Ekowisata Fancy Ala Camp on Farm

Keindahan alam Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya memang sudah tersohor sebagai daerah tujuan wisata. Tetapi dua anak muda asal Bandung ini mengemasnya menjadi kegiatan ekowisata yang berkesan eksklusif. Foundernya adalah Adhi Pramudito, Sarjana Geologi ITB tahun 2012 mengajak rekannya Livia Meilani yang saat ini masih berstatus mahasiswi Seni Rupa jurusan Kriya, ITB membangun sebuah bisnis EO ekowisata yang diberi nama Camp on Farm.

Cita-cita mereka tak semata untuk bisnis tetapi ingin mendekatkan masyarakat dengan petani dan produk pangan lokal. Sehingga masyarakat lebih apresiatif terhadap produk pangan lokal dan petani bisa mendapat nilai tambah dari produknya. Berikut ini penuturannya kepada SWA Online.

camp on farm

Apa yang melatarbelakangi Anda membangun bisnis ekowisata ini ?

Adhi (A): Awalnya, setelah lulus kuliah (2012) saya sempat bekerja di perusahaan tambang, selama bekerja saya meresa pekerjaan itu tidak sejalan dengan hati saya. Karena tugas saya adalah keliling ke daerah-daerah untuk mencari kawasan yang punya potensi tambang dan umumnya itu kawasan hutan yang indah. Hati saya sebenarnya tidak rela untuk melaporkan bahwa dikawasan itu ada potensi tambang tetapi itu tugas saya. Jadi saya hanya bertahan bekerja disana setahun. Lalu seorang teman mengajak jalan-jalan keliling ke desa-desa di Kabupaten Bandung. Saya diajak jalan-jalan ke sebuah kebun budidaya jamur, tempatnya menarik, dan banyak atraksi budidaya yang bisa kita lihat. Akhirnya saya berpikir ini bisa dijadikan obyek wisata untuk kegiatan ekowisata.

Lalu bagaimana bisa mendapatkan partner Livia?

Livia (L) : saya sendiri saat itu tahun 2013 masih sedang kuliah, di Seni Rupa ITB jurusan Kriya, diajak Adhi untuk ikut. Awalnya saya diajak jalan-jalan juga mencari site. Kemudian akhirnya saya ikut mendesain semua experience dalam paket-paket wisata Camp on Farm.

Apa sebenarnya yang dijual dalam kegiatan wisata Camp On Farm ini?

L : Edukasi tentang alam, sumber pangan dan bagaimana alam memberikan kita kehidupan. Misalnya, orang kota tertarik ikut kegiatan ini karena ingin tahu bagaimana youghurt dihasilkan, maka dia ikut melihat langsung bagaimana sapi perah dirawat, diperah susunya, kemudian diolah jadi susu dan produk lainnya seperi youghurt. Tidak hanya itu mereka juga terlibat langsung untuk panen sayuran, mengumpulkan telur ayam diantara semak karena ayamnya dilepas tidak dalam kandang, kemudian telur dan sayuran tadi diolah sendiri oleh meraka menjadi salad dan mayonase. Makanan itu kemudian mereka makan ramai-ramai di dekat kebun sayur sambil menikmati matahari terbenam ditemani api unggun. Dinner set-nya pun kami desain yang fancy, jadi meski makannya lesehan di atas padang rumput tetapi tetap berkelas.

Berapa besar modal awal membangun bisnis ini?

A: Modalnya dalam hal ini, uang hampir tidak ada. Karena saya hanya bermodal hasil dokumentasi dari jalan-jalan ke desa-desa tersebut lalu saya lepas di media sosial banyak yang tanya itu daerah di mana, bagaimana caranya kesana, butuh biaya berapa. Akhirnya saya buatkan saja paket open trip, meraka yang berminat membayar DP, jadi bisa dibilang DP itulah modal awal kami.

Bagaimana sistem penjualan kegiatan wisatanya? Paket yang sudah fix atau bisa sesuai permintaan costumer?

Kami menjual paket , misalnya paket wisata kopi, menginap dua hari, kami bandrol Rp 450 ribu per orang. Kami juga ada paket keluarga Rp 1 juta untuk tiga orang menginap dua hari. Saat ini kami baru punya tiga site yaitu wisata kopi di Gunung Puntang, wisata peternakan sapi perah Dago Dairy di Buniwangi, dan wisata kebun sayur dan herbal di Ciburial.

Bagaimana sistem kerjasamanya dengan petani pemilik kebun atau peternakan?

A: Kami bagi 20 % untuk si pemilik tempat dalam hal ini pemilik kebun atau peternakan. Tetapi untuk sayuran, kopi atau susu yang dipanen dan dikonsumsi oleh peserta, itu 100 % menjadi milik petani atau peternak, dia sendiri juga yang menentukan harganya.sebenarnya selain keuntungan secara langsung tersebut, si petani juga ternyata dapat dampak positif lainnya, yaitu dia menjual langsung produk dengan nilai tambah. Kedua, diantara peserta yang ikut kegiatan, ternyata adalah bagian purchasing dari restoran, cafe, hotel atau catering besar di Jakarta atau Bandung. Dia tertarik dengan produk si petani, terjadilah deal bisnis.

L : Selain itu petaninya juga mendapat masukan langsung dari konsumennya soal tren dan selera pasar saat ini. Misalnya soal gaya hidup sehat dengan makanan organik, peserta langsung berbagai informasi soal berkebun organik dengan petaninya. Hal-hal semacam itu yang saat ini jarang bisa didapatkan petani, karena umumnya produk petani kita dibeli oleh tengkulak dengan harga murah, mereka sendiri tidak mendapat nilai tambah.

Bagaimana caranya bisa menemukan petani dan peternak yang mau mendukung kegiatan Anda?

L : Kami melakukan survei terlebih dahulu, mencari site-site yang bagus kemudian mendatangi pemiliknya alias si petani atau peternaknya, kami jelaskan konsep kami, mereka yang setuju kemudian kami masukkan dalam daftar obyek wisata kami.

Siapa target pasar dari Camp on Farm ini ?

L : Target kami semua kalangan, tidak terbatas. Baik itu anak-anak, remaja, orang dewasa. Family gathering, wisata sekolah atau individu pun kami layani. Sejauh ini yang paling banyak peminatnya dari anak-anak muda yang sudah bekerja punya penghasilan, ingin keluar sejenak dari rutinitas, cari kesegaran tetapi ingin wisata yang tidak biasa.

A: Peminat terbanyak kedua adalah ibu-ibu muda yang tergabung dalam komunitas bloger tertentu mereka ingin memberikan anak-anaknya pengalaman wisata yang edukatif, menyehatkan sekaligus petualangan.

Sampai saat ini sudah berapa kali mengadakan event baik yang open trip maupun yang private?

L: Yang private trip baru satu kali, sedangkan yang open trip itu sudah lebih dari 3 kali sepanjang tahun 2014 kemaren.

Apa target tahun ini untuk Camp on Farm?

L : Kami menargetkan tahun 2015 ini kami sudah bisa bekerjasama dengan lebih banyak lagi petani, sehingga bisa menambah daftar site. Minimal tahun ini kami bisa menambah 10 site dalam daftar. Selain itu kami juga akan membuat website resminya Camp on Farm. Lalu kami juga ingin merapikan manajemen dan SOP, sehingga kami bisa ekspansi mencari site ke kota atau kabupaten lain di Jawa Barat. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)