Energizer Indonesia Meraup Untung dari Melemahnya Rupiah

PT Energizer Indonesia mengaku terpengaruh terhadap melemahnya mata uang Rupiah terhadap Dolar AS yang semakin memburuk belakangan ini, namun pengaruhnya justru positif.

Energizer CSR2Seperti diketahui, Rupiah kini telah menyentuh level Rp 11 ribu per US$ 1. Melemahnya mata uang negeri ini telah memengaruhi beberapa sektor industri yang sangat mengandalkan bahan baku impor. Industri otomotif misalnya, saat ini ketar-ketir mengingat Dolar AS yang dipatok untuk biaya produksi masih di angka Rp 9.300 per US$ 1.

Kondisi berbeda dialami PT Energizer Indonesia selaku produsen baterai Eveready. Sebab dari 500 juta baterai merek Eveready yang diproduksi oleh mereka, 85%-nya untuk keperluan ekspor ke berbagai penjuru dunia. Hanya 15% yang dijual ke pasar lokal.

“Produksi kami 85% untuk keperluan ekspor dengan adanya pelemahan Rupiah, maka itu bukan merugikan kami, justru menguntungkan buat kami karena kami justru membawa Dolar AS masuk ke dalam negeri. Tapi saya tidak bisa mengatakan berapa keuntungan yang didapat dengan melemahnya Rupiah belakangan ini,” kata Vicky T. Mahmud, Direktur Manufaktur PT Energizer Indonesia di Bekasi, Jumat (24/8).

Energizer Indonesia memproduksi baterai merek Eveready di pabrik mereka di Cimanggis Depok. Vicky mengaku sebagian besar bahan baku seperti plastik, kertas dan karbon berasal dari dalam negeri.

“Bahan produksi kami sebagian besar merupakan kandungan lokal. Mungkin sekitar 50% komponen lokal. Lagi pula kalau kami impor beli dengan Dolar AS, tapi kan kami jual lagi dengan Dolar AS, jadi tidak masalah,” tegasnya.

Vicky menjelaskan, Energizer memiliki dua divisi yakni divisi house hold dan personal care. Selain memproduksi baterai, juga memproduksi shaver merek Schick, alat breast pump merek Playtex dan beberapa merek perawatan kulit yakni Hawaiian Tropic, Banana Boat dan Skintimate.

Khusus pabrik di Cimanggis, Depok, hanya memproduksi baterai merek Eveready dan assembling pisau cukur untuk shaver Schick. Sedangkan baterai merek Energizer diproduksi di Malaysia.

Untuk kapasitas produksi baterai 2013 di Cimanggis, Depok, Vicky mengaku telah terjadi penurunan sebesar 5% secara year on year (YoY). Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh penurunan permintaan, imbas dari pergeseran tren device yang kini tidak lagi banyak menggunakan baterai. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)