Farizan Firdaus: Pilih Jadi “Kepala Kucing” ketimbang “Buntut Harimau”

Farizan Firdaus Farizan Firdaus, Direktur Pengelola Maya-Ad

Warga Jakarta pasti mengenal nama Mayasari Bakti, bus kota yang menjelajahi setiap sudut Kota Jakarta, hingga ke Tangerang, Bekasi dan Depok. Ya, Mayasari memang “raja jalanan” di Jakarta dengan armadanya yang mencapai ribuan. Ade Ruhyana Mahpud, sang pemilik Mayasari, memiliki empat anak yang sudah menjalankan bisnis masing-masing. Bisnisnya tidak jauh dari otomotif. Anak pertama di bisnis logistik, yang kedua di dealer dan karoseri, anak ketiga, Farizan Firdaus, mengelola Maya-Ad, dan anak keempat “main” di bus pariwisata. “Dari saudara saya yang lain, cuma saya yang tidak main di otomotif,” ujar Farizan, Direktur Pengelola Maya-Ad.

Lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia (2010) dan S-2 Prasetiya Mulya (2014) ini pernah diterjunkan oleh ayahnya untuk bergabung dengan PT Chemko Harapan Nusantara. Setelah tiga bulan, Farizan merasa jiwa kewirausahaannya tidak akan berkembang karena perusahaan itu sudah besar. “Istilahnya, dibiarkan saja, perusahaan itu akan jalan sendiri. Saya tidak bisa berkontribusi terlalu banyak di situ. Saya lebih memilih perusahaan kecil saja, artinya lebih baik jadi ‘kepala kucing’ daripada ‘buntut harimau’,” tutur Farizan.

Akhirnya, Farizan memilih bergabung dengan Maya-Ad, perusahaan yang bergerak di bisnis outdoor advertising. Mula-mula Farizan memasang iklan di badan bus Mayasari, kemudian merambah ke bus Transjakarta, dan belakangan masuk ke billboard.

Meski awalnya memasang iklan di badan bus Mayasari, Farizan bertindak secara profesional. Ia mengajukan proposal untuk pemasangan iklan itu kepada ayahnya dan menyewa space di badan bus. Pertumbuhan bisnisnya rata-rat 20% per tahun. Pada 2011, Farizan merasa supply dan demand sudah tidak seimbang. Demand-nya terlalu banyak, tapi supply-nya sudah mulai terbatas,” ungkapnya. Karena itu, pada 2011 Maya-Ad masuk ke busway, kemudian ke Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway Transjakarta.

Farizan sempat menyatakan kepada para manajernya, bahwa Maya-Ad sudah tidak bisa mengandalkan pasang iklan di badan bus. Harus berani coba ke yang lain. “Di tahun 2011 saya main di billboard, bisa dibilang telat dibanding pemain yang lain,” tutur Farizan.

Waktu menggarap iklan di badan bus tidak ada investasi, tetapi sewa space. Sementara di billboard harus investasi, mengurus izin, dan lain-lainnya. “Sampai sekarang saya sudah punya billboard sekitar 20 titik, yang sebagian besar berlokasi di Jawa Barat,” Farizan menambahkan.

Klien pertama Maya-Ad di billboard adalah operator telepon seluler, produsen rokok, dan produsen fast moving consumer goods. Klien iklan di badan bus berbeda dengan di billboard..

Ke depan, Maya-Ad akan mulai beralih ke digital. “Pertumbuhan paling besar sekarang ini ada di industri digital,” ia menerangkan. Karena itu, Maya-Ad pun mulai mengganti dari billboard konvensional ke billboard LED, yang sudah mulai ada teknologi informasinya. “Ke depan, Maya-Ad ini, saya akan main ke digital, hanya saja yang konvensional tetap tidak dilepas,” Farizan menegaskan.

Dalam menjalankan bisnis, Farizan selalu memegang wejangan orang tuanya tentang kejujuran. “Pesan yang selalu ayah saya sampaikan adalah kejujuran. Dia selalu bilang bahwa kejujuran itu yang harus selalu dijaga. Seberepa besar aset yang dimiliki, kalau mau minjem ke bank walau hanya Rp 1 juta tapi kalau sudah tidak dipercaya, tetap tidak akan diterima. Sebaliknya, meskipun tidak punya aset dan mau meminjam sampai ratusan juta, kalau bank sudah percaya pasti akan diberikan,” tutur Farizan.

Sang ayah, Ade Ruhyana Mahpud, menilai langkah bisnis yang dilakukan Farizan sudah sesuai dengan ekspektasinya. “Sampai sekarang masih on the right track, dalam artian masih sesuai dengan yang saya harapkan. Dari sisi pengembangan, dia tertata dan terukur. Ke depan, saya kira juga masih bisa berkembang,” ucap Ade.

Kepada anak-anaknya yang terjun ke bisnis, Ade selalu menekankan untuk bekerja keras, fokus, dan jujur. “Itu yang menurut saya paling penting,” ia menggarisbawahi.

Didin Abidin Masud dan Dadi A. Salim

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)