Franky Welirang: Impor Gandum Terus Membumbung

Presiden RI Jokowi ingin swasembada pangan 3-4 tahun lagi. Tapi, itu hanya untuk komoditas strategis seperti beras, gula, jagung, dan kedelai. Tepung terigu rupanya tak masuk urutan karena memang pemerintah memprioritaskan beras. Padahal, roti, mi instan, yang sudah biasa dihidangkan di atas meja berasal dari gandum. Uniknya, gandum yang dimakan sehari-hari harus diimpor.

“Indonesia adalah importir gandum terbesar, saya lupa kedua atau ketiga. Nomor 1 tetap Mesir. Kedua, sepertinya Sudan, ketiga baru Indonesia. Dulu Jepang yang nomor 3,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang.

Disebut-sebut gandum tidak bisa tumbuh di Tanah Air. Hal ini ditolak mentah-mentah oleh Franky. Gandum bisa ditanam di daerah dengan ketinggian minimal 400 meter di atas laut. Ia menyebut Universitas Satya Wacana yang memiliki benih gandum sudah berhasil menanam di daerah Salatiga. Produksinya bahkan sudah mencapai 3 juta ton.

Memang masih kecil untuk Indonesia yang masih harus mengimpor gandum hingga 7,2 juta ton pada tahun lalu. Namun, ini tentu bisa menjadi pertanda bagus, Indonesia bisa mengurangi impor gandum andai mampu meningkatkan produksinya di dalam negeri. Franky juga menilai menanam gandum jelas lebih menguntungkan ketimbang beras. Satu lagi yang tak kalah penting, yakni lebih menyehatkan.

Protein gandum utuh sangat bagus untuk kesehatan karena mengandung banyak serat ketimbang beras yang diolah menjadi nasi. Prosesnya pun tidak serumit padi yang harus digiling lebih dulu setelah dipanen. Gandum bisa langsung dimasak setelah dipanen. “Pemerintah memang lebih memprioritaskan peningkatan produksi beras ketimbang gandum yang jelas-jelas lebih menyehatkan,” katanya.

Ke depan, ia menjelaskan kalau impor gandum akan terus naik seiring bertambahnya permintaan di dalam negeri dan luar negeri untuk produk olahannya seperti tepung terigu dan mi instan. Ia memerkirakan kenaikannya sekitar 5-7% per tahun. Kenaikan sebesar itu bukan angka yang kecil. Artinya, setiap tiga tahun ada kenaikan 1 juta ton gandum.

Franky Welirang Franky Welirang

“Trennya seperti itu. Industri yang mengolah gandum menjadi terigu juga sudah banyak. Itu belum termasuk mi instan. Hasilnya juga ada yang diekspor. Jumlahnya pun semakin besar. Jadi kebutuhan gandum makin hari akan semakin besar,” katanya.

Angka ekspornya jangan ditanya, bisa mencapai 125 juta USD atau sekitar Rp1,2 triliun. Itulah kenapa banyak pengusaha yang tertarik di bisnis pengolahan gandum. Jumlah pabrik yang terlibat di dalamnya juga semakin banyak. Tahun lalu saja ada 29 pabrik dengan kapasitas produksi 10,3 juta ton, dan 70% diantaranya memproduksi tepung terigu. “Jadi dari impor 7,2 juta ton, 3/4nya diolah menjadi terigu yang digunakan untuk pasar di dalam negeri,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)