 13 tahun silam. “Dulu, ketika memulai bisnis WO hanya sedikit yang menggelutinya. Saya sendiri (menggeluti) karena sering membantu pernikahan saudara,” katanya.

Rina Thang Rina Thang

Menurut Rina, munculnya ide mengembangkan bisnis sepatu khusus untuk calon pengantin ini terinspirasi beberapa kliennya yang merasa kesulitan mencari selop khusus untuk acara pernikahannya. “Mereka merasa kesulitan mencari sepatu yang cocok dan enak dipakai buat pernikahannya. Memang, sedikit sekali merek yang menyediakan wedding shoes,” ungkap Rina.

Pada 2010, Rina bersama suaminya Roki Djajadibrata meluncurkan Rina Thang Shoes. Untuk mengembangkan bisnis sepatu khusus mereka menginvestasikan dana awal Rp 30 juta. Dana itu digunakan, antara lain untuk membeli mesin bekas. Sehari-harinya, bisnis wedding shoes ini dikelola oleh Roki, sedangkan Rina masih mengurusi bisnis WO. “Sepatu yang kami buat semua handmade dan benar-benar disesuaikan dengan bentuk kaki pembeli,” Rina mengklaim dengan bersemangat. “Kenyamanan inilah yang menjadi nilai tambah produk kami,” tambahnya.

Dijelaskan Rina, untuk mengerjakan sepatu atau selop itu, biasanya klien datang untuk pengukuran kaki dan membicarakan model sepatu yang diinginkan, mulai dari bahan hingga modelnya. Bahan untuk membuat sepatu sejauh ini bahan lokal, terutama satin dan sejenis bahan brokat atau lace.

Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan sepatu, mulai dari desain sampai jadi, sekitar 1,5 bulan. “Ketika sudah setengah jadi, kami lakukan lagi proses fitting. Tujuannya biar sepatunya benar-benar sesuai dengan bentuk kaki pemesan dan nyaman digunakan. Kalau dilihat secara keseluruhan, prosesnya hampir sama dengan pembuatan kebaya atau gaun penggantin,” ujar Rina.

Diklaim Rina, bisnis sepatu pernikahannya yang didukung empat tukang ini mendapat respons bagus dari pasar. Buktinya, dalam sebulan pihaknya mampu memproduksi 20 pasang sepatu pengantin. Harganya saat ini dibanderol Rp 1,6 juta (untuk model dan bahan yang biasa) sampai Rp 3 juta per pasang. Pada awalnya hanya dibanderol Rp 400 ribu per pasang. Kebijakan pricing ini sesuai dengan segmen pasar yang dibidik, yaitu kalangan menengah-atas. “Perkembangan bisnis wedding shoes ini cukup bagus dan nama Rina Thang Shoes sudah dikenal dengan baik,” Rina mengklaim, seraya menyebutkan omset bisnis sepatunya Rp 50-60 juta per bulan.

Untuk lebih memopulerkan produk sepatunya, Rina rajin berpromosi di pelbagai media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram. “Selain dari media sosial, banyak juga yang datang ke sini karena tahu dari teman atau saudaranya. Jadi, banyak juga yang akibat dari mulut ke mulut,” katanya.

Rina menyebutkan, pelayanan dari pihaknya pun mesti prima. Maklum, klien yang disasarnya adalah mereka yang butuh perlakuan istimewa. Maka, jika ada komplain lantaran sepatunya tidak sesuai atau tidak enak dipakai, pihaknya akan segera memperbaiki. Bahkan, jika klien merasa tidak puas, Rina rela tidak dibayar.

Ke depan, Rina mengaku ingin membuat workshop dan showroom buat produk sepatunya. “Kami juga sudah berpikir untuk membuat lini sepatu ready to wear. Idenya sudah ada tapi masih digodok. Mudah-mudahan bisa terlaksana secepatnya,” ungkap Rina sambil tersenyum.

Bisnis sepatu pernikahan yang digeluti Rina, menurut Istijanto Oei, pengamat pemasaran dari Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya, memang menyasar pasar yang tergolong kecil, alias niche market. Namun menurutnya, margin yang diperoleh tinggi. Pasalnya, di bisnis ini menyangkut aspek emosi, sehingga pembeli tidak lagi sensitif harga.

Supaya bisnis sepatu pernikahan Rina bisa lebih berkembang, Istijanto menyarankan agar ia rajin mengikuti pameran pernikahan, dan menjalankan program relationship dengan paket pernikahan yang digelar oleh hotel atau WO. Ia juga menyarankan Rina bisa menjalin kerja sama dengan desainer yang terkenal dengan gaun pengantinnya, seperti Anne Avantie. “Untuk strategi branding bisa dilakukan dengan langkah co-branding dengan kalangan WO ataupun pelaku industri fashion,” saran Istijanto lagi.

A. Mohammad B.S. & Nimas Novi Dwi Arini

Riset: Aini Zahra

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)