Duo Pembesut Boots Premium dari Cibaduyut

Bak cendawan di musim hujan. Itulah gambaran menjamurnya produsen sepatu buatan tangan alias handmade. Dan, salah satu pemain yang terbilang baru sekaligus agresif di bisnis ini adalah Djoone Footwear, produsen sepatu custom buatan tangan asal Cibaduyut yang dibesut oleh Imam Ciptarjo (25 tahun) dan Rizki Nasrullah (22 tahun) sejak 2012. Dengan modal patungan, mereka menyasar segmen penggemar sepatu boots berbahan kulit sapi di kalangan anak muda.

Imam Ciptarjo dan Rizki Nasrullah Founder Djoone Footwear Djoone Shop (Custom Shoes), youngters Edisi04 2015 Imam Ciptarjo dan Rizki Nasrullah Founder Djoone Footwear Djoone Shop (Custom Shoes), youngters Edisi04 2015

Tiga tahun berlalu, bisnis mereka kini mulai menampakkan titik terang. Saban bulan, ratusan pasang sepatu yang mereka produksi laris diboyong penggemar boots di seantero Nusantara, bahkan mancanegara. “Sejak sekolah saya sudah menjual sepatu dari toko-toko di Cibaduyut hingga kelar kuliah,” tutur Imam mengisahkan awal bisnisnya kepada SWA, di toko merangkap bengkel kerjanya di kawasan Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat.

Bisnis Imam terus bergulir hingga modal yang ada dirasa cukup untuk membuat produk sepatu sendiri. Dia lantas menggandeng temannya, Irwan Nugraha, kakak Rizki, yang seperti dirinya juga merupakan warga Cibaduyut. Mereka patungan sebesar Rp 20 juta sebagai modal awal yang habis untuk membeli mesin jahit, shoelast, mesin penipis kulit, kulit sapi, serta biaya promosi di dunia maya.

Belakangan, Irwan memilih mundur untuk bekerja di tempat lain. Saham Irwan kemudian dialihkan kepada adiknya, Rizki. Alhasil, hingga kini Imam dan Rizki bahu-membahu membesarkan Djoone.

Imam memaparkan, sejak awal, Djoone diposisikan sebagai merek sepatu premium berbahan kulit sapi. “Targetnya kami ingin memasarkan secara online dan membidik orang-orang di luar Bandung,” kata Imam yang didampingi Rizki saat wawancara. Secara spesifik, Djoone menggarap sepatu boots yang menurut mereka mudah dibuat tetapi berharga tinggi di pasar.

Imam fokus menangani pemasaran di dunia nyata dan maya, sedangkan Rizki mengurusi produksi dan SDM. “Keluarga Rizki memang memiliki bisnis seperti ini sehingga dia lebih mengerti masalah material, merekrut perajin, proses pengerjaan dan kualitas produk,” tutur Imam.

Sejak awal, pemasaran Djoone yang menargetkan konsumen premium dari luar Bandung, bahkan mancanegara, digarap serius. Promosi secara online digarap melalui blog, situs web, Kaskus, Facebook, Twitter dan Instagram. Djoone pun menggandeng artis agar bersedia menjadi endorser produknya seperti Kevin Julio, Rizky Alatas dan beberapa lainnya.

Djoone menerapkan tiga strategi penjualan, yakni custom, ready stock dan borongan. Custom menyasar semua kalangan; ready stock (yang ada di toko) menyasar segmen menengah-atas; borongan untuk pembeli di luar Bandung. Untuk mempercepat penyebarannya di toko fisik, Djoone yang dibanderol dari Rp 349 ribu hingga jutaan rupiah per pasang menerapkan sistem konsinyasi ke sejumlah toko di kawasan Bandung.

Dengan ramuan strategi itu, Imam mengklaim Djoone telah dikirim ke lebih dari 80 kabupaten atau kota di 27 provinsi di Indonesia. Bahkan, sepatu Djoone, masih menurut Imam, telah menembus pasar ekspor ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Setiap bulan, tak kurang dari 200 pasang sepatu dihasilkan dari bengkel Djoone di Cibaduyut yang ditenagai empat pekerja. “Keuntungan yang kami ambil berkisar 10%-30% dari harga jual, rata-rata di atas Rp 70 juta per bulan,” ungkap Imam.

Imam dan Rizki sudah memikirkan langkah pengembangan selanjutnya. “Kami sudah bekerja sama dengan sebuah toko di daerah Jakarta Selatan. Selain itu, kami juga mendapatkan tawaran buka di Semarang,” kata Imam.

Pakar bisnis dan pemasaran Jahja B. Soenarjo memaparkan, bisnis sepatu custom handmade memang tengah naik daun. “Bukan hanya yang berbahan kulit sapi, juga ada yang mengkhususkan diri menggunakan kulit kambing, kulit ikan pari, kulit ular dan buaya, bahkan spesialis sepatu berbahan serat bambu di Bandung,” ungkap Chief Consulting Officer Direxion itu kepada SWA.

Tren ini, lanjut Jahja, sejalan dengan konsep customized 1to1 marketing, yakni pelanggan ingin diperlakukan sebagai individu, memakai produk yang didesain khusus dan tidak digunakan orang lain. Fenomena ini diperkuat oleh maraknya online shopping dewasa ini. Ancaman terhadap bisnis ini, imbuh dia, justru timbul dari dalam diri pengusahanya sendiri. Ketika usahanya berkembang, sang pengusaha dituntut terus berinovasi sekaligus harus gigih mempertahankan kualitas meskipun kelak kuantitas yang diproduksi kian bertambah.

Solusinya, menurut Jahja, “Djoone bisa diposisikan sebagai pembuat sepatu yang sangat menguasai bahan baku dan mengajak pelanggan mengenali bahan baku sepatu yang berkualitas, alias edukasi kepada pelanggan, kemudian menyertakan pula testimoni pelanggan- pelanggan yang cukup populer dan representatif untuk memperkuat positioning-nya.”

Lebih lanjut Jahja menyarankan agar Djoone menggandeng para perancang busana dan melengkapi berbagai event peragaan busana, serta mensponsori pemotretan rubrik mode untuk media kelas atas. “Dengan begitu, tidak mustahil merek-merek terkenal sekelas Louis Vuitton atau Salvatore Ferragamo bisa maklun di Djoone,” kata Jahja serius.

 

BOKS:

Djoone Footwear

Pemilik: Imam Ciptarjo (25 tahun) dan Rizki Nasrullah (22 tahun).

Lokasi : Jl. Dipati Ukur 68 A, Bandung, Jawa Barat.

Keunggulan: Sepatu khusus buatan tangan model boots berbahan kulit sapi.

Produksi : 200 pasang per bulan.

Pasar: Seantero Indonesia dan telah ekspor ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

 

Eddy Dwinanto Iskandar dan Istihanah

Riset: Hanah Bilqisthi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)